Di tengah menikmati mie ayam komplit, ponsel Kinan bergetar di atas meja. Tidak menunggu lama, Kinan langsung membuka isi pesan tersebut. CM dari Nuri. Spontan Kinan memutar bola matanya.
"Dasar pengganggu!"
"Siapa?" tanya Ardi dengan tatapan geli melihat tingkah Kinan.
"CM dari Nuri."
"Telepon dong, siapa tahu penting."
"Ogah, dia pasti sengaja cuma untuk mengganggu kita."
"Ya sudah, lanjut makan saja."
Baru saja Kinan hendak memasukkan sendok ke dalam mulut, ponselnya kembali bergetar. CM lagi dari Nuri. Benar-benar menyebalkan.
"Nuri lagi?" Tebak Ardi.
Kinan menganggukkan kepala. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam.
"Coba Kinan hubungi, siapa tahu penting." Kembali Ardi memberikan saran.
"Kenapa dia belum tidur."
"Ardi dan Kinan juga belum tidur, masih di luar makan bakso. Kinan punya pulsa?"
"Ada, sisa 2000."
"Pakai ponsel Ardi kalau begitu." Ardi menyerahkan ponsel nokia berbentuk daun yang ada kameranya. Kamera asli yang memang bisa mengambil foto. Bukan kamera palsu seperti cassing miliknya. Ya, zaman dulu cassing hape bisa diganti-ganti. Banyak model dan warnanya.
Kinan ragu untuk mengambil ponsel tersebut karena tidak yakin bisa menggunakannya.
"Ardi punya nomor Nuri?"
"Tidak."
"Caba Ardi tambahkan ke ponsel Ardi."
"Oke,"
Kinan menyebut nomor temannya itu satu persatu. Ardi pun langsung menghubungi nomor tersebut.
"Halo," suara Nuri terdengar serak. "Siapa?"
"Ardi."
"ARDIIII.... KINAN MANA?!" Nuri menjerit sambil menangis. "Nenekku meninggal, Ardi. Bawa Kinan kemari!!"
Kinan dan Ardi kompak melongo kemudian terbatuk-batuk.
"Innalillah, yang sabar, ya, Nuri."
"Bawa Kinan kemari."
"Iya, iya, nanti Ardi bawa kesana."
"Sekarang!"
"Oke, kami datang habis makan bakso."
"Cepatan!!" Nuri pun memutuskan sambungan telepon.
"Nenek si Nuri meninggal." Ardi mengumumkan meski Kinan sudah mendengarnya. "Habiskan mie-mu biar kita kesana."
Kinan menganggukkan kepala dan langsung memakan cepat makanannya begitu juga Ardi.
Selesai makan, Ardi langsung berdiri untuk membayar. Kemudian menuju rumah Nuri tanpa mengganti pakaian mereka. Benar-benar dah. 10 menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Nuri. Terlihat Nuri sedang berbincang dengan Ana dan beberapa anak gadis lainnya. Kinan mengenal semuanya.
"Nurii..." Kinan turun dari boncengan dan langsung berlari menuju Nuri. Keduanya berpelukan erat. Nuri menangis histeris sementra Kinan sudah memaksa air matanya keluar tetapi tetap tidak bisa keluar sama sekali. Payah!
"Yang sabar, ya, Nuri. Ikhlaskan. Jangan lupa doakan Nenek biar tenang di alamnya. Sekarang Nenek sudah tidak sakit lagi." Kalimat yang sering ia dengar pun ia kutip dan diucapkan kepada sang sahabat.
"Makasih, Kinan." Nuri mengurai pelukannya, menarik ujung jilbabnya untuk membersihkan jejak air mata dan air hidungnya.
"Ayo, ajak Ardi masuk. Mayitnya di taruh di rumah sebelah. Kita di sini saja."
"Iya, pakaianku dan Ardi tidak layak."
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Di sana banyak para sepupu Nuri juga tetangganya yang seumuran dengan mereka. Hanya Ardi satu-satunya pria yang ada di sana, sontak menarik perhatian semuanya. Ardi memang setampan itu, Men!
"Kak Nuri, itu pacar Kak Kinan?"
"Hmm," Nuri hanya bergumam memberikan jawaban.
"Ganteng amat." Terdengar celetukan yang lain.
"Iya, bening pula. Wajahku kalah cerah."
"Giginya rapi. Tampan nian. Duh, aduh, pacar orang memang sangat menggoda."
"Serius, Nuri, itu pacar si Kinan?" kali ini Ana yang bertanya untuk memastikan. Ajang melayat ini pun akhirnya di isi dengan kekepoan mereka pada sosok Ardi. Ana dan teman-temannya tidak percaya dan tidak menyangka jika seorang Kinan memiliki kekasih yang sangat menawan. Ya, Kinan memang tidak secantik dan semodis mereka. Dan yang terpenting, sebelumnya Kinan tidak pernah terlihat bersama seorang laki-laki. Sekalinya muncul bersama cowok, eh, cowoknya langsung menjadi pusat perhatian.
