Tetangga Anak Kost

Nasib baik bagi Nuri, dosen mata kuliah tidak ada yang hadir. Nuri bisa melanjutkan acara curhatnya bersama Kinan.

"Hai," Nuri menyapa dua sahabat Kinan. Novi dan Bintang. Novi non muslim, tapi bisa berteman baik dengan Kinan dan Bintang. Mereka bertiga selalu bersama di kampus. Jika satu tidak hadir, maka yang lainnya juga akan ikut bolos kuliah.

"Hai," sahut keduanya sambil menarik kursi masing-masing. Bintang dan Novi memang lumayan sering bertemu dengan Nuri di rumah Kinan.

"Novi, Bintang, aku dan Nuri langsung cabut, ya."

"Kenapa buru-buru?" Bintang mencomot satu gorengan dan langsung melahapnya dalam dua kali gigitan.

"Cucian kutinggal tadi."

"Baiklah, bye...." Novi melambaikan tangannya.

"Kukira setelah punya teman baru, kamu akan lupa padaku," Nuri memeluk Kinan dengan gemas. Memang begitulah sejatinya drama persahabatan, ketika sahabat bermain dengan sahabat lainnya, entah kenapa ada rasa cemburu yang mengusik. Mungkin itulah yang dirasakan Nuri. "Terima kasih, Kinanku sayang, ternyata kamu tidak mencampakkanku."

"Tidak usah drama."

"Anyway busway, tadi aku sempat melihat di depan warnet, banyak wajah-wajah baru. Anak kostmu ya?"

"Bukan. Mereka anak kost baru di rumah kontrakan si Taufik. Teman satu kamarnya Ardi."

Ardi, anak kost tampan yang berasal dari luar kota. Berteman baik dengan Kinan. Pria pertama yang menjadi temannya dan yang berhasil membuat Kinan jatuh hati. Wajah Ardi mirip aktor tampan kawakan Atalarik Syah versi muda. Tahun lalu, Kinan pertama kali melihatnya saat Ardi hendak berangkat sholat jumat. Wanginya itu lho, membuat Kinan hampir jungkir balik. Sampai detik ini, Kinan belum tahu parfum apa yang digunakan Ardi. Dan kharisma laki-laki selalu meningkat 100 kali lipat setiap pergi menuju mesjid untuk melaksanakan sholat jumat. Benar tidak? Itulah yang membuat Kinan terpesona pada Ardi.

"Wuih, matamu segar dong setiap pagi." Pasalnya, jendela kamar Kinan langsung menghadap ke arah rumah kost yang ditempati Ardi dan teman-temannya.

"Mataku segar kalau disambut senyuman mautnya si Ardi."

"Kenapa kamu tidak mencoba untuk tembak saja si Ardi. Suka greget aku melihat kalian berdua."

"Ditembak, mati dong si Ardi."

Nuri berdecak kesal mendengar jawaban nyeleneh Kinan.

"Aku malu. Masa cewe yang menyatakan cinta."

"Emansipasi wanita."

"Taik kucing."

"Menurut penerawanganku ya, Ki, Ardi juga suka sama kamu. Lihat saja cara dia menatapmu. Aduuh, membuatku meleleh."

"Tetap saja tidak mungkin aku yang menyatakan cinta."

"Bagaimana jika aku yang mengatakannya. Ibarat jadi mak comblang."

"Jangan, ah! Malu."

"Ya sudah, pendam saja terus perasaanmu hingga karatan. Terus, kamu sudah kenalan belum sama anak baru itu?"

"Anak baru siapa?"

"Anak kost yang nongkrong depan warnet."

"Belum."

"Kenapa?"

"Nakal."

"Nakal gimana? Duh, aku suka yang nakal." Nuri cengengesan saat Kinan melotot kesal.

"Namanya Faldy kalau tidak salah, yang bencong namanya Putra, satu ruangan sama Ardi."

"Tuh tahu namanya."

"Ardi yang cerita, kampret."

"Nanti aku mau kenalan, akhh...."

"Faldy benaran nakal, Nuri. Aku selalu disiulin sama dia setiap kami berpapasan."

"Suka kali dia sama dirimu. Aku ajak kenalan, ya."

"Terserah."

Mereka pun sampai di gang rumah Kinan. Di ujung gang, sudah terlihat Ardi dan teman-teman kostnya berkumpul bersama. Rumah Kinan dan rumah kost tersebut tetanggaan. Tidak ada jarak selain tanah kosong milik keluarga Kinan yang dikebuni oleh saudari almarhumah neneknya.

"Ardiii...." Nuri melambaikan tangan sembari berlari menghampiri pria itu dan teman-temannya. Kinan hanya bisa menghela napas dan mengikuti Nuri.

