Hari ini Dewa benar-benar menepati janjinya. Mengantarkan Diandra ke kota untuk menemui kekasihnya. Apa yang kalian rasakan jika ada di posisi Dewa?? Mengantar istri yang dicintainya bertemu dengan pria lain??
Tapi Diandra seolah tidak tau apa yang Dewa rasakan saat ini. Karena di dalam hatinya, dia masih yakin jika Dewa hanya terobsesi saja kepadanya. Lagipula Diandra tidak akan pergi jika memang Dewa tidak mengijinkannya. Tapi saat ini mereka sudah bersiap akan pergi, bahkan Dewa sendiri yang akan mengantarkannya.
"Kalian mah kemana??" Tanya wanita pengganggu itu.
Diandra hanya melirik Tara dengan malas.
"Kau tidak perlu tau!!" Jawab Dewa dengan dingin.
Dewa menarik tangan Diandra agar segera menjauh dari Tara.
"Bolehkah aku ikut??" Tara tiba-tiba menghentikan langkah mereka dengan berdiri di depan Dewa.
"Tidak!!" Jawab Dewa telak tanpa alasan.
Lalu Dewa menyingkir dan membawa Diandra keluar dari rumah itu.
Dan dengan sengaja Diandra menyenggol Tara dengan bahunya, lalu melirik Tara dengan senyum mengejeknya.
"Awas saja kau wanita m*rahan!!" Geram Tara melihat kepergian Diandra dan Dewa.
Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengikuti mereka. Karena semua anak buah Dewa yang ada di sana tidak ada yang mau menuruti perintahnya. Untuk mencari taksi pun pasti di butuhkan waktu lama dan pasti sudah kehilangan jejak mereka.
Sementara itu di dalam mobil, sesekali Diandra melirik ke arah Dewa yang terlihat semakin tampan dengan baju kasualnya itu. Apalagi wajah seriusnya yang melihat lurus ke jalanan dan tangannya yang berjari panjang memegang kemudi mobil membuatnya terlihat begitu menawan.
"Kenapa kamu nggak pakai supir aja, atau Niko??" Tanya Diandra.
"Aku hanya mau berkendara berdua dengan temanku ini" Dewa mengacak gemas rambut Diandra yang tertata rapi itu.
"Jangan dong Dewa, nanti berantakan jadinya" omel Diandra.
"Iya maaf, aku lupa kalau kamu mau kencan" Ucapan tak berarti dari dewa justru mampu membuat Diandra merasa tersindir.
Tapi Diandra tetap yakin jika Dewa tidak merasakan apapun termasuk cemburu.
"Berarti benar kan cintanya yang selalu dia gembor-gemborkan itu hanya obsesi saja. Buktinya dia sama sekali tidak berkata apapun bahkan tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun" Batin Diandra.
Setelah menempuh perjalanan panjang mereka berdua telah tiba di tempat yang di janjikan Bryan. Di depan sebuah kedai penjual aneka kopi yang terkenal di seluruh dunia.
"Dewa, terimakasih ya udah antar aku sampai sini" Ucap Diandra sambil menunggu Bryan yang belum juga datang.
"Iya, memastikan kamu dan anakku selamat itu adalah tugasku"
NYESSS....
Hati Diandra merasakan sesuatu saat Dewa mengatakan itu dengan senyum tipisnya.
"Kalau gitu kamu mau pulang atau...."
"Aku akan pergi dulu, dan menjemputmu disini lagi saat kalian sudah selesai" Potong Dewa.
"Baiklah kalau begitu" Diandra yang melihat Bryan dari kejauhan, mulai menggunakan topi dan maskernya.
Dewa tampak bingung melihat Bryan dan Diandra menggunakan topi dan masker.
"Kenapa kalian harus memakai masker seperti itu?" Heran Dewa.
"Kamu lupa kalau kita bisa saja di sorot kamera paparazi dan menimbulkan berita yang heboh besok pagi??" Dewa seketika tersadar jika yang dia nikahi adalah seorang selebritis.
"Aku lupa soal itu"
"Ya sudah aku pergi dulu, maaf sudah merepotkan mu" Ucap Diandra sebelum benar-benar meninggalkan Dewa sendirian di mobil.
Masih dalam padangan Dewa jika Diandra tampak bahagia dengan langsung memeluk tubuh tinggi Bryan. Namun jika di bandingkan dengan Dewa, Bryan lebih pendek beberapa senti.
"Kamu tidak merepotkan ku Dee, tapi menyakitiku" Gumam Dewa dengan senyuman bodohnya.
Dia sadar jika dirinya itu bodoh karena mau melakukan hal konyol seperti itu. Sudah tau menyakitkan tapi Dewa tetap mengantarkan diandra pada kekasihnya. Ibarat mengembalikan sesuatu yang dia sukai pada pemilik yang sesungguhnya.
🌻🌻🌻
Diandra begitu bahagia bisa melihat Bryan lagi, menggenggam tangannya dan melihat senyumnya yang sangat dia rindukan.
"Setelah ini kita mau apa lagi Didi?? Hari masih sore, masih ada waktu untuk kita berdua sebelum suami sementara kamu itu menjemputmu" Entah kenapa Diandra sedikit tidak suka Bryan menyebut Dewa sebagai suami sementaranya.
"Aku tidak tau, kalau kamu mau apa??" Tanya Diandra setelah mereka berdua keluar dari gedung bioskop.
"Mau makan, aku lapar" Ucap Bryan dengan manja.
"Ya sudah ayo cari tempat makan" Walau Diandra sangat menghindari yang namanya makanan, tapi dia tidak tega untuk menolak Bryan. Dia tidak nau menghancurkan kencan langka mereka kali ini.
