"Kamu bisa??"
Dewa terlihat ingin membantu Diandra untuk turun dari mobil. Hari ini Diandra sudah di izinkan pulang karena keadaanya sudah membaik.
"Yang sakit tanganku Dewa, bukan kakiku" Jawab Diandra dengan sedikit kesal.
"Ya siapa tau kamu mau aku gendong"
"Dewa, udah deh nggak usah mulai"
"Iya, iya maaf" Dewa menenteng tas tangan milik Diandra. Berjalan mendahului istrinya itu memasuki rumah besarnya.
Hubungan Dewa dan Diandra kini sudah benar-benar membaik sejak kesepakatan itu. Dewa sudah berubah menjadi pria yang lembut tidak menyeramkan seperti dulu. Tapi itu hanya berlaku di hadapan Diandra saja, tidak untuk yang lain.
"Aku tetap akan tidur di sini Dee. Kita masih suami istri walau kita sudah membuat perjanjian itu. Dan aku mau merasakan menjadi suami yang sesungguhnya sampai anak kita lahir. Tapi aku janji Dee, aku nggak akan sentuh kamu, kecuali kalau kamu mengijinkan"
Ucap Dewa begitu mereka berdua sampai di kamarnya.
Mau tidak mau Diandra tetap harus menerima keputusan Dewa itu. Daripada melihat Dewa kembali ke sifat aslinya. Beberapa hari ini Diandra sudah sangat bersyukur dengan perubahan Dewa itu. Dia tidak laki kasar dan pemaksa, yang ada hanya Dewa yang lembut dan penyayang. Jika dilihat seperti pria yang benar-benar mencintai pasangannya.
"Iyaa"
Diandra menuju ranjangnya, membaringkan tubuhnya yang terasa masih lemas itu.
"Kamu butuh sesuatu??" Dewa membantu Diandra memasang selimutnya.
"Tidak aku hanya ingin tiduran saja. Rasanya masih lemas" Diandra yang lembut seperti inilah yang Dewa harapkan sejak pernikahan mereka. Tapi sayangnya Dewa bisa merasakan kelembutan itu setelah Diandra mengajukan persyaratan yang menyakitkan itu untuknya.
"Kalau gitu, aku tinggal dulu ya. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau butuh apa-apa panggil Ely saja"
"Apa kamu mau kembali ke kota??" Pasalnya jarak rumahnya dengan kantor Dewa yang berada di kota besar amatlah jauh.
Selama ini Diandra baru sadar jika pria di depannya itu harus bolak-balik setiap hari menempuh jarak yang jauh itu.
"Iya, aku tidak lama kok hanya sebentar saja" Justru hanya sebentar itu yang membuat Diandra merasa kasihan pada Dewa. Seperti sia-sia menempuh perjalanan jauh hanya untuk beberapa saat saja di sana.
"Apa sebaiknya kita pindah rumah yang ada di kota saja, biar kamu nggak kejauhan dari sini??"
"Maaf Dee, untuk itu aku belum bisa. Karena ada sesuatu yang memaksaku untuk membawamu tetap tinggal di sini" Ucap Dewa.
"Memangnya kenapa?? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?? Apa kamu sengaja menyembunyikan pernikahan ini?? Termasuk dari orang tua kamu juga??" Hal itu yang selama ini membuat Diandra masih kebingungan.
Dewa duduk di tepi ranjang yang bersebelahan dengan Diandra.
"Aku memang sengaja menyembunyikan pernikahan ini dari semua orang, termasuk Papa dan Mama. Tapi sekali lagi maaf, aku tidak bisa memberitahu alasannya padamu. Yang jelas aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu" Ucap Dewa tampak begitu misterius di mata Diandra.
Dia lupa jika Dewa itu orang yang belum di kenalnya. Jadi wajar saya kalau Diandra sama sekali tidak tau apa alasan Dewa melakukan hal itu.
"Ya sudah kalau gitu, kenapa kamu nggak tinggal di sana saja dulu. Baru setelah hari libur kamu bisa pulang kesini lagi. Biar nggak usah bolak balik, nanti capek"
Dewa begitu berbunga-bunga hanya mendapatkan secuil perhatian itu dari Diandra.
"Aku nggak papa Dee. Kalau aku jauh di sana, terus gimana dong kalau aku kangen sama temanku ini" Dewa mengacak rambut Diandra dengan gemas.
