Seperti biasa, pagi-pagi Kinan sudah bangun dan beraksi di dapur untuk memasak. Saat sedang mengulek cabe, terdengar seseorang mengucap salam. Semuanya masih tidur, Kinan pun segera berlari dari dapur untuk melihat siapa yang datang. Suaranya tidak terdengar jelas karena Kinan menyalakan radio. Betapa terkejutnya dia melihat Beni lah yang datang. Pria itu tersenyum lebar hingga membuat lesung pipinya terlihat jelas.
"Selamat pagi, Yang."
Kinan tidak tahu harus merespon seperti apa. Pipi putihnya sudah jelas memancarkan rona merah. Tapi pikirannya bukan ke sana melainkan penampilannya yang tidak karuan. Rambutnya dicepol sembarang, pipinya juga sudah pasti berminyak setelah baru saja menggoreng ikan asin. Belum lagi pakaian yang ia kenakan. Daster teddy bear di bawah lutut yang bagian keteknya sudah bolong. Masih misteri, kenapa daster di bagian ketek begitu mudah sobek.
Ini penampilan terburuk Kinan di hadapan Beni. Kinan menjadi salah tingkah sendiri.
"Jawab dong."
"Kenapa kamu di sini?" Kinan justru bertanya dengan nada yang sedikit sinis untuk menutupi kegugupannya. Ayolah, semalam, tepat jam 23.00, mereka berdua resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dan sekarang Beni harus menyaksikan penampilannya yang natural apa adanya yang pastinya sangat jauh dari kata menarik.
"Kangen."
Gila, Kinan benar-benar tidak tahu harus menanggapi sikap blak-blakan Beni seperti apa. Ia bahkan tidak mempersilakan Beni masuk. Keduanya berdiri di depan pintu.
"Ini masih terlalu pagi."
"Abang tidak bisa tidur semalaman, Sayang. Datang kemari untuk memastikan kalau kita benaran sudah jadian."
"Kalau kamu nyesal, kamu bisa mundur sekarang."
Beni mengernyit bingung, "Kenapa bicara seperti itu?"
"Habisnya kamu lucu. Jelas-jelas kita sudah bicara semalam. Kenapa masih harus perlu memastikan pagi-pagi begini."
"Kan Abang bilang kangen, Sayang. Lagi apa?"
"Masak."
"Pacar Abang rajin benar. Ini, Abang bawakan sarapan. Ada bubur kacang ijo, ada lontong juga." Beni menyerahkan dua kresek berisi sarapan.
"Makasih."
"Dimakan, ya."
"Iya."
"Abang tidak bisa lama-lama, harus berangkat kerja lagi."
Kinan belum tahu apa jelasnya pekerjaan pria yang sudah menjadi kekasihnya tersebut. Dia bukan tipe wanita yang akan bertanya tentang hal pribadi seseorang, tapi ia akan mendengarkan jika seseorang tersebut memang mau berbagi cerita dengannya.
"Ya sudah, sana pergi."
"Nanti Abang hubungi."
"Hmm."
"Omong-omong, Sayang cantik nian pagi ini. Polos dan segar," Beni menyentil hidungnya dengan gemas.
"Cantik?" Kinan tersenyum malu-malu kodok.
"Yup, benar ya apa kata orang-orang. Cewek itu terlihat cantik saat pagi hari, apalagi pas bangun tidur."
"Gombal."
"Gombalin pacar sendiri 'kan tidak ada salahnya. Nanti Sayang ke kampus?"
Kinan menganggukkan kepala, "Jam 11.00 nanti Kinan sudah harus berangkat."
"Tumben cepat."
"Ada tugas kelompok."
"Oh, ada cowok dong."
"Idih, mulai posesif."
"Itu karena Abang sayang."
"Nanti kamu terlambat, sana pergi."
"Sudah jadi pacar Abang, masa masih panggil aku kamu," Beni melayangkan protes dengan ekspresi wajah yang terlihat menggemaskan seakan sedang memohon agar dipanggil sayang juga oleh Kinan.
"Ya ampun, jadi Kinan harus panggil apa? Om?"
Beni tergelak, "Panggil Abang atau sayang biar romantis."
"Ini sudah hampir jam setengah delapan lho Abang." Kinan akhirnya mengikuti ingin kekasihnya itu. Untuk memanggil 'sayang' lidahnya masih kaku. Belum terbiasa karena memang belum pernah ia memanggil seseorang dengan sebutan demikian.
"Nah, gitu dong, 'kan enak dengarnya. Walau Abang lebih senang dipanggil sayang."
"Protes lagi. Jam terus bergerak, Abang."
Beni melirik jam tangannya, "Benar juga. Ya sudah, Abang pergi, ya. Nanti Sayang hubungi Abang pas mau berangkat ke kampus. Pulsanya masih ada 'kan?"
"Ada. Hati-hati."
"Makasih, Sayang. Duuh, senangnya dikhawatirkan." Beni mengusap kepalanya sebelum meninggalkan rumah Kinan.
Sepeninggalan pria itu, Kinan senyum-senyum sendiri dengan perlakuan manis Beni. Siapa yang tidak baper disamperin pagi-pagi dan dibawa sarapan lalu mendapat pujian sebagai bonus. Aduh, indahnya dunia.
"Jika begini, bisa-bisa aku jatuh cinta benaran."
Kinan belum pernah mendapat perlakuan seperti cara Beni memperlakukannya. Jujur, hatinya tersentuh dan dia dibuat benaran baper.
Akal sehatnya mengatakan jika bisa saja ini cara Beni, salah satu tipu daya pria itu untuk menyeretnya ke dalam perangkap Beni yang pada akhirnya membuatnya luluh dan bertekuk lutut. Belajar dari percintaannya yang gagal dua kali membuatnya meragu kepada Beni. Belum lagi ayahnya yang menurutnya bukan cerminan pria yang baik untuk ibunya membuatnya sedikit meragu pada semua makhluk keturunan Adam tersebut.
Kinan tidak ingin larut memikirkan semua sikap Beni yang over manis karena takut terbuai yang berakhir membuatnya terlihat bodoh.
Kinan hanya belum menyadari bahwa kelemahan wanita ada pada tutur kata pria dan juga sikapnya. Itulah kenapa banyak petuah yang mengatakan jangan membiarkan dirimu terbuai dengan rayuan pria yang nantinya bisa membuatmu dalam masalah.
Emaknya mantan kekasih tetangga temannya Nuri juga pernah mengatakan bahwa kata-kata manis pria bisa membuatmu tenggelam sekalipun sedang berada di daratan.
Apakah Beni sedang berusaha membuatnya tenggelam?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
R Suryatie
baca komen2nya jd terhibur, senyum2 sendiri
2023-02-24
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
(Emaknya mantan kekasih tetangga temannya Nuri...)
aku gak paham d bagian ini👆, maafkan atas kecetekan otaku ini😂😂😂
2023-02-06
1
Kenny sihyanti
Pacar lima langkah sepertinya ini 😂😂😂
2023-02-05
0