Seiring bertambahnya usia Kinan, gadis itu mulai mengerti dengan apa yang dialami ibunya. Semua bermula dari ketidaksengajaan Kinan menemukan surat dari neneknya. Di sana dituliskan bahwa ayahnya sudah menikah lagi.
Entah karena ibunya mulai merasa bahwa usia Kinan sudah cukup untuk mengetahui semuanya, ibu Fatimah pun lantas sedikit demi sedikit mulai bercerita tentang kisahnya.
Ibu dan Ayahnya bertemu di kampung ini. Ayahnya langsung jatuh hati pada ibunya pada pandangan pertama. Keduanya pun menjalin hubungan dan saat usia ibunya berusia 16 tahun, ayah dan ibunya memutuskan untuk kawin lari.
Ternyata keluarga ayahnya tidak menyambut baik hubungan tersebut. Ibunya ditindas dan dilecehkan dengan perbuatan juga kata-kata kejam. Dijadikan babu di rumah neneknya. Sementara ayahnya, tidak memiliki tanggungjawab sama sekali. Ayahnya sering meninggalkan ibunya di rumah neneknya. Sering mabuk-mabukan dan tidak pulang dan ternyata juga main perempuan.
Hal itulah yang membuat ibunya memilih pergi meninggalkan ayahnya dan ternyata ayahnya tidak berusaha menghentikan ibunya sama sekali, bahkan terkesan membiarkan.
Kinan mulai bisa merasakan sakit yang dirasakan ibunya. Ada kebencian yang tidak bisa Kinan jelaskan kepada keluarganya di kota yang tega menelantarkan mereka.
Neneknya bisa dikatakan cukup kaya. Pada zamannya, jika suami istri merupakan pegawai negeri, keluarga tersebut sudah bisa dikatakan orang yang mampu, bergengsi dan makmur. Sementara mereka di kampung, setiap tahun pasti menerima zakat dari mesjid di setiap malam lebaran. Otak Kinan mulai merekam semuanya.
"Bu, Kinan akan lulus. Nanti Kinan mau melanjut ke SMP satu ya, Bu." SMP satu adalah SMP yang cukup terkenal di kampung itu, SMP terbaik istilahnya.
"Kamu akan melanjutkan sekolah di kota. Kita akan pindah."
"Kita akan tinggal bersama Ayah?"
Ibu Fatimah menganggukkan kepala.
"Benaran, Bu?"
"Ya, ayah yang memintanya."
Entah setan apa yang merasuki ayahnya, setelah sepuluh tahun lamanya, akhirnya ayahnya meminta ibunya untuk rujuk kembali. Kinan juga tidak mengetahui alasan ibunya kenapa bersedia untuk kembali kepada ayahnya.
Hari kelulusan pun tiba. Hari itu juga mereka pindah ke kota. Ayahnya sudah mengontrak rumah dengan dua kamar. Kinan dan kedua adiknya cukup bahagia, akhirnya keluarga kecil mereka berkumpul secara utuh.
Kinan mendaftarkan diri ke salah salah satu SMP favorit di kota. Di bulan pertama, ayahnya tinggal bersama mereka. Kinan dan adik-adiknya akhirnya merasakan apa itu uang jajan. Dulu, saat di kampung, tidak ada uang saku sebelum ibunya menerima gaji di hari kamis. Kini, bersama ayahnya, mereka diberikan uang jajan setiap hari bahkan setelah pulang sekolah sekali pun.
"Enak ya, Dek, tinggal bersama Ayah. Kita dikasih jajan setiap hari."
"Iya, Kak. Kita bisa jajan sepuasnya."
Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Ayahnya mulai jarang pulang ke rumah. Sekalinya pulang, ayahnya hanya memberikan uang belanja kepada ibunya. Hanya itu.
Kinan mulai mendengar desas desus tentang ayahnya yang ternyata merupakan bandar togel. Ayahnya memiliki uang yang cukup banyak. Bukan hanya uang banyak yang dimiliki ayahnya, tapi juga seorang pelacur yang sudah dinikahi ayahnya secara sirih. Enatah sudah berapa wanita yang dinikahi ayahnya.
Kinan yang kala itu sudah mulai mengerti. Hanya bisa memandangi ibunya dengan sedih. Takdir apa yang sedang dijalani ibunya. Kenapa semenyedihkan ini. Dikhianati berkali-kali.
Kinan memandangi wajah ibunya yang menua, tubuh kurus kering hingga menimbulkan keriput. Wajahnya kempot dan dadanya rata tidak berisi. Sangat terlihat berbeda jika dibandingkan dengan foto ibunya yang terlihat cantik di usia muda dulu. Montok berisi. Inikah yang dikatakan makan hati berulam jantung?
"Bu," panggil Kinan saat ibunya sedang memasak di dapur.
"Hmm?"
"Ibu kenapa mau pulang kemari?"
