Penyesalan

Tahlilan di hari ketiga selesai tadi malam. Para kerabat mulai berpamitan pulang. Tangisan mereka sudah hilang, bahkan sudah bisa tertawa dan bergosip. Nasehat yang banjir dengan kata-kata sabar, kuat, membuat Kinan muak mendengarnya. Tidak adakah yang mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Kata sabar mereka tidak berarti apa-apa. Air matanya belum kering sama sekali, hatinya masih bertanya-tanya, benarkan ibunya sudah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.

Ibunya sudah memberi pertanda seminggu sebelum musibah ini datang. Harusnya Kinan lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibunya, meminta maaf sebanyak mungkin bahwa dia bukan anak yang baik, belum bisa membuat ibunya bangga.

"Kinan yang sabar, harus kuat. Jangan menangis terus. Doakan Ibu agar tenang di sana. Doa anak sholeha akan membuat Ibu tenang di bawah sana."

Kinan hanya memandangi wajah Uaknya dengan pandangan hampa. Ia sudah sering mendengar kata-kata itu setiap ada yang meninggal dunia di sekitarnya. Bahkan ia sendiri pun pernah mengucapkan kata-kata itu pada Latifa, teman sekelasnya waktu SMA saat ayah gadis alim itu meninggal dunia. Kini Kinan merasakan bahwa kata-kata itu tidak memiliki efek dan dampak sama sekali. Hatinya masih saja merasakan pilu luar biasa.

"Uak sudah harus pulang, Adikmu Zidan juga harus masih sekolah. Kalau ada apa-apa nanti, hubungi saja Uak, jangan sungkan-sungkan."

Kinan hanya bergeming. Memangnya ia harus merespon seperti apa saat menyadari bahwa itu hanya basa basi yang tidak memiliki arti.

Uaknya menyelipkan beberapa lembar uang berwarna ungu ke tangannya. Hal serupa dilakukan kerabat yang lain hingga saat sore menjelang rumah mereka sudah benar-benar sepi. Hanya ada mereka di sana. Dia dan kedua adiknya. Sementara ayahnya masih meladeni para temannya yang masih datang silih berganti.

Valdi duduk di sudut ruangan sambil menundukkan kepala, bahunya naik turun. Adik laki-lakinya itu sedang menangis. Diantara dirinya dan Vita, mungkin Valdi lah yang paling merasakan dampak kepergian ibunya. Valdi yang sudah duduk di kelas enam SD, selama ini masih tidur dengan ibu mereka.

"Dek, ayo mandi." Kinan harus terlihat kuat di hadapan kedua adiknya. Menyadari posisinya sebagai anak tertua yang otomatis harus menjaga kedua adiknya, mengisi posisi ibu mereka agar kedua adiknya, terutama Valdi tidak merasakan kekosongan dan kehilangan yang begitu mendalam.

Valdi mengangguk, tanpa bersuara ia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi. Kinan segera masuk ke kamar yang ditempati ibunya. Kamar tanpa kasur, hanya ada tikar sebagai alas. Dulu, di kamar itu ada spring bed dengan ukuran yang sangat besar. Kemudian ayahnya mengangkatnya dan dibawa entah kemana. Kini, Kinan menebak bahwa spring bed itu mungkin saja di bawa ke rumah si Rani itu untuk tempat tidur mereka.

Hati Kinan terasa dicabik-cabik mengingat semua rasa sakit yang dialami ibunya. Kebencian pun muncul di relung hatinya kepada ayahnya.

Enam tahun, sudah enam tahun mereka pindah ke kota. Sejak itu, Ibunya tidak pernah menemukan kebahagiaan, tidak juga mendapatkan keadilan. Yang ada, hanya sakit hati berulam jantung. Menyaksikan pengkhianatan ayahnya yang dilakukan secara terang-terangan.

Bisikan setan menyesatkan pun terdengar. Andai Ibu tidak mau rujuk dengan Ayah pasti Ibu masih hidup.

Kenyataannya, di mana pun berada, jika sudah waktunya, ajal pun akan menjemput tanpa kompromi.

Kinan belum mengerti hal itu. Ilmu agamanya juga masih sangat tipis, setipis Paseo yang dibagi dua. Kinan belum mengerti tentang takdir dan ketetapan Allah. Yang ia tahu, masih menyalahkan sekitar dan orang-orang sekitar yang ia saksikan mengabaikan rasa sakit ibunya.

Dalam hal ini, ayahnya dan Rani lah yang menurutnya menyebabkan kematian sang Ibunda tercinta.

Samar-samar terdengar isak tangis, menyadarkan Kinan dari lamunan dan amarahnya. Memiringkan kepala mencari sumber suara. Di sudut kamar di dekat lemari pakaian, Vita duduk sambil menangis memeluk baju yang dipakai ibunya. Baju batik yang seingat Kinan dibeli ibunya dengan cara menyicil di warung depan rumah. Lima ribu satu minggu. Nanti Kinan akan bertanya apakah baju itu sudah lunas atau belum.

Kinan mendekat, baju ibunya sudah sobek, digunting saat melepaskannya. Masih ada sisa darah di sana.

