Bakso Menanti

Kinan bukan tipe wanita yang berlarut-larut dalam kesedihan. Putus cinta tidak lantas membuatnya hilang semangat atau kehilangan nafsu makan. Patah hati tidak membuat indra penyecapnya kehilangan fungsi. Tapi mengingat ia harus memperbaiki penampilannya, ajakan makan bakso dari Nuri ia tolak meski temannya itu menawarkan traktiran gratis.

"Benaran tidak mau kutraktir? Ini bakso menanti kesukaanmu." Nuri bertanya untuk kesekian kalinya.

"Ogah! Uangnya tidak halal, hasil curian."

Ya, Nuri memang mengambil uang emaknya yang salah letak. Emaknya lupa di mana menyelipkan uangnya karena kebelet ke toilet. Awalnya Nuri ikut mencari, murni ingin membantu ibunya. Tapi begitu menemukan uang tersebut, bisikan setan pun terngiang-ngiang. Dan lihatlah, setan berhasil mengelabui perempuan manis itu dan kini sedang membujuk Kinan untuk menikmatinya bersama-sama.

"Dosanya aku yang tanggung."

Kinan menggelengkan kepala, "Malaikat mana bisa diajak kompromi."

"Lagakmu. Jadi kalau tidak mau ditraktir bakso, kamu mau apa?"

"Aku mau diet."

"Hah? Serius? Badanmu 'kan bagus. Montok berisi. Kamu cantik lho, sumpah."

"Jangan fitnah."

"Ya ampun, Kinan, masa sih kamu tidak sadar kelebihanmu?"

"Kelebihan lemak iya."

"Ya, memang sedikit berlebih. Tapi jujur, aku suka iri sama kamu. Rambutmu hitam kecoklatan, panjang lurus tanpa rebonding. Kulitmu putih bersih, bibirmu tidak hitam, cipokable dan kamu punya sesuatu yang membuatmu terlihat seksoy, Men!" Kinan menunjuk ke arah dadaa Kinan yang ukurannya memang cukup besar.

"Ish, aku sering tidak pede dengan tokket-ku ini." Kinan menyilangkan kedua tangan di dadaanya.

"Sekarang aku tanya, kamu diet untuk apa?"

"Biar enak dilihat. Bajuku sempit semua."

"Bukan karena cowok 'kan?"

"Bukan!"

"Bagus. Sepupuku kemarin makan pil diet dan berhasil turun. Kalau kamu mau, nanti aku minta sama dia nama pilnya apaan."

"Ya ampun, Nuri, kamu baik benar. Cinta Nuri banyak-banyak."

"Temani makan bakso kalau begitu."

"Oke, aku mandi dulu."

Kinan segera beranjak, meninggalkan Nuri di kamarnya. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, Kinan sudah kembali ke kamarnya.

"Hanya makan bakso, kenapa dandanan-mu heboh sangat?" Kinan mengeluarkan celana jeans hitam dan kemeja kotak-kotak yang sedang trend masa itu. Dandanan Nuri memang selalu heboh. Terlihat lebih dewasa dari umur mereka yang sesungguhnya karena penggunaan make up.

"Siapa tahu ada cowok ganteng di sana."

"Sudah kudugong." Kinan yang memang tidak memiliki alat tempur, hanya memoleskan bedak seadanya. Pun ia meminta Nuri untuk mengancingkan tali behanya.

"Ke kancing nomor berapa?"

"Satu saja, itu juga sudah sesak napas aku."

"Ukuran beha nomor berapa ini?"

"34 cup B."

"Aku hanya 28."

"Ck! Mending segitu."

"Kamu itu seksoy lho, Kinan."

"Hallah! seksih taik kucing. Lihat ini, penuh perjuangan hanya sekedar mengancing celana," Ya, Kinan harus memaksa perutnya mengecil dengan cara menahan napas agar kancing celananya yang bernomor 30-31 bisa muat. "Huftt!" Gadis itu mengusap keringat begitu celana terpasang dengan sempurna.

"Itu penilaianku, jujur apa adanya."

"Hmm," Kinan hanya berguman sembari mengenakan tanktop warna hitam. Terakhir ia mengenakan kemeja lengan panjang yang tangannya digulung sampai di bawah siku dan dua kancing kemejanya pada bagian atas dibiarkan terbuka. Rambutnya dicepol asal, sedikit memperlihatkan lehernya yang memang putih bersih.

"Ongkos angkot, kamu yang bayar."

"Iya, Kinan."

"Pulang nanti, aku mau naik becak, kamu juga yang bayar."

"Iya, iya."

"Suka mual aku kalau sering-sering naik angkot. Yuk, berangkat." Kinan mengenakan sendal karet sejenis swallow berwarna cerah yang juga sedang in pada masanya.

Sesampainya di bakso menanti, Nuri langsung memesan. Diet Kinan tunda hari itu. Godaan bakso lebih besar ternyata. Masalah uang hasil curian juga sudah ia lupakan. Sementara Nuri sedang memesan, ia mencari tempat duduk tepat di bawah kipas angin. Biar nanti jika kepedasan tidak emosi karena udara panas yang menyengat.

"Nuri," Seseorang memanggil temannya itu saat melewati salah satu meja. Nuri menoleh dan seketika memekik.

"Beniii.... Ngapain di sini?"

"Berenang. Kamu?"

"Main badminton. Apa kabar?"

"Ya, seperti ini. Duduk," pria itu menawarkan sembari menggeser posisinya karena bangku yang berseberangan dengannya diisi oleh dua temannya.

Nuri menggelengkan kepala, "Aku datang sama teman," Nuri menunjuk ke arah Kinan yang sedang memperhatikan mereka.

"Ajak temannya kemari."

"Pemalu dia."

"Oh," Beni kembali melemparkan tatapannya pada Kinan. "Sudah punya pacar belum?"

"Aku? Jomblo. Kenapa? Mau kau ajak pacaran? Ogah!"

"Idih, pede! Siapa juga yang mau sama cewek cerewet macam bentukanmu ini. Bisa makan hati aku."

"Jadi ngapain nanya?"

"Temanmu."

"Kinan?"

"Oh, jadi namanya Kinan."

"Iya."

"Bagi nomor ponselnya," Beni mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Nuri. Nuri mengetik angka demi angka di sana.

"Ini nomornya?"

"Bukanlah, nomorku."

"Najis."

"Kampret!" Nuri menoyor pipi Beni dengan gemas. "Kinan bukan seperti cewek-cewek yang sering kau permainkan. Sudah ya, pesanan kami sudah datang."

"Titip salam ya sama temannya