Kubayar Cicilanmu

Sore hari, menjelang magrib, penagih kredit itu kulkas itu kembali datang. Kali ini mereka ingin mengangkat kulkas tersebut dengan alasan pelanggan tidak membayar tagihan. Meski ini hal yang sangat memalukan, tetapi Kinan tidak mempunyai alasan untukku menghentikan tindakan tersebut. Para tetangga akan melihat kulkas mereka diangkat dan mereka akan menjadi bahan gosipan untuk beberapa hari ke depan. Tapi ya sudahlah, tidak ada yang bisa menghentikan mulut tetangga untuk berghibah.

"Bapak kamu tidak ada titip angsuran atau bagaimana? Satu bulan dulu tidak apa-apa." Penagih tersebut mencoba untuk bernegosiasi.

"Tak ada. Angkat saja, Om."

Terdengar salam dari luar saat Kinan sibuk melepaskan colokan juga mengeluarkan isi kulkas yang hanya berupa es batu.

Kinan yang sudah familiar dengan suara tersebut segera berlari menuju ruang utama. Benar saja, Beni sudah ada di sana.

Ck! Kenapa pria ini sudah datang jam segini sih?

Kinan tidak ingin Beni menyaksikan hal memalukan seperti ini, kulkas ditarik karena tidak mampu membayar.

"Sayang." Seperti biasa, Beni menyapa dengan senyum manis tanpa beban.

"Kok datang?"

Senyum di wajah Beni memudar seketika. Kinan menyadari sikapnya yang kurang sopan, tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak ingin malu di hadapan pria yang baru ia pacari belum genap 24 jam.

"Kok pertanyaannya begitu?" Beni mengusap lehernya karena salah tingkah. Pagi tadi dia sudah tidak disambut dengan baik, sore ini, dia juga harus mengalami serupa.

"Biasanya datang malam." Kinan mencari-cari alasan. "Kamu pulang dulu sana. Nanti datang lagi." Kinan menoleh ke belakang melewati bahunya. Khawatir para penagih itu sudah bersiap mengangkat kulkas mereka.

"Ada apa? Ada masalah?"

Beni sepertinya menyadari gestur tubuhnya yang tidak nyaman.

"Tidak ada masalah. Kinan belum mandi. Kamu juga 'kan?"

"Itu rambut Sayang sudah basah. Handbody citranya juga sudah tercium."

Astaga, dia bahkan hafal bodylation yang digunakan Kinan. Ampun!

Mati aku! Bisa-bisa Beni menganggapku tukang bohong.

"Kamu 'kan belum mandi," Kinan hanya bisa ngeles.

"Sayang ada masalah?"

Kinan menggeleng.

"Kenapa sikapnya aneh begini?"

Ya bagaimana tidak aneh, siapa juga yang mau masalah keluarganya yang serba kekurangan tercium oleh pria yang baru ia kencani beberapa jam yang lalu. Kinan belum tahi sifat asli Beni seperti apa, jadi ia tidak ingin memberikan kesempatan kepada Beni untuk merendahkannya. Bukannya sombong atau malu dengan keadaan mereka, ini namanya tindakan pertahanan diri. Tidak semua hal internal dalam keluarga mesti diketahui orang luar. Ada batasan privasi, benar apa betul?

"Kinan masih ada pekerjaan, tidak bisa menemani kamu. Kamu pulang dulu nanti balik lagi."

"Pekerjaan apa? Kenapa manggil kamu lagi," Beni terlihat mulai kesal. Ia merasa seperti sedang dipermainkan.

Sebelum Kinan sempat menanggapi protes yang dilayangkan Beni, para penagih itu tiba-tiba sudah berada di teras rumah.

"Kulkasnya akan kami angkat, Dek."

Pundaknya lemas seketika. Hal memalukan ini sudah terungkap di hadapan Beni.

"Oh, iya, silakan, Om."

"Ada apa?" Beni kembali bertanya sembari melihat ke dalam rumah. Terlihat tiga orang yang sedang mengangkat kulkas. "Kulkasnya mau di bawa kemana?"

"Dijual," Kinan menjawab asal. "Pulang sana!"

"Kenapa dijual."

"Kamu banyak, ya, pertanyaannya. Bikin kesal saja!"

"Ya, maaf. Abang 'kan cuma bertanya, itu kulkas kenapa dijual?"