Tanpa berkata apa-apa, Kinan pun ikut duduk, mengambil baju tersebut dari pelukan Vita, lalu menciumnya dengan rakus, menghirup aroma ibunya yang masih tersisa di sana. Ia menangis dan tangisannya semakin menjadi tatkala Vita ikut menangis bersamanya.

Tangisannya mereka berhenti saat melihat Valdi berdiri di pintu kamar. Mengusap air matanya dengan punggung tangan, Kinan beranjak dari tempatnya.

"Valdi sudah selesai? Sudah pakai sabun dan sampo belum?" Kinan mengambil handuk yang menggantung di balik pintu kamar.

"Sudah sikat gigi, belum?"

"Sudah."

"Pintar. Valdi keringkan rambut dulu, Kakak akan mengambil baju Valdi, habis itu kita akan makan."

Sembari membantu Valdi mengenakan pakaian, Kinan meminta Vita agar membasuh wajah.

Saat mereka makan malam dalam diam, Ayah mereka masuk dan duduk memperhatikan. Kinan melirik wajah ayahnya yang terlihat sayu. Kesedihan masih terpancar jelas. Kemana keangkuhannya selama ini? Keangkuhan yang selalu mengabaikan Ibunya. Mengapa ayahnya terlihat begitu terpukul? Bukankah ibunya tidak cukup berarti bagi ayahnya? Menyakiti, selalu itu dilakukan ayahnya selama ini. Apakah arti ibunya baru terasa setelah ibunya pergi untuk selamanya? Kinan sering mendengar hal itu dan sepertinya kalimat itu benar adanya.

Inikah yang namanya bentuk penyesalan? Jika demikian, sudahkah ayahnya meminta maaf sebelum ibunya menghembuskan napas terakhir?

"Valdi sudah selesai. Valdi tidur di mana?" manik adik kecilnya itu berkaca-kaca, menatap ayah dan kedua kakaknya silih berganti.

"Valdi mau sama Ibu. Tidak bisa tidur tanpa Ibu."

"Valdi tidur bersama Kak Kinan dan Kak Vita." Kinan mendekati adiknya dan segera membawanya ke kamar yang ia tempati bersama Vita.

Tidak berapa lama Vita menyusul.

"Ayah mana?"

"Di ruang tamu." Vita masuk ke balik selimut dan langsung memunggungi Kinan, artinya gadis itu tidak ingin berbicara lagi. Memangnya apa yang akan mereka bicarakan. Baik Kinan atau pun Vita masih sibuk menenangkan hati, mencoba menerima kenyataan pahit bahwa seseorang yang memperjuangkan mereka mati-matian sudah tiada. Apalagi yang lebih menyakitkan dari kenyataan bahwa salah satu jalan menuju surga kita sudah pergi disaat kita belum melakukan apa-apa untuknya dan belum bisa membuatnya tersenyum karena bangga.

Sekarang hanya kata andai yang tersisa. Andai aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu? Andai aku memotong kuku Ibu setiap hari. Andai aku lebih bisa memahami apa yang dirasakan Ibu. Andai... Andai... dan andai, andai yang tidak memiliki arti.

Kinan menelan ludahnya susah payah. Hatinya berdenyut nyeri mengingat kenangan bersama ibunya yang ternyata sangat sedikit. Dengkuran halus menarik perhatiannya. Setelah dua jam berlalu, Valdi akhirnya tertidur. Bulir air mata masih keluar dari sudut mata adiknya.

Kinan mengusapnya secara perlahan, melihat jam dinding yang menunjuk ke angka 10. Apakah ayahnya sudah pergi tanpa berpamitan? Selama ini, ayahnya tidur di rumah lacurnya. Jadi, Kinan tidak akan heran jika ayahnya pergi malam ini juga.

Perlahan, Kinan bergerak turun dari atas ranjang. Ia harus mengunci pintu. Kinan tercenung di ambang pintu menemukan ayahnya yang menangis.

"Kinan." Segera ayahnya mengusap air matanya. "Kamu belum tidur?"

"Kupikir Ayah sudah pergi. Kinan ingin memeriksa pintu."

"Kamu tidur saja. Nanti ayah yang akan mengunci pintu."

"Ayah tidak pergi?"

Ayahnya hanya diam kemudian menggelengkan kepala.

Kinan mengira ayahnya akan tinggal di rumah bersama mereka hanya dalam hitungan minggu. Ternyata, satu tahun berlalu, ayahnya tetap tinggal bersama mereka. Tidak pernah tidur ke rumah lacurnya lagi.

Terpopuler

Comments

Reksa Nanta

Reksa Nanta

paseo dibagi dua itu masih agak tebal dibanding tisu gambar panda yang dibagi dua. 😅

2024-03-31

0

💖💖 nufus 💋💋💋

💖💖 nufus 💋💋💋

ya allaah bang..km bikin aq mewek jd berasa kangen ibuku..3th ibuku sdh pergi dan ayahku sdh dpt pengganti ibu..rasanya hidup spt hilang arah..walau org tua tinggal 1 tp hampa rasanya..alfatihah untuk almh ibuku tercinta..😭😭😭

2023-02-17

0

moemoe

moemoe

Agghhhj aku nangiis tengaaah malam. Real bgt ni,,, ingat beratny pas ayah pergi kmi masih kecil2.

2023-02-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!