"Kalau iya, kenapa? Mau kau embat juga? Ardi tidak doyan gadis liar," ucap Nuri dengan sengit sekalian meluapkan kemarahannya pada Ana yang sudah merebut Rian darinya.
"Hallah!" Anna mendorong bahu Nuri dengan sedikit kasar.
Sementara Kinan dan Ardi duduk di seberang ruangan. Ardi melepaskan hodie yang ia kenakan dan memberikannya untuk Kinan. Ternyata dia mengenakan kaos biru polos di balik hodienya.
"Kok dibuka?"
"Katanya dingin. Kinan pakai saja."
"Ardi juga pasti kedinginan. Celana kamu mana pendek lagi."
"Tidak apa-apa. Ardi kuat dingin." Ardi memasangkan hodienya ke Kinan. Tindakannya itu langsung mendapat pekikan tertahan secara serentak dari orang-orang yang ada di ruangan tersebut.
"Hangat?"
"Lumayan," Kinan berbisik malu. Ia yakin wajahnya sudah merah layaknya kepiting rebus. Jantungnya sudah hampir melompat keluar dari peraduannya. Aroma tubuh Ardi melekat di tubuhnya. Perlakuan Ardi di depan gadis-gadis yang mencoba menarik perhatian laki-laki itu membuatnya melambung. Ardi tidak melirik mereka sama sekali.
"Sini tangannya," Ardi mengulurkan tangan. Kinan meragu untuk menyambut. Tapi akhirnya menyambut. Pertama kalinya ia bergenggaman dengan seorang pria. Demi apa pun, Kinan hampir saja menjerit. Pantas saja Nuri steres kalau putus pacaran, ternyata gambaran pacaran itu seperti ini. Batin Kinan.
"Kinan sudah telepon Bapak? Nanti dikira anak gadisnya dibawa kawin lari lagi."
"Sudah. Tadi Kinan sudah kirim pesan sama Vita."
"Omong-omong, kita melayat atau merumpi?" Ardi berbisik di telinga Kinan dengan nada geli.
"Entah. Mayitnya ada di rumah Tante Eva. Empat rumah dari sini."
"Terus, kita cuma begini?"
"Memangnya ngapain lagi?"
"Tidak ada ngaji."
"Kinan tidak tahu. Tanya Nuri saja."
Alhasil, acara melayat itu hanya ajang berkumpul dan berbagi gosip bagi para anak muda tersebut. Ana dan teman-temannya juga para sepupu Nuri mengajak Ardi berkenalan. Ardi tidak melepaskan genggaman tangan mereka sama sekali dan tidak membagi nomor ponselnya saat ada yang secara terang-terangan meminta. Ardi memperlakukan Kinan sangat spesial, seperti seorang kekasih.
"Bang Ardi pacarnya Kak Kinan, ya?" salah satu adik sepupu Nuri tidak tahan menanggung rasa penasarannya.
"Anak kecil sudah ngomong pacaran. Belajar yang benar dulu." Ardi menimpali dengan santai.
"Dewi bukan anak kecil, Bang. Dewi sudah pakai seragam putih abu-abu."
"Nah, belajar dulu."
"Punya pacar juga bikin tambah semangat belajarnya. Apalagi pacarnya ganteng macam Bang Ardi."
"Gombal kamu."
"Aku mana bisa gombal, Bang. Apa adanya aku. Bang Ardi ambil jurusan sastra Inggris ya."
"Iya."
"Bahasa Inggris aku suka kamu, apa Bang?"
Ardi tertawa mendengar akal-akalan gadis ABG itu, "Abang belum sampai pada tahap itu. Coba kamu tanya Nuri. Nuri juga kan ambil sastra Inggris."
"Aku tanya sama Abang, bukan Kak Nuri."
"Abang masih belajar, nanti Abang kasih tahu jika sudah tahu. Kinan haus?" Ardi mengalihkan pembicaraan dengan mengembalikan fokusnya pada Kinan yang hanya diam. Kinan memang bukan orang yang mudah berbaur sekali pun ia kenal dengan orang-orang di sana. Ada keraguan tersendiri untuk menimbrung. Khawatir jika celetukannya garing dan tidak menyambung dengan pembahasan yang ada.
"Atau kita sudah bisa pulang. Ini sudah jam 11." Jam malam yang diberikan ayahnya sama mereka hanya sampai jam 21.30. Berhubung karena ada alasan melayat, Pak Mus memberi izin.
Kinan mengangguk setuju. "Kita pamit sama Nuri dulu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
🤣🤣🤣🤣🤣
pacar orang ganteng, pacar sendiri ❌
2023-02-06
0
Kenny sihyanti
Kinan ga bisa di paksa nangis...
Kinan menjadi gadis yg keras karena keadaan dan itu pasti berpengaruh karena keadaan nya saat ini...
2023-02-01
0
R Suryatie
hati2 Kinan nnti cowokmu ada yg ngembat
2023-01-29
0