"Ardi, apa kabar?" Nuri melingkarkan tangannya di lengan pria tampan itu. Ardi memiliki kulit putih cerah untuk ukuran pria. Cara berpakaiannya selalu rapi. Ardi suka mengenakan kaos berwarna putih, membuat kadar ketampanannya semakin menjadi. Rambutnya selalu disisir rapi dan wanginya senantiasa semerbak. Aduh, jantung Kinan selalu tidak aman jika berada di sisi pria itu.

"Baik. Nuri apa kabar?" Ardi memiringkan kepala, tersenyum manis pada Kinan yang langsung membalas senyuman pria idamannya itu.

"Buruk, aku lagi patah hati. Cowokku selingkuh, kenalin temanmu dong, siapa tahu cocok untuk mengobati lukaku."

Lihatlah, betapa pintarnya Nuri memanfaatkan keadaan dan menguasai situasi sekitar. Kinan tidak akan mampu bersikap seperti itu. Bisa kencing berdiri dia.

"Nih, teman-teman aku banyak. Coba kamu ajak kenalan." Ardi menunjuk Fadly dan beberapa laki-laki yang duduk di sana. Ada sekitar 3 orang yang tidak Kinan tahu namanya.

"Hai," Nuri menyapa dengan manis. Dan dalam sekejap, ia sudah berbaur dengan keempat pria itu. See, gadis yang humble, bukan?

"Tumben cepat pulang?" Ardi mendekati Kinan. "Masih jam 14.30."

"Dosennya tidak datang."

"Oh..."

"Hmm..."

"Sudah makan?"

"Kenapa? Mau traktir?"

"Boleh. Mau makan apa?"

"Bakso, boleh?"

"Boleh."

"Baru dapat kiriman, ya?" Goda Kinan.

"Kok tahu..." Ardi tersipu malu.

"Cuma nebak. Kapan?"

"Kapan apanya?"

"Makan baksonya lah, Di."

"Oh, nanti, habis magrib. Pakai motor Pak Mus, ya."

"Hooh. Memangnya pakai motor siapa lagi."

Sementara Kinan dan Ardi berbincang sambil bergurau, pria yang bernama Faldy memperhatikan mereka dengan seksama. Sesekali manik Kinan dan Fadly beradu. Fadly akan menyunggingkan senyumannya yang nakal dengan kerlingan mata genit, sementara Kinan akan mendengus memalingkan wajah.

"Yaudah, Kinan ke rumah dulu, mau mencuci."

"Oke. Nanti Ardi hubungi, ya."

"Oke. Nuri, aku ke rumah, ya, nanti langsung masuk saja."

"Kenapa buru-buru, Dek. Belum juga malam."

Fadly menyeletuk masih dengan seringaiannya yang nakal. Jika dibandingkan dengan Ardi, jelas Ardi jauh lebih tampan. Fadly memiliki wajah bulat, lesung pipi kiri yang terlihat samar. Rambutnya plontos, kulitnya kecoklatan, khas kulit pria pada umumnya. Matanya bagaikan kucing garong yang selalu mengintai mangsanya di mana pun berada. Fadly tidak bisa dikategorikan sebagai pria tampan, jatuhnya fitnah. Hanya saja, ada hal menarik dari pria itu yang membuat para gadis merasa tidak aman. Itulah yang dirasakan Kinan.

"Masa harus menunggu malam dulu baru pulang." Kinan memasang wajah tidak ramah.

"Ya ampun, sensi amat jawabnya. Rumahnya 'kan dekat. Cukup lima langkah."

"Lalu?"

"Pulangnya nanti saja."

"Kok kamu yang ngatur?"

"Lagi dapet ya, Dek?" Fadly cengengesan diiringi tawa yang lain. Sementara Ardi terlihat menahan senyumnya.

"Apa urusanmu?"

"Siapa tahu pembalut di rumah habis. Abang mau beliin. Sebut merek saja. Yang biasa atau yang bersayap."

"Mesum!" Kinan melongos pergi. Tidak terbiasa menerima gurauan seperti itu membuatnya malu. Wajahnya yang putih terlihat memerah.

"Memang tidak salah aku tidak menyukainya. Si botak itu memang rada-rada tidak waras. Awas saja si Nuri kalau mau berteman dengan pria itu," Kinan menggerutu dan menyelonong masuk ke dalam rumahnya.

Terpopuler

Comments

Kenny sihyanti

Kenny sihyanti

Kinan jan jutek² Napa neng !

2023-01-30

0

🔵🍃⃝⃟𝟰🫦•𓆩𝐃𝐄𝐒𝐒𓆪♐𝐀⃝🥀

🔵🍃⃝⃟𝟰🫦•𓆩𝐃𝐄𝐒𝐒𓆪♐𝐀⃝🥀

Ilham drmna nih 🤣

2023-01-29

0

♥️💕 MomSha 🌹🌹💕❤️

♥️💕 MomSha 🌹🌹💕❤️

masa-masanya ya seumuran gitu keceng-kecengan.😁

2023-01-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!