Empat bulan menjalin kasih bersama Fadly, tidak pernah mereka pergi kencan secara khusus. Jarak rumah dengan kost hanya lima langkah. Seperti kata lagu, malam apa pun sama. Mereka bertemu hanya di teras rumah. paling di warung samping warnet makan jajanan ciki-ciki. Tidak pernah mereka yang namanya pergi ke kafe walau hanya sekedar makan indomie dan teh manis. Entah karena Fadly berkantong tipis atau pria botak itu pelit?
Hingga di suatu sore, Nuri datang ke rumahnya membawa kabar berita buruk yang menyatakan Fadly sudah memiliki kekasih. Meski belum melihatnya secara langsung, Kinan percaya pada informasi yang diberikan Nuri. Informan yang didapatkan Nuri selalu teraktual dan bisa dipercaya. Tidak ada keraguan sedikit pun di benak Kinan tentang hal ini.
"Kinan, kamu tidak boleh tinggal diam!"
"Jadi aku harus bagaimana?" Kinan bertanya tanpa ada semangat. Maniknya perih seperti ada yang menusuk. Ya, memang ada yang menusuk, memaksa ingin keluar. Air matanya.
"Ya, kamu minta penjelasanlah! Maksud dia apa? Kenapa mengajak pacaran kalau ternyata sudah punya pacar. Kamu dan dia sudah berjalan berapa bulan?"
"Empat bulan."
"Fadly si brengsek itu dengan Norma sudah jalan enam bulan. Sorry, artinya kamu yang dijadikan selingan."
Kinan bergeming, pernyataan Nuri ibarat kotoran yang dilemparkan ke wajahnya. Kinan sangat membenci segala bentuk pengkhianatan, tapi Fadly si botak itu justru membuatnya berada di posisi yang salah.
"Jadi nama kekasihnya Norma?"
"Ya, dulu mereka satu ruangan. Kemudian Norma berhenti dan lanjut mengambil jurusan kesehatan. Calon bidan dia."
Kalah telak membuat Kinan semakin merasa terhina. Apalah dirinya dibandingkan gadis yang kelak berprofesi sebagai bidan. Kinan sadar kalau zaman sekarang, bukan hanya wanita yang matre, pria pun juga demikian. Banyak dari mereka di luar sana menginginkan wanita yang kaya yang kelak tidak terlalu bergantung pada mereka dalam hal finansial.
"Pokoknya kamu harus minta penjalasan dari si botak itu."
"Nanti aku akan ajak dia bicara."
"Hais, aku emosi, sumpah. Feelingmu dari awal terhadapnya memang tidak salah ternyata. Pemain rupanya dia di tengah parasnya yang pas-pasan. 'Kan kampret!"
"Sudahlah, Nuri, jangan emosi begitu."
"Bagaimana tidak emosi. Kamu dipermainkan!"
"Sekarang 'kan sudah tahu, nanti aku minta putus saja."
"Jangan langsung minta putus. Kamu tanya alasannya kenapa lancang begitu. Berani sekali dia."
"Sudahlah, tetap saja aku yang salah. Aku tidak mau nanti hubungan kami tercium oleh kekasihnya, kasihan."
"Kasihan apanya? Biar dia tahu sekalian. Dia sibuk menuntut ilmu di kota lain, cowoknya sibuk mencari selingan. Enak benar si Fadly."
"Aku juga bodoh, mau saja diajak pacaran."
"Dan sekarang, saat si Norma itu pulang kemari, mereka pergi berkencan ke bukit. Masuk room 30.000 ribu mungkin. Si Fadly mesum ambil jatah. Kamu sudah diapain saja sama si Fadly?"
Getaran ponsel Kinan menghentikan niatnya yang hendak membalas ucapan Nuri yang cukup frontal.
"Bang Fadly," Kinan menunjuk layar ponselnya.
"Angkat, ajak ketemu dan selesaikan sekarang. Jangan ditunda-tunda."
Kinan menuruti apa yang diperintahkan Nuri. Mengajak Fadly bertemu. Tidak berapa lama, terdengar suara Fadly bernyanyi, kode yang selalu diberikan pria itu untuk mengatakan bahwa dia sudah ada di depan rumah.
"Aku ke depan dulu. Kamu tunggu di sini," Kinan tidak ingin Nuri ikut keluar. Ia khawatir jika Nuri bertatapan langsung dengan Fadly, temannya tersebut justru akan menyerang pria itu.
"Hei," Fadly menyapa dengan wajah sumringah. Kinan memperhatikan penampilan Fadly yang memang terlihat lebih rapi dari biasanya. Serba hitam masih andalannya. Hanya saja kaos yang dipakai terlihat baru.
"Dari mana?"
"Kampus." Pria itu berbohong.
"Bukannya Rabu libur."
"Ada kerja kelompok membuat jurnal dan makalah. Besok mau presentasi."
"Oh."