"Ihhh apaan sih, mulai lagi deh. Males ah kalau udah kaya gini" Ucap Diandra dengan wajahnya yang di tekuk.
Dewa justru terkekeh melihat kelucuan Diandra itu. Perempuan itu pasti akan kesal jika Dewa membawa bawa perasaannya ke dalam obrolan mereka. Karena biar bagaimanpun Dewa sudah berjanji jika di antara mereka hanyalah sebatas teman belaka.
"Ya udah aku berangkat dulu ya, tapi aku boleh kan pamit sama anakku dulu??"
Diandra tampak berpikir sejenak sebelum kemudian mengangguk.
Dewa mengambil posisi jongkok agar wajahnya bisa lebih dekat dengan perut Diandra. Calon Ayah itu mendekatkan wajahnya tanpa tangannya berani menyentuh perut Diandra.
"Sayang, Papa kerja dulu ya. Kamu baik-baik di rumah sama Mama. Jangan rewel, jaga Mama baik-baik" Hati Diandra sedikit berdesir mendengar pesan Dewa kepada calon anaknya itu.
Tapi Diandra segera membuang perasaannya itu jauh-jauh. Dia tidak mau terlena dengan sikap baik yang Dewa tunjukkan saat ini. Karena Diandra tidak tau kapan Dewa akan menunjukkan sikap i*lisnya itu lagi.
"Jangan telat makan" Ucap Dewa sebelum dia benar-benar pergi dari kamar itu.
Diandra menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu. Pikirannya saat ini justru penuh dengan Dewa.
"Seandainya saja kamu bersikap lembut seperti itu, pasti banyak yang mau menjadi istrimu Dewa. Kamu punya segalanya, wajah tampan, badan bagus, kekayaan, kekuasaan, bahkan kamu terbilang sempurna sebagai seorang pria. Dan aku seharusnya menjadi wanita paling beruntung yang bisa menikah dengan mu. Tapi aku tidak pernah merasakan keberuntungan itu"
"Kalau melihat sikapmu yang seperti itu, kasar, pemaksa, dan selalu menggunakan kekuasaan mu untuk menindas orang lemah sepertiku. Itu membuatku sangat membencimu. Kamu merampas semua kebahagiaanku. Menyakiti Bryan, menyakiti perasaanku. Itu yang membuatku ingin cepat berpisah darimu. Tapi melihat perubahan sikapmu beberapa hari ini, aku sangat berharap semoga kamu bisa mempertahankannya dengan baik. Aku yakin setelah kita berpisah nanti, kamu akan mendapatkan wanita yang baik. Hiduplah bahagia bersama anak ini"
Bagi Diandra menunggu selama 8 bulan ke depan tidaklah lama jiak di bandingkan seumur hidup harus terjerat pernikahan dengan Dewa. Karena setelah itu Diandra juga akan meraih kebahagiannya kembali bersama Bryan. Pria yang amat dia cintai.
Mewujudkan impian-impian yang sudah dia rangkai bersama Bryan. Membangun rumah tangga yang sederhana namun penuh kebahagiaan. Membuat rumah di pinggir pantai yang akan menjadi tempat dia menua nanti bersama Bryan.
Tapi nyatanya malah Dewa yang sudah mencuri impiannya itu. Walaupun rumah yang ditinggalinya saat ini berada di pinggir pantai, megah dan mewah. Semua itu sama sekali tidak membuat Diandra senang.
Untuk apa rumah sebagus itu jika di dalamnya tidan ada cinta sama sekali. Rumah itu terasa kosong, karena tidak ada kebahagiaan yang mengisinya, tidaka ada kehangatan yang menyelimutinya.
"Tunggu aku sebentar lagi Bryan. Setelah ini aku akan benar-benar lepas darinya. Kita akan hidup bahagia setelah ini" Diandra masih saja berkutat dengan batinnya sendiri.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
nur aini
betul... gc introspeksi dri...
2025-02-19
0
aam
itu mah salahmu sendiri dr awal
2024-10-22
1
ᵇᴇɴɪʰᴄɪɴᴛᴀ❤️ʳᵉᴍʙᴜˡᵃⁿ☪️
hmmm.. ternyata lebih memberatkan pacar daripada calon anaknya..
2023-10-07
6