Kencan

"Ternyata Bang Fadly orangnya seru juga, Kinan." Kalimat pertama yang tercetus dari mulut Nuri begitu gadis hitam manis itu menyusul Kinan di kamar mandi. Nuri langsung menanggalkan celana jeansnya dan menggantinya dengan sarung, pun ia membantu Kinan membilas pakaian.

"Oh ya?"

"Ya, ramah, lucu dan enak diajak ngobrol."

"Oh."

"Hati-hati kamu."

"Maksudmu?"

"Benci sama cinta itu beda tipis. Lebih tipis dari kulit bawang merah."

Kinan mencibik, "Si botak itu bukan tipeku, bukan seleraku." Kinan berlagak seakan ia gadis menarik yang mudah merebut perhatian seseorang.

"Yang gemuk besar seukuran kingkong, namannya Candra. Namanya keren tidak sesuai dengan penampakan fisiknya."

"Istighfar kamu!" Kinan menyipratkan air cucian ke wajah Nuri dengan ekspresi geli. Diam-diam dia menyetujui apa yang dikatakan Nuri. Ia memang baru tahu jika si gemuk yang sering ia lihat bersama Fadly namanya Candra. Menurut Kinan, Candra bahkan lebih besar dari kingkong.

"Ya Allah, maafkan hambamMu."

"Istighfar, Nuri."

"Ya itu istighfar, aku baca artinya, Kinan. Hayo, kamu tidak tahu ya arti dari lafadz istighfar?"

"Pintar kamu ya."

"Aku tidak sengaja dengar ceramah. Yang tinggi dengan bibir penuh yang seiras, bulu mata lentik itu namanya Haris. Haris ini penyiar radio di kampungnya. Keren ya, Kinan."

"Oh, jadi namanya Haris. Aku sering melihat Ardi pergi bersamanya. Yang hitam manis sedikit pendek, namanya siapa?"

Nuri tampak berpikir, mencoba mengingat-ingat. Kemudian temannya itu menjentikkan jari. "Nah, dia aku tidak ingat namanya. Siapa ya?"

"Astaga!"

"Sepertinya dia tidak memiliki kelebihan. Aku jadi lupa."

"Memangnya si Candra itu apa kelebihannya?"

Nuri terkikik geli, malu sendiri dengan sikapnya. "Kamu tahu?"

"Tidak," Kinan menggelengkan kepala.

"Biar aku kasih tahu, ya."

"Hmm."

"Kawasaki ninja double R itu miliknya. Oh my God!!! Aku selalu membayangkan dibonceng naik moge. Bokongku pasti terlihat indah di atas boncengan."

Kinan tidak terkejut mendengar penuturan Nuri. Jelas sekali jika ia sudah sangat mengenal sahabatnya itu. Bagi Nuri, jika tampang tidak bisa diandalkan, setidaknya dompet bisa menyenangkan. Tidak masalah wajah di bawah standar asal dompetnya tebal. Melihat Nuri yang mengetahui keinginan diri sendiri, Kinan suka bingung memikirkan seperti apa pria yang ia inginkan? Yang jelas bukan seperti ayahnya yang tampan tapi tidak bertanggungjawab.

"Jadi kau sudah menemukan penawar atas sakit hatimu terhadap Ana dan Rian?"

Nuri berdecak, wajahnya masam seketika. "Kau merusak moodku." Detik selanjutnya, wajahnya berbinar kembali. "Tapi sepertinya Candra berasal dari keluarga tersohor."

"Hanya karena dia memiliki ninja double R?"

"LIhat saja perawakannya, lemaknya banyak, menumpuk dimana-mana."

"Lemakku juga menumpuk dimana-mana, tapi taraf hidup kami hampir berada di bawah garis kemiskinan."

"Lebay!"

Apa yang dikatakan Kinan tentang kehidupan mereka bukan omongan semata. Andai Kakeknya tidak meninggalkan warisan tanah yang lumayan banyak untuk anak-anaknya, mungkin Kinan dan adik-adiknya sudah terkatung-katung di luar sana. Tidak ada rumah dan tidak ada yang peduli.

Nasib baik, sebelum ibunya meninggal, berhasil membujuk ayahnya untuk membangun rumah sederhana yang kini dijadikan rumah kost.

"Nanti aku mau jalan sama Ardi."

"Aku ditinggal lagi?"

"Kamu pulang sana."

"Ceritanya aku diusir?"

"Ya masa kita bonceng tiga?"

"Tidak ada salahnya. Nanti kamu di tengah, aku diujung. Kan enak dempet-dempetan sama Crush sendiri."

"Ganjen! Kamu pulang saja. Ardi mau traktir makan bakso. Uangnya mungkin tidak cukup jika harus bayar kita berdua."

"Ish, pelit."