Mereka berdua duduk di restoran dalam mall itu juga. Bryan tidak mau membuang banyak waktu untuk mencari tempat makan di luar. Karena akan membuat waktu kebersamaan mereka berkurang.
"Kamu mau makan apa Didi?? Yang seperti biasanya??" Tanya Bryan.
"Iya yang itu saja" Diandra mencoba fokus pada wajah Bryan saja daripada harus melihat sekelilingnya yang sudah penuh makanan di mejanya masing-masing.
Tak berselang lama pesanan mereka datang. Makanan yang biasanya Diandra lahap dengan habis kini menatapnya saja sudah tak berminat. Bau makanan yang menyeruak ke hidung Diandra juga sudah membuatnya mual.
"Kamu kenapa Didi??" Bryan menyadari wajah Diandra yang berubah menjadi pucat.
"Nggak papa, ayo di makan" Diandra memaksa mulutnya untuk menerima makanan yang di ada di hendaknya itu. Tapi saat baru menyentuh bibinya rasa mual itu sudah tidak tertahankan lagi.
"Bryan maaf aku ke toilet dulu" Diandra berjalan tergesa-gesa menuju toilet, ingin segera mengeluarkan isi perutnya itu.
"Hueekk.. Huekk.." Diandra sudah berjongkok di depan closet.
Tubuhnya gemetar, dengan rasa mual yang terus bergejolak di tambah kepalanya yang pusing.
"Dewa, kamu dimana?? Kenapa aku sangat menginginkanmu disini saat ini" Gumam Diandra dengan lemas. Rasanya dia tidak mampu berdiri lagi.
Tok.. Tok.. Tok..
Diandra tidak mempedulikan suara ketukan di bilik toilet yang dia gunakan itu.
"Dee, ini aku. Buka pintunya" Ucap seseorang di luar sana dengan suara yang pelan.
"Dee??" Gumam Diandra.
"Dewa??" Diandra teringat jika hanya Dewa yang memanggilnya seperti itu.
"Iya ini aku" Dengan tubuhnya yang masih berjongkok di lantai, Diandra membuka pintu toiletnya. Rasanya sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.
"Dewa??" Diandra tiba-tiba menangis melihat Dewa berada di hadapannya saat ini. Dewa bak benar-benar Dewa yang bisa datang dimana saja saat ada yang memanggilnya.
"Kamu kenapa?? Mual lagi??" Dewa menutup pintu toilet lalu berjongkok di sebelah Diandra.
"Iya. Hueekk.. Huekk.. Huekk..." Dewa memijat tengkuk Diandra dengan pelan.
Dewa tampak kasihan melihat istrinya seperti itu. Dewa mengambil tisu untuk membersihkan bibir Diandra yang sebenarnya tidak memuntahkan apapun itu.
"Masih mual??" Diandra mengangguk.
Dewa dengan berani membawa Diandra ke dalam dekapannya yang masih dalam posisi jongkok. Dengan terus memberikan usapan lembut pada punggung Diandra.
Diandra tak menolak, justru dia menghisap dalam-dalam bau parfum milik Dewa yang wangi dan membuatnya nayaman itu.
Berangsur rasa mualnya mulai hilang, Diandra tidak menyangka jika Dewa adalah obat paling mujarab untuknya saat ini.
"Kamu kenapa ada di sini??" Tanya Diandra setelah melepaskan pelukannya.
Sementara Dewa membawa Diandra utuk duduk di closet.
"Tadi mau cari makan, terus nggak sengaja lihat kamu" Bohong Dewa karena naytanya dia sedari tadi mengikuti kemanapun Diandra pergi. Takut jiak tiba-tiba terjadi sesuatu pada Diandra. Dan apa yang dia takutkan benar terjadi.
"Mau makan bareng??" Tanya Diandra.
"Tidak, aku tidak mau mengganggu kalian. Segera kembali ke sana, pasti dia sudah mencari mu. Jangan nekat makan kalau kamu nggak bisa" Dewa menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipi Diandra. Tapi itu berhasil membuat Diandra membeku.
Sikap Dewa, perhatian Dewa, juga suara lembutnya yang sekarang dia dengar itu sungguh berbeda jauh dari saat mereka pertama menikah dulu. Mereka seperti dua orang yang berbeda.
"Diandra kau harus sadar, jangan terbawa perasaan dengan perhatiannya ini. Dia melakukan semua semua ini hanya demi anaknya. Ingat dia tidak mencintaimu, dia hanya terobsesi padamu!!" Diandra mencoba membentengi hatinya sendiri.
"Kamu nggak ganggu kok, makan bareng aja yuk. Bryan pas....."
"Didi!!" Panggil Bryan dari luar.
Diandra dan Dewa sempat terkejut dengan datangnya Bryan ke toilet.
"Cepat keluarlah dulu. Jangan sampai dia melihat aku disini. Kamu nggak mau lihat dia marah kan??" Bisik Dewa.
"Tap..."
"Sudahlah!!" Dewa mendorong Diandra untuk membuka pintu, sementara Dewa beralih bersembunyi di balik pintu.
Sebelum Diandra benar-benar keluar dia sempat melirik Dewa sebentar. Dewa membuang wajahnya, tidak mau melihat Diandra. Dan itu sedikit membuat hati Diandra merasakan nyeri.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
Aysana Shanim
Aduuh banyak bawang huaaa 😭😭😭
2025-01-24
0
Tian tika
sakiiitttt nya tuh disiniiiii 😭
2024-11-25
1
Fitry Weroh
sakit bangat ...penngen 😭😭
2024-11-20
0