"Ternyata demi mendapatkan kehidupan yang mewah, seorang selebritis terkenal sampai rela melemparkan tubuhnya ke ranjang pria kaya raya ya??"
Tara sengaja mengucapkan kalimatnya itu saat melihat Diandra datang dari arah berlawanan dengannya.
Walaupun hinaan itu terdengar jelas di telinga Diandra, tapi dia tetap bungkam tak mau menyahuti wanita tidak penting seperti Tara.
Diandra terus melanjutkan langkahnya hingga mereka berdua benar-benar berpapasan. Dan Tara yang tidak bisa mendapatkan ikan dari umpan yang dilemparnya pun mengeluarkan serangan ke dua.
"Hey wanita m*rahan!! Kau tidak sadar kalau Kak Dewa hanya menginginkan tubuhmu saja??"
Tara tersenyum miring saat melihat Diandra menghentikan langkahnya.
Diandra melirik Tara dengan tajam, tangannya sudah terasa amat ringan jika terangkat. Tapi dia hanya mengepalkan tangannya dengan kuat untuk meredam amarahnya itu. Dia diam tapi terus mendapatkan serangan dari Tara. Lama-lama dia tidak tahan.
Bukannya Diandra takut tapi dia hanya malas meladeni masalah seperti itu. Diandra bukanlah wanita lemah yang mudah ditindas. Apalagi hanya menghadapi Tara. Wanita yang terlihat lebih tua darinya itu.
Memperebutkan Dewa bukanlah keinginannya, karena Diandra memang tidak pernah menginginkan Dewa. Tapi kenapa seolah-olah Tara ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah pemilik Dewa yang sebenarnya.
"M*rahan?? Bukankah itu lebih cocok untukmu?? Jelas-jelas Dewa tidak menyukaimu tapi kau terus saja mengejarnya. Yang ada Dewa jadi muak melihat tingkah mu itu"
"Apa kau bi....."
"Ssstttttt....." Diandra menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. Mengisyaratkan Tara untuk menghentikan ucapannya.
"Kalau benar aku melemparkan tubuhku ini ke ranjang Dewa, tapi aku sungguh beruntung karena Dewa mau menyentuhku sampai sudah berkembang benihnya di rahimku" Diandra melirik ke bawah menunjukkan kepada Tara perutnya yang mulai menonjol.
"Sedangkan dirimu, walau kau mati-matian mempertahankan harga dirimu dan kesucian mu itu, tapi tidak akan pernah menarik perhatian Dewa sama sekali"
Tara sudah mengepalkan kedua tangannya, jika dia mau pasti dia sudah menggunakan tangannya itu untuk menyerang Diandra.
"Kau mau tau apa alasannya??" Tanya Diandra dengan wajah yang di buat seolah-olah prihatin kepada keadaan Tara.
Diandra mendekatkan wajahnya ke sisi kiri Tara. Membisikkan sesuatu di sana.
"Karena kau menjijikkan!!"
Diandra tersenyum miring setelah membisikkan tiga kata yang membuat Tara menegang seketika. Dia tau jika Tara pasti sudah sangat merasa terhina dengan ucapannya itu. Tapi Diandra tidak peduli. Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Semua itu karena penghinaan yang Tara lakukan terlebih dahulu.
Diandra menjauhkan wajahnya kembali. Memperhatikan wajah Tara yang sudah terlihat merah padam dengan bibirnya yang mengatup rapat.
"Sadar diri dengan posisimu itu, jangan melewati batas. Dan kondisikan amarahmu, karena aku bisa saja meminta SUAMIKU itu untuk melempar mu keluar dari rumah ini" Diandra sengaja menekan kata suami hanya untuk menegaskan posisinya saat ini.
Diandra pergi meninggalkan Tara dengan senyuman puasnya. Sekali Diandra di sentil, dia akan membalas dengan tamparan yang keras. Jadi jangan pernah mengusik sesuatu yang terlihat tenang seperti air, karena bisa saja sewaktu-waktu menghanyutkan mu.
BRAKKK...
Diandra sengaja menutup pintu itu dengan keras. Dia hanya membayangkan jika di pintu itu ada Tara. Pasti dia sudah kesakitan karena terhantam pintu kayu yang berat itu.
Dengan memejamkan matanya Diandra membaringkan tubuhnya dengan asal ke atas ranjang. Helaan nafas berat keluar dari hidungnya, seolah dia lelah pada suatu hal.