"Tumben sudah mandi jam segini? Wangi benar, mau kemana?" Fadly mencolek lengan Kinan, gadis itu refleks menghindar. "Ada yang salah?" Fadly langsung bisa menebak ada masalah.
"Abang benaran ke kampus atau pergi jalan?"
"Hah?"
"Tidak usah hah, hoh, hah, hoh, Bang." Nuri tiba-tiba muncul, menatap Fadly dengan wajah masam. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau jalan sama betina yang bernama Norma yang ternyata kekasihmu 'kan?!" Nuri menanggalkan kesopanannya terhadap pria itu.
"Maksudmu, apa? Slow lah, Nur? Jangan asal nuduh."
"Kau tuli? Aku melihat langsung, kau dan pacarmu itu naik motor matic berwarna merah naik ke bukit. Berpelukan dengan mesra."
"Temanmu kenapa, Dek?" Fadly masih mencoba mengelak. "Saraf, ya?"
"Sudah, Nuri, kamu masuk sana. Biar aku yang bicara dengannya."
"Jangan percaya dengan ucapannya, Kinan. Dia tidak ke kampus! Dasar pembohong."
"Apa sih?" Fadly terpancing emosi. "Kau jangan asal nuduh! Lagi pula, urusanmu apa di sini. Merusak hubungan kami?!"
"Urusanku apa? Serius kau bertanya demikian? Heh, kutu kupret, kau main api di belakang temanku dan kau bertanya urusanku apa? Gila Anda, ya!"
Nuri benar-benar marah. Tatapan matanya nyalang dan terlihat seperti hendak menerkam. Di tengah kegundahan Kinan menyikapi hubungannya bersama Fadly, ia terenyuh dengan cara Nuri membela dan melindunginya. Jelas sekali bahwa sahabatnya itu tidak ingin dirinya terluka.
"Ini anak kenapa sih? Dek, suruh temanmu pulang sana. Jangan merusuh di sini."
"Jadi Abang sudah punya pacar?" Kinan mengabaikan perintah Fadly.
"Kamu tidak percaya sama Abang? Lebih percaya ucapan temanmu? Abang terluka lho kalau Kinan bersikap begini." Helleh, laki-laki, mulai bermain kata.
"Kinan lebih percaya pada sahabat Kinan."
"Artinya kamu tidak percaya sama Abang, begitu?"
"Abang memang tidak jujur. Kinan tidak suka diduakan dan tidak juga dijadikan yang kedua."
"Tidak ada yang menduakanmu."
"Modus, kampret!" Nuri menyeletuk.
"Bisa diam tidak?!" Fadly menyorot Nuri dengan tajam.
"Tidak. Aku punya mulut, Anda tahu 'kan gunanya mulut."
"Aku emosi ini."
"Anda pikir situ saja yang esmosi? Hei, kami juga emosi melihat kelakuanmu, tukang selingkuh!"
Fadly mendengus, meladeni Nuri hanya akan mempuruk keadaan. Ia pun menatap Kinan yang juga memandangnya dengan ekspresi datar.
"Jadi apa inginmu?" Fadly menantang.
"Akhiri saja."
"Kamu mau putus?" Fadly memastikan.
"Iyalah, bego! Akhiri, Kinan bilang akhiri. Kamu pikir apa yang mau diakhiri? Hidupmu?"
Fadly menarik napas panjang, mencoba mengabaikan Nuri yang berisiknya minta ampun.
"Kinan tidak bisa menjalani hubungi yang penuh dengan kebohongan. Abang sudah menempatkan Kinan pada posisi yang tidak Kinan sukai."
"Semudah itu kamu mengakhirinya?"
"Semudah Abang mencemarinya. Thanks a lot atas lukanya. Ini cukup berkesan. Semoga bahagia dengannya."
"Ish, untuk apa mendoakannya begitu. Layaknya dia menderita, dapat karma karena sudah mempermainkan cewek! Sana pergi!" Nuri mengusir Fadly seperti caranya mengusir ayam yang sering meninggalkan kotoran di teras rumah Kinan. Nuri menggandeng tangan Kinan masuk ke dalam rumah.
"Kinan," Panggilan Fadly menghentikan langkah mereka. "Abang bukan pria yang suka membujuk. Kamu benaran mengakhiri ini?"
"Kinan juga tidak ingin dibujuk seorang pengkhianat," sahut Kinan dengan tenang.
"Mampus!" Nuri bersorak kegirangan seraya memberikan jari tengahnya kepada Fadly.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
mbok e Gemoy
kalimai ini cak nya dulu hits bangetlah🤣
2023-02-20
0
ℑ𝔟𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨-𝔞𝔫𝔞💞
Bagus lah Kinan...👍👍👍
2023-02-06
0
Kenny sihyanti
😂😂😂😂
norma Yunita kali ya bang namanya ?
keren kau nur 😀
2023-02-01
0