Dan akhirnya Nuri pun pulang diantar Vita naik motor. Sementara Kinan lagi bersiap-siap di kamar sibuk menata rambutnya entah mau dibuat seperti apa untuk menutupi pipinya yang lumayan chubby. Model rambutnya tidak mendukung sama sekali. Model rambut yang lagi hits pada zaman itu. Tipis di bawah tebal di atas. Shaggy trap atau shaggy bob, Kinan lupa namanya. Modelnya benar-benar tidak cocok dengan bentuk wajahnya. Sialan si tukang salon yang mengatakan hasilnya akan bagus di wajahnya. Dasar penipu!

Saat melihat Kinan turun dari angkot dengan rambut barunya yang salah pangkas, kebetulan sekali Fadly lewat dan pria botak itu menyeletuk. "Dek Kinan, rambutnya lucu, seperti jengger ayam."

"Duh, ini rambut bikin masalah." Kinan mengembuskan napas hingga poni di dahinya terangkat ke atas. Ciri khas Kinan, selalu memiliki poni.

Pasrah dengan rambutnya, Kinan mengeluarkan alan tempurnya yang seadanya. Pelembab sariayu, Two way cake pixy yang refill. Kinan melirik lip ice ponds yang ia beli seharga lima ribu rupiah, belum pernah ia gunakan karena tidak pede.

"Apa sebaiknya kugunakan ya biar bibirku sedikit berwarna." Dasarnya, bentuk bibir Kinan sangat sensual. Atas bawah sedikit tebal berwarna pink muda dan tidak kering sama sekali. Selalu basah.

Kinan menggeleng, ia belum memiliki keberanian untuk menggunakan benda tersebut.

Ponselnya bergetar disusul bunyi melengking tanda SMS masuk. Kinan buru-buru meraih ponselnya.

💬 Ardi sudah di teras rumah.

Tanpa membalas pesan tersebut, Kinan berlari keluar kamar untuk menyambut Ardi.

"Hai," Ardi menyapa dengan senyumannya yang khas. Seperti biasa, Ardi terlihat sangat tampan. Matanya menatap penuh kagum dan hidungnya langsung dimanjakan oleh aroma yang juga begitu wangi menggoda. Malam ini Ardi mengenakan celana pendek selutut berwarna hitam dipadukan dengan hodie berwarna senada. Kinan tidak tahu apakah Ardi memakai pakaian lain di balik hodienya.

"Hai."

"Kinan sudah siap?"

"Sudah." Kinan merasakan pipinya panas seketika. Ardi terlihat sangat keren. "Kita tunggu Vita dulu, ya. Motornya dipakai buat ngantar Nuri tadi."

"Oh iya." Ardi duduk di pinggiran teras disusul oleh Kinan. Keduanya terlibat perbincangan. Tepatnya saling bergurau.

"Wuidih, mau kemana ini?" orang yang tidak diharapkan Kinan tiba-tiba muncul.

"Jalan-jalan, Bang," Ardi lah yang menjawab. Fadly memang 3 tahun di atas Ardi yang artinya 4 tahun di atas Kinan.

"Kemana? Tak ajak-ajak."

"Hanya cari angin, Bang. Ayuklah, ajak Bang Candra juga sekalian." Ardi menawarkan. Mendengar tawaran pria itu membuat wajah Kinan kecut seketika.

"Angin kok dicari. Di sini 'kan ada. Seger lagi." Kelakar Fadly. "Ya sudah, Abang cabut dulu, ya, mau makan dulu. Met bersenang-senang." Fadly menatap Kinan sebelum pria itu berlalu dari hadapan keduanya.

Tidak berapa lama, Vita pun datang. Kinan dan Ardi segera beranjak dari tempat mereka.

"Mau makan bakso di mana?" Ardi bertanya seraya menurunkan footstep belakang.

"Bakso Pak Kumis."

"Mau langsung makan bakso atau jalan-jalan dulu?"

"Jalan-jalan."

"Oke, yuk, naik."

Setengah jam mereka berkeliling sambil kembali bercerita.

"Jadi Ardi anak paling besar?"

"Ya, Ardi punya satu adik laki-laki, kelas 3 SMP."

"Oh..."

"Kinan kedinginan? Peluk Ardi, tidak apa-apa."

Aihh, ingin rasanya Kinan langsung melingkarkan tangan di perut pria idamannya itu. Tapi rasa malu dan takut menyerangnya.

"Tidak terlalu dingin kok. Masih aman. Ardi wangi, ya. Kinan suka baunya. Pakai parfum apa?"

"Oh ini, Hugo warna biru." Terpecahkan sudah aroma pria itu.

Terpopuler

Comments

Reksa Nanta

Reksa Nanta

sesuai namanya ya, Nuri sangat pandai berkicau. hahaha.

2024-03-31

0

Reksa Nanta

Reksa Nanta

aku punya teman namanya Chandra, putih tinggi tampan

2024-03-31

0

Brizy El-anshory

Brizy El-anshory

sumpah bang....
ini cita" Q dulu lo punya pacar y motornya ninja doule R.....
trusss ngebayangin d gonceng sambil meluk si do'i....
romantisss abisssss.....
sekali dapet y ninja double R dy nya selingkuhhhh.....
imajinasimu itu lo bang k selalu dapet n bener.....

2023-02-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!