Ibunya tersenyum, "Memangnya kenapa?"
"Ayah jahat ya, Bu?"
"Kenapa kamu berkata begitu?"
"Ayah meminta Ibu kembali kemari tetapi kita ditinggal juga, Bu. Ayah sibuk di luar sana."
"Ayah 'kan bekerja." Ibu Fatimah tidak pernah membeberkan keburukan suaminya di hadapan anaknya secara blak-blakan.
"Kudengar Ayah tinggal di dekat universitas Muhammadiyah. Jaraknya tidak jauh, kenapa ayah jarang pulang, Bu? Kenapa kita tidak tinggal di sana juga?"
"Ini sudah mau Magrib, kamu mandi sana, nanti kita makan malam bersama."
Ibunya mengalihkan topik, selalu seperti itu sejak mereka pindah ke kota. Melihat ibunya pasrah menerima nasib, Kinan pun mengekor. Mencoba menutup mata dengan perangai ayahnya.
Tiga tahun berlalu, Kinan lulus SMP. Ayahnya datang dan meminta mereka untuk tinggal di rumah ayahnya. Ibunya pun tanpa berkomentar bersedia pindah ke komplek sebelah.
Ternyata ayahnya sudah bangkrut, tidak ada uang untuk membayar kontrak rumah.
Rumah yang mereka tempati adalah rumah warisan untuk ayahnya dari Kakeknya yang sudah tiada.
Kinan mengira akan tinggal bersama. Ternyata, mereka hanya tinggal bertiga di sana. Rumah itu cukup besar. Memiliki empat kamar. Lantas dimana ayahnya tinggal? Di rumah lacurnya di komplek lain.
Kinan sudah dewasa, sudah duduk di bangku SMA, mulai bisa memberontak.
"Bu, kenapa hanya diam diperlakukan seperti ini? Kinan dengar wanita murahan itu sarapan bersama Ayah di warung Bik Ros. Ibu lihat mereka saat belanja sayur, benar begitu, Bu?"
Kinan mendapat berita itu dari Bik Ros sendiri. Amarahnya mendidih begitu mendengar hal itu. Mengapa ayahnya tega sekali memperlakukan ibunya seperti itu. Sebenarnya apa tujuan ayahnya meminta mereka kembali ke kota.
Ibu Fatima yang baru selesai sholat Ashar, kembali tersenyum.
"Kamu dengar berita itu dari mana?"
"Bik Ros."
"Lalu, Ibu bisa apa? Marah atau menjambak wanita itu? Badannya lebih besar dari Ibu. Yang ada Ibu akan menjadi bahan tontonan."
"Sekarang, Ibu juga menjadi bahan gosip!"
"Biarkan saja. Ibu hanya perlu menutup kedua telinga Ibu. Bagi Ibu, ayahmu sudah mati. Untuk apa Ibu urusi. Kamu dan adik-adik belajar yang benar. Tidak usah pusingkan perasaan Ibu. Ibu baik-baik saja."
"Tidak bisa begitu, Bu! Ayah sudah keterlaluan! Seharusnya kita tidak usah pulang kemari!"
"Ibu sudah tua, orderan mulai sepi. Kebutuhan mulai mahal. Kamu dan adik-adik perlu sekolah. Ibu juga tidak tahu sampai kapan Ibu bisa menjaga kalian."
"Ibu kenapa bicara seperti itu?!"
Suara ponsel dari ruang utama terdengar. Ponsel milik ayahnya. Kinan segera berlari untuk melihat siapa yang menghubungi ayahnya. Nama Rani tertulis di sana. Nama pelacur yang dinikahi ayahnya.
"Heh, pelacur, untuk apa kau menghubungi Ayahku. Dasar wanita gatal!"
"Apa? Siapa ini?" terdengar jawaban dengan nada sengit.
"Kinan. Kenapa, wanita jelek!"
"Kau yang jelek, burik! Siapa yang kau katakan pelacur, setan?"
"Apa di rumahmu tidak ada kaca? Kau lah pelacur itu, bangsat! Beraninya menyakiti Ibuku. Dasar binatang! Kau dan Mustofa akan menjadi penghuni neraka, kayu bakar neraka!! Berhenti menyakiti ibuku, Pelacur!"
"Anjing! Di mana kau sekarang? Kau menantangku? Aku akan menghajarmu?"
"Oke, temui aku di sekolah, kutunggu kau, Monyet!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Reksa Nanta
penghuni kebun binatang pun akhirnya dilibatkan.
2024-03-31
0
Reksa Nanta
laki laki yang mengajak kawin lari pacarnya, sudah jelas adalah laki laki pengecut yang akan selalu lari ketika ada masalah.
2024-03-31
0
Reksa Nanta
berhati hatilah wahai kaum perempuan. jagalah harga dirimu sekuat tenaga.
2024-03-31
0