Pertengkaran

Tok Tok

"Assalamualaikum," terdengar seruan mulia dengan nada tidak sabar.

Kinan yang baru selesai mandi sore, menyahut dari dalam kamar menjawab salam seseorang yang tidak ia ketahui dan tidak ia kenali suaranya.

"Tunggu sebentar."

Kedua adiknya tidak ada di sana. Hanya ada Kinan dan ayahnya yang sedang berada di belakang rumah.

Keluar dari kamar, Kinan langsung mengenali wajah pria yang memasang wajah masam. Bagaimana bisa Kinan tidak mengenali suara pria itu sedangkan pria itu selama lima hari berturut-turut selalu mendatangi rumahnya.

"Ya," Kinan sedikit gugup menghadapi pria bertubuh besar itu.

"Bagaimana?" Pria itu menepuk kwitansi di tangannya dengan kasar dan tidak sabar. "Ini saya sudah capek pulang balik setiap hari tanpa hasil."

Pria itu adalah debt collector dari perusahaan Metro (ada yang tahu, tak?). Sebuah perusahaan furniture yang dijual secara kredit dan cash. Beberapa bulan lalu, ayahnya mengambil kulkas dua pintu. Pembayarannya mengalami kemacetan di bulan ketiga dan bulan ini mereka sudah menunggak sebanyak dua bulan.

Kulkas ini dibeli karena beberapa bulan lalu, Ayahnya membuka warung kopi di belakang rumah. Namun, baru tiga bulan, warung kopi mereka sudah digerebek polisi karena banyak yang bermain judi.

"Ayah saya lagi tidak di sini, Om."

"Saya tidak perlu bertemu Bapakmu. Ini bayarannya bagaimana?!" pria itu membentak dengan nada kesal. Kinan merasakan gugup dan hampir menangis. "Ini sudah nunggak dua bulan dan saya hanya mendengar janji tinggal janji. Besok, besok, besok lalu menghilang. Banyak alasan! Kalian pikir saya tidak dimarahi atasan saya di kantor?! Jangan berani mengambil sesuatu kalau tidak mampu bayar! Ini kami tidak bisa toleransi lagi, kulkasnya kami tarik kembali!"

"Om harus bicara sama Ayah saya dulu."

"Bapakmu tidak pernah terlihat. Sengaja menghilang. Kami tidak mau tahu, nanti malam kulkasnya akan kami tarik kembali!!"

Pria itu pergi dengan wajah dongkol setelah melayangkan ancamannya.

"Siapa?" Pak Mus muncul setelah penagih utang itu pergi.

"Debt collector."

Kinan menjawab dengan sewot. Bagaimana tidak sewot, selalu ia yang menghadapi para penagih utang tersebut. Bukan hanya utang kredit kulkas, tapi juga utang kredit motor yang motornya juga sudah menghilang karena dijual ayahnya. Belum lagi Kinan harus berlomba cepat dengan ayahnya masalah uang kost. Hanya uang kost itu yang bisa Kinan andalkan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, mulai dari beras dan perlengkapan dapur serta perlengkapan kamar mandi juga hal lainnya termasuk jajan Valdi.

Kinan tidak mengerti apakah ayahnya tidak mau tahu dengan kehidupan mereka atau ayahnya memang tidak memiliki uang untuk diberikan kepada anak-anaknya mengingat ayahnya memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Jika memang tidak memiliki pekerjaan, bukankah seharusnya Pak Mus memberikan hasil uang kost sepenuhnya kepada Kinan yang jumlahnya hanya 600 ribu. Tapi terkadang, Kinan hanya berhasil mengumpul 300 ribu karena ayahnya sudah terlebih dahulu menagih sewa rumah kepada beberapa anak kost sebelum jatuh tempo.

"Oh," sahut ayahnya lempeng.

"Kinan malu tiap hari menghadapi mereka. Kinan selalu dibentak."

"Bentak balik," jawaban ayahnya membuatnya semakin gondok.

"Bagaimana bisa Kinan membentak balik. Badan mereka besar dan memang kita yang salah."

"Salah bagaimana?" Ayahnya menghisap rokoknya dengan gaya yang menurut Kinan sangat menyebalkan.

"Kita tidak bayar angsuran tepat waktu."

"Kalau tidak ada uang mau bagaimana lagi. Makan saja susah!"

"Ya kalau tahu susah, untuk apa ambil barang yang tidak bisa dibayar. Bikin malu!" Kinan meninggikan nada suaranya karena merasa sangat kesal juga lelah menghadapi orang-orang yang selalu berkata kasar kepadanya. Kemarin malam, penagih leasing bahkan mengeluarkan kata-kata kotor karena tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Mereka tidak tahu jika motor yang mereka tagih angsurannya sudah tidak ada lagi.

"Kamu membentak Ayah?" Mata ayahnya menyorot tajam.

"Kinan malu, Ayah. Kenapa bukan Ayah yang menghadapi mereka? Kinan sampai dimaki-maki dan tetangga selalu bergunjing tentang kita. Bulan kemarin Ayah sudah jual tivi. Tiga hari lalu, Ayah juga jual loudspeaker. Kinan heran, semua itu untuk apa? Uangnya tidak terlihat, tapi utang dimana-mana? Pernah tidak Ayah memikirkan kami? Ayah selalu memikirkan kesenangan Ayah sendiri! Benar-benar bikin malu!"

Kinan berjalan melewati ayahnya setelah menyuarakan kedongkolan yang bercokol di hatinya.

Bugh!

Kinan hampir terjungkal ke depan. Air matanya langsung merembes deras. Ayahnya memukulnya. Memukul punggungnya dengan cukup kuat walau tidak kuat-kuat amat. Tapi judulnya tetap saja memukul.

"Kau pikir sedang bicara sama siapa? Lancang nian mulutmu itu, Kinan. Dimana sopan santunmu dan juga rasa hormatmu?!"

"Rasa hormat?" suara Kinan tercekat. Hatinya sakit luar biasa mendapat perlakuan kasar ayahnya. Tidakkah ayahnya pernah memikirkannya yang mesti menjaga kedua adiknya dan memastikan Vita dan Valdi tidak putus sekolah. Sekolah belum gratis pada saat itu. Ada SPP bulanan yang harus dibayar.

"Sopan santun?" Lirihnya tanpa berbalik. "Apakah Ayah masih layak mendapatkan rasa hormat setelah..." Kinan berbalik dan tidak mampu melanjutkan kata-kata karena terkejut dengan kehadiran seseorang di balik punggung ayahnya, tepatnya di depan pintu. Seseorang yang entah sejak kapan memperhatikan pertengkarannya dengan ayahnya. Beni. Sejak kapan pria itu di sana?

Terpopuler

Comments

R Suryatie

R Suryatie

yg ku tahu hanya metro tv dan metro indah mall

2023-02-10

1

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞

aku tau..
d daerah ku ada...😁😁😁

2023-02-06

0

Kenny sihyanti

Kenny sihyanti

Beni ngajak nikah pasti biar Kinan lepas dr bpaknya

2023-02-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!