Kinan menarik napas panjang, wajahnya masam tidak bersahabat. Ia juga menyesali kebodohannya atas jawabannya. Kenapa ia tidak mengatakan saja bahwa kulkasnya rusak dan perlu diperbaiki.

"Perlu duit."

"Untuk apa?"

"Bayar uang semester."

"Berapa?"

"Bisa diam tidak, benar-benar bikin emosi." Kinan meninggalkan Beni, mendekati orang yang sudah mengangkat kulkas mereka.

"Bang, Bang, tunggu..." Beni menghentikan aktivitas tersebut. "Ini kulkasnya dijual berapa?"

"Apaan sih?" Kinan mendorong Beni agar menjauh.

"Aku bayar lagi uangnya. Kulkasnya balikin lagi ke tempat semula."

"Kamu apa-apaan sih?!" Kinan mulai marah atas sikap Beni. Menurutnya, tindakan Beni hanya akan membuat dirinya semakin malu.

"Tidak usah ikut campur!"

"Ini bukan dijual, Bang." Salah satu penagih itu angkat bicara. "Cicilannya nunggak makanya harus ditarik. Abang mau beli? Ini baru lima bulan pemakaian, masih mulus, Bang." Dia malah promosi.

Kinan kehilangan wajahnya. Ia hanya bisa menunduk malu saat Beni menoleh ke arahnya.

"Nunggak berapa bulan, Bang?"

"Dua bulan masuk ke tiga."

"Berapa?"

"Satu bulan 270 ribu, Bang."

"Total tiga bulan berapa?"

"810 ribu, Bang. Ongkos jemput 10 ribu."

"Ya sudah, aku bayar tiga bulan. Kulkasnya balikin lagi."

Kinan menolak keras, "Tidak, tidak. Jangan dibalikin. Kulkasnya dibawa saja." Kinan melayangkan tatapan tajam ke arah Beni yang sudah mengeluarkan dompet. "Kamu apa-apaan sih? Sudah dibilang tidak usah ikut campur."

"Abang cuma ingin bantu, Sayang." Beni berkata dengan lembut.

"Makasih, mulia sekali dirimu. Tapi ini tidak penting, tidak perlu!"

"Tapi..."

"Udah, Om, bawa saja itu kulkas pembawa masalah. Kami tidak akan sanggup untuk membayar cicilannya ke depan."

Setelah berdebat dengan Beni dan para penagih, akhirnya kulkas tetap dibawa pergi. Kinan tidak ingin menerima kebaikan Beni dalam hal ini.

"Sayang, marah?"

Mereka berdua kini duduk di dalam rumah berhubung sudah magrib.

"Kesal."

"Maaf, ya."

"Kamu pulang sana."

"Sakit lho, Sayang, diusir terus."

"Kamu bikin moodku rusak."

"Abang cuma niat bantu."

"Aku tidak butuh dibantu!"

"Ya ampun, ya sudah, Abang mengaku salah."

Hening. Untuk sejenak keduanya terdiam dan merenung. Tepatnya, Kinan yang merenung. Menerka dan menduga-duga apa yang sedang dipikirkan Beni tentang dirinya, tentang keluarganya. Masa sebatas kulkas cicilannya tidak mampu dibayar. Apakah Beni akan berubah pikiran tentang hubungan mereka ini?

"Abang 'kan sudah pernah bilang, kalau Sayang ada masalah, cerita sama Abang."

"Ya, ya, kamu biasa, ya, menyelesaikan masalah keuangan para mantanmu?"

Beni tersenyum simpul, "Kenapa larinya ke mantan. Ada-ada saja. Ya sudah, Abang sebaiknya pulang dulu. Tenangin pikiran kamu dulu." Beni beranjak dari kursinya.

"Kenapa? Mau kabur karena aku bahas mantan?"

"Yassalam." Beni kembali duduk. Begitulah wanita, jika moodnya sudah rusak, maka yang dilakukan adalah mencari-cari kesalahan pasangannya.

Terpopuler

Comments

R Suryatie

R Suryatie

dlm keadaan bgmnpun perempuan itu slalu benar, ga ada yg mau disalahkan

2023-02-24

0

moemoe

moemoe

😂😂😂hrus kli d sebut merkny,, pasti sasetan jg ni citrany

2023-02-08

0

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

itulah perempuan....😂😂😂

2023-02-06

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!