"Kenapa menghela nafas seperti itu?? Kamu terlihat kesal" Suara Dewa membuat Diandra langsung terduduk kembali. Ternyata sejak dia masuk tadi sudah ada seseorang yang duduk di sofa dengan tumpukan kertas di depannya.
"Dan kenapa pintu itu yang jadi korbannya?? Jantungku masih berdetak kencang karena terkejut" Dewa mengusap dadanya.
Diandra meringis merasa malu karena tingkahnya yang bar-bar itu. Diandra tidak menjawab justru mendekati Dewa dan duduk di sampingnya.
"Aku kesal dengan wanita itu" Ucap Diandra setelah beberapa saat pertanyaan Dewa berlalu.
"Tara??"
"Siapa lagi" Diandra mengedikkan bahunya.
"Memangnya dia kenapa?? Dia mengganggumu??" Dewa menghentikan pekerjaannya dan beralih menatap wanita cantik di sampingnya itu.
"Sepertinya dia masih tidak bisa menerima jika kamu menikah dengan wanita lain"
"Apa yang dia katakan kepadamu??" Tanya Dewa lagi.
"Sudahlah aku bisa mengatasinya" Diandra tidak mau di sebut sebagai pengadu domba antara Dewa dan anak dari sahabat Mamanya itu.
"Aku tau itu, karena kamu juga bisa dengan mudah mengatasi ku" Ucap Dewa dengan tawa sumbangnya.
Dan itu sama sekali tidak lucu dan membuat Diandra merasa tersentil.
"Oh ya, kenapa kamu nggak pernah ke kantor?? Kenapa semua kerjaan kamu di bawa ke rumah??"
Diandra sudah ingin menanyakan ini pada Dewa sejak kemarin. Namun baru kali ini tersampaikan sebagai pengalih pembicaraan.
"Aku nggak mau tinggalin kamu sendirian di sini. Aku takut kalau kamu butuh sesuatu dan nggak aku nggak ada di rumah. Terus kalau kamu mau makan yang suapi kamu siapa kalau aku pergi?? Semua pekerjaan bisa kok di kerjakan di rumah. Kalau ada hal yang sangat penting baru aku ke sana" Jelas Dewa.
Diandra terdiam dia tidak mampu menjawab alasan dari suaminya itu.
Dia kira Dewa tidak ingin Diandra kabur darinya sehingga benar-benar menjaga ketat Diandra. Tapi ternyata itulah alasan yang sebenarnya. Bukankah Dewa sangat perhatian bukan, terlepas dari sikapnya yang sempat kasar dan pemaksa. Dewa ternyata sosok yang perhatian dan sangat peduli pada orang yang dicintainya.
"Sebenarnya aku nggak papa kalau mau kamu tinggal. Disini juga ada Ely dan yang lainnya" Ucap Diandra.
"Mereka kerjanya memasak, mencuci dan membereskan rumah. Bukan menjaga dan mengurus mu karena itu tugasku, walau hanya suami sementara tapi ijinkan aku untuk menjadi suami yangs sesungguhnya Diandra" Tatapan mereka saling beradu. Sampai Diandra yang mengaku kalah dengan melepaskan tatapan itu lebih dulu.
Dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Karena dia sempat terpana dengan ketampanan Dewa meski hanya beberapa detik saja.
"Dewa kalau boleh tolong ijinkan aku keluar saat weekend besok??" Diandra sebenarnya takut dengan apa yang akan dia sampaikan. Takut jiwa beringas Dewa keluar lagi.
"Mau kemana, kalau kamu mau jalan-jalan biar aku temani. Kemana pun kamu mau aku akan mengantarmu" Ucap Dewa dengan keseriusannya.
"Sebenarnya, aku ingin bertemu Bryan" Ucap Diandra dengan pelan, takut Dewa akan melahapnya saat itu.
Dewa masih diam, belum juga memberikan jawaban untuk Diandra.
"Kalau kamu nggak kasih ijin juga nggak papa kok. Aku akan di ru___"
"Besok aku antar kamu bertemu dengan kekasihmu itu"
-
-
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
retiijmg retiijmg
dewa bnr2 super sabar. di awal emang kasar n pemaksa. dewa pnya cara sendiri agar diandra bucin ke dewa dg mengabulkan smua mau diandra menemui bryan kekasihnya.
akan indah nanti dewa, sabar ya
2024-12-23
0
Aysana Shanim
Sedih ih jadi dewa
2025-01-24
0
Ibelmizzel
dee perempuan gila
2024-11-03
0