Mas Ben

"Kinan, Beni meminta nomormu, boleh tidak?"

"Jangan dikasih."

"Kenapa?"

"Males."

Sudah tiga bulan berlalu sejak pertemuan Kinan dengan Beni di warung bakso, sejak itu Nuri merecokinya agar memberi izin untuk nomornya diberikan kepada Beni.

Saat ini Kinan ingin fokus memperbaiki penampilannya, ia juga tidak ingin buru-buru menerima perhatian para pria yang ujung-ujungnya hanya bisa meninggalkan luka. Apakah Kinan sedang trauma? Tentu saja tidak. Ia belum sampai pada tahap itu dan jangan sampai.

"Kenapa?"

"Ya, namanya malas "kan tidak butuh penjelasan."

"Beni lumayan lho."

Ya, Kinan akui bahwa Beni cukup menarik. Hitam manis, memiliki lesung pipi yang terlihat samar. Bulu matanya panjang dan lentik dan saat bersalaman dengan pria itu, Kinan juga melihat jari-jari yang panjang dan kokoh.

"Hmm."

"Aku direcoki terus sama dia. Jadi rajin datang ke rumah hanya untuk bertanya tentang kamu. Dia tanya alamat juga."

"Jangan dikasih."

"Iya, aku mana berani sebelum kamu izin."

Hingga delapan bulan, Kinan benar-benar mengabaikan Beni. Berulang kali mereka bertemu di rumah Nuri, Kinan tetap tidak bersedia memberikan nomor ponselnya. Kinan juga sudah berhasil menurunkan bobot tubuhnya sebanyak 8 kilo. Banyak yang mengatakan dia mirip penyanyi cantik Dewi Sandra sebelum mengenakan hijab.

Kinan benar-benar menutup diri dari yang namanya spesies pria. Ia juga hanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan Beni seadanya dan cenderung memilih menghindar.

"Sepertinya Beni benaran naksir berat sama kamu."

"Itu hak dia." Jawaban Kinan acuh tidak acuh.

"Tapi aku repot."

"Repot kenapa?"

"Digangguin terus sama dia."

"Bilang saja aku sudah punya pacar biar dia diam."

"Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran, ya."

"Sudah ya, Nuri, aku mau ke kampus dulu. Ujian hari ini."

"Oke. Sukses buat ujiannya."

"Makasih."

Tidak ada yang tahu namanya takdir. Beni yang selalu dihindari Kinan tiba-tiba muncul di kampusnya. Pria itu tidak mungkin datang secara khusus untuk menemuinya karena Beni tidak tahu jika Kinan kuliah. Nuri juga tidak memberitahu pria itu dan yang Kinan lihat, Beni sedang berbincang-bincang dengan beberapa pria dan tidak menyadari kehadiran Kinan.

Buru-buru Kinan melangkah untuk menjauh sebelum Beni melihat keberadaannya. Sial, seseorang justru memanggil namanya dengan suara kuat melengking. Beni yang juga mendengar hal itu segera berbalik. Tampak pria itu terkejut mendapati Kinan berdiri tidak jauh darinya.

Beni melambaikan tangan sembari tersenyum, lalu laki-laki itu mengatakan sesuatu pada teman-temannya kemudian berbalik untuk mendekati Kinan.

"Hampir aku tidak mengenalimu," kelakarnya begitu berdiri di hadapan Kinan yang mengenakan pakaian resmi saat ujian. Hitam putih lengkap dengan hijab polos putih harga 10.000 rupiah.

Kinan hanya tersenyum kikuk mendengar pernyataan pria itu.

"Mau pulang, ya?"

Kinan menganggukkan kepala.

"Kinan lagi sariawan?"

Kinan menggeleng.

"Sakit gigi?"

Kinan kembali menggeleng.

Beni terkekeh, "Terus kenapa cuma angguk-angguk geleng-geleng."

"Sedang apa di sini?" akhirnya Kinan bersuara.

"Jumpa sama teman. Tidak menyangka ketemu sama kamu. Kuliah di sini rupanya."

"Iya."

"Ayo, diantar sekalian. Aku juga sudah mau pulang."

"Tidak usah repot-repot. Kinan biasa jalan kaki."

"Niat baik seseorang mana bisa ditolak," Beni sedikit memaksa. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini. Kinan sudah lama dalam incarannya. Semakin cewek jual mahal, para pria memang akan semakin penasaran.

"Tidak mau merepotkan."

"Tidak merasa repot sama sekali. 'Kan aku yang nawarin."

"Arahnya beda."

"Kok tahu?" Beni tersenyum simpul.

"Nuri memberitahu alamat rumahmu."

"Kamu tanya-tanya aku sama si Nuri." Beni semakin tersenyum.

"Nuri sendiri yang mengatakan," jawab Kinan jujur apa adanya.

"Astaga, aku sudah ge-er saja ditanyain sama kamu. Kamu tunggu di sini, aku ambil motor dulu."

Beni tidak membiarkan Kinan untuk menolak. Merasa tidak enak hati, akhirnya Kinan bersedia diantar pria itu yang artinya, Beni jadi tahu alamat rumahnya.

Mengetahui alamat rumah Kinan, Beni semakin gencar mendekati Kinan. Tiap malam, Beni selalu datang menemuinya. Membawa makanan. Beni tidak pernah mengajaknya keluar, mereka hanya mengobrol di teras rumah. Lama kelamaan, akhirnya Kinan pun memberikan nomor ponselnya.

Sejak Beni mendapatkan nomornya, ponsel Kinan selalu berbunyi sepanjang hari. Pagi dapat panggilan dan ucapan selamat pagi dan selamat menikmati hari dari Beni. Siang dapat SMS yang mengingatkan Kinan untuk makan siang tanpa mengingatkan untuk minum juga. Jika sempat, di sore hari, Beni sudah mangkal di depan gerbang kampus menjemput Kinan dan malamnya, pria itu sudah berada di depan rumahnya. Dan begitu pria itu pulang apel dari rumahnya, Beni akan menghubunginya, memberitahu bahwa sudah sampai di rumah dengan selamat dan acara akan berlanjut dengan saling berkirim pesan hingga salah satu diantara mereka tertidur. Semuanya mengalir apa adanya. Kisah Kinan yang sesungguhnya pun baru dimulai.

Terpopuler

Comments

moemoe

moemoe

Wowoww,,, pacar idaman bgt

2023-02-08

0

moemoe

moemoe

JilbB paris nih 😂

2023-02-08

0

Kenny sihyanti

Kenny sihyanti

Kisah sebenarnya baru akan mulai...
perhatian² film sebentar lagi akan di putar 😅

2023-02-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!