Hari demi hari terus berlalu. Diandra masih menjadi tawanan di rumah itu. Dengan wajahnya yang mulai tirus karena jarang memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Diandra hanya akan makan setelah Dewa mengancamnya dengan berbagai hal termasuk menghancurkan karir Bryan.
Walau terpaksa tetapi Diandra akhirnya mau menyentuh makanan itu meski hanya sedikit. Sementara Dewa, pria itu masih saja bersikap seenaknya kepada Diandra. Hal itu semakin membuat Diandra tidak percaya jika Dewa benar-benar mencintainya.
Bagaimana bisa di sebut itu cinta kalau setiap hari hanya melukai perasaan dan fisik Diandra saja. Bahkan Dewa tidak pernah bersikap lembut sekalipun.
Sudah beberapa hari yang lalu, Dewa membuka pintu kamar Diandra. Entah kerasukan apa dewa membiarkan Diandra utuk keluar dari kamarnya. Meski Diandra tidak di ijinkan keluar tapi setidaknya Diandra bisa menghirup udara segar di taman dan melihat seluruh isi rumah besar itu.
Diandra berjalan menyusuri rumah yang menjadi tempat Desa menyembunyikannya itu. Rumah yang sangat besar kalau hanya di tinggali oleh dua orang.
Diandra membawa kakinya untuk mencari dapur dari rumah itu. Karena dia mencium aroma masakan yang harum, itu berhasil mencuri perhatiannya.
"Siapa yang memasak?" Batin Diandra.
Dari kejauhan, Diandra bisa melihat beberapa orang yang menggunakan pakaian sama sedang sibuk di dapur. Dan salah satu dari orang itu adalah wanita yang menuntunnya saat Diandra akan menikah dengan Dewa waktu itu.
"Selamat pagi Nyonya" Sapa mereka setelah melihat kedatangan Diandra ke dapur itu utuk pertama kalinya setelah hampir satu bulan dia di sana.
"Pagi" Balas Diandra pelan dan agak canggung.
Diandra baru tau jika di dalam rumah ini ada banyak sekali pelayan. Diandra hanya tau satu orang yang selalu memberikan kamarnya.
"Tuan memerintahkan saya memasak semua ini untuk Nyonya, agar Nyonya bisa memilih sendri mana yang ingin Nyonya makan" Ucap pelayan dengan name tag bertuliskan Ely.
"Saya tidak lapar. Katakan padanya untuk tidak usah repot-repot" Diandra kembali berjalan meninggalkan dapur itu.
Moodnya kembali hancur saat mendengar penuturan pelayan tadi. Dewa yang terlihat sok peduli nyatanya terus menyiksanya tiada henti.
Diandra kembali masuk ke dalam kamarnya. Dalam kesendiriannya itu, dia merasakan rindu yang amat dalam kepada Ayah dan Kekasihnya itu.
Diandra terus terkurung di rumah itu tanpa bisa bertemu dengan meraka. Bahkan telepon di rumah itu sengaja di putus oleh Dewa hanya karena tidak ingin Diandra menghubungi Bryan lagi.
Duduk di balkon yang menghadap langsung ke lautan lepas menjadi rutinitas Diandra setiap harinya. Tatapan matanya kosong dan sayu, seakan separuh jiwanya sudah hilang entah kemana.
Kepala Diandra berdenyut begitu kuat, dia sempat merintih memegangi kepalanya yang tiba-tiba saya terasa pusing. Pandangannya mulai berkunang-kunang hingga kegelapan mulai menyapa Diandra.
🌻🌻🌻
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Dewa kepada wanita paruh baya yang mengenakan jas putih itu.
"Setelah saya memeriksanya, Nyonya Diandra saat ini sedang mengandung Tuan. Namun untuk lebih jelasnya lagi silahkan periksakan lebih lanjut pada Dokter spesialis kandungan" Ucap Dokter itu terlihat takut dengan tatapan Dewa yang tajam.
"Mengandung??" Ucap Dewa tak percaya.
"Benar Tuan"
"Baiklah kau bisa pergi, tapi ingat!! Jangan pernah buka mulutmu pada siapapun tentang dia. Jika tidak kau tau sendiri akibatnya!!" Ancam Dewa.
"Saya mengerti Tuan. Saya permisi" Karena rasa takutnya Dokter itu lebih memilih pergi dari sana secepatnya. Dia tidak mau berurusan dengan pria sangat berkuasa itu.
Dewa memegangi dadanya, merasakan sesuatu yang hangat di dalam sana. Dia tidak menyangka akan menjadi seorang Ayah saat ini.
Tadi saat Dewa mendapatkan laporan jika Diandra menolak sarapannya, Dewa langung pergi ke kamar Diandra untuk memaksanya dengan segala ancamannya.
Namun Dewa justru di kejutkan dengan Diandra yang sudah tidak sadarkan diri di balkon kamarnya.
Dewa duduk di tepi ranjang bersebalahan dengan Diandra yang masih memejamkan mata. Tangannya bergerak untuk menyapa calon buah hatinya di dalam perut istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan!!" Diandra seolah punya sensor yang akan memberitahunya jika Dewa berusaha menyentuhnya.
Diandra menghempaskan tangan Dewa yang berada di atas perutnya dengan kasar. Dewa hanya terkekeh pelan.
"Kamu tau Dee. Aku sudah berhasil menanamkan benihku di dalam perutmu" Dewa ingin melihat reaksi Diandra setelah mendengar semua itu dengan menatap lekat pada manik mata Diandra.
"Ap-apa maksudmu??" Bola mata Diandra bergerak tak tenang bertanya dia mulai cemas dengan keadaannya sendiri.
"Kamu sudah tau apa maksudku sayang" Ucap Dewa dengan senyum miringnya.
"Tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak mau. Tidak!!" Gumam Diandra dengan gelengan kepalanya.
Tangan Diandra mencoba memukul perutnya dengan kuat.
"Aku tidak menginginkan anak ini!! Aku tidak mau mengandung anak dari pria b**ingan sepetimu!!"
Dewa menahan tangan Diandra yang terus berusaha menyakiti perutnya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan tenanglah!!" Ucap Dewa dengan geram.
"Lepaskan, aku harus menyingkirkan anak ini!! Aku tidak menginginkan dia, AKU TIDAK MAU!!" Teriak Diandra dengan histeris.
"TENANGLAH ATAU AKU AKAN MENGIKATMU!!" Teriak Dewa di depan wajah Diandra.
Diandra diam mematung seketika, tatapan matanya kosong dan tubuhnya lemas. Diandra ambruk kembali pada ranjangnya.
Air matanya terus menetes meski tidan terdengar suara tangisan sama sekali.
Dewa masih diam di samping Diandra, dia memberikan waktu pada istrinya itu untuk meluapkan segala emosinya dengan menangis.
Setelah beberapa waktu saking terdiam Diandra mengusap air matanya dengan cepat. Lalu berbalik mantap Dewa yang duduk membelakanginya.
"Dewa??" Panggilan pertama dari Diandra untuk Dewa setelah pernikahan mereka.
Dewa yang tampak bahagia itu memutar tubuhnya untuk menatap Diandra yang masih berbaring di ranjang itu.
"Ada apa??" Walau hatinya teramat bahagia tapi tidak mengurangi sikap dinginnya itu.
"Bolehkah aku pergi menemui Ayah?? Aku sangat merindukannya" Ucap Diandra dengan suara yang bergetar.
Dewa masih diam menatap mata Diandra yang masih ingin mengeluarkan air mata itu.
"Aku janji akan kembali ke rumah ini lagi. Aku mohon"
Berlahan Dewa mengangguk, memberikan izin untuk Diandra pulang menemui Ayahnya.
"Tapi pergunakan kepercayaan ku ini dengan baik. Jangan membuat kau murka karena berani membohongiku" Segala ucapan yang keluar dari bibir Dewa hanyalah ancaman dan ancaman saja.
"Aku mengerti"
🌻🌻🌻
Dan untuk pertama kalinya Diandra keluar dari rumah itu tanpa pengawalan ketat dari anak buah Dewa seperti waktu itu.
Dengan langkahnya yang pasti, Diandra menaiki taksi yang sudah di pesannya. Dia memang tidak mau menggunakan mobil milik Dewa yang berjejer rapi di garasi itu. Karena dia tidak mau menarik perhatian orang-orang dengan menggunakan mobil mewah berharga milyaran rupiah yang bukan miliknya sendiri.
Dewa tidak tau jika Diandra pergi keluar dengan maksud tertentu. Tenyata Diandra telah merencanakan sesuatu di balik alibi bertemu dengan Ayahnya itu.
Dan Diandra juga tidak tau jika tindakan yang akan dilakukannya itu akan membuatnya semakin hancur di tangan Dewa.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Sofia
lagian kau jdi perempuan di lembutin malah gk trima, di kasarin malah lebih gk trima , sinting
2024-11-28
0
aam
lha gimana mau bersikap lembut, orang yg mau dilembutin aja bikin darah tinggi. coba kl diandra manut, pasti g kaya gitu ceritany. y kan tor?
2024-10-22
1
Hariati Hariati
diandra bisa gak sih manut aja kalo kamu manut kamu gak akan dikasarin
2024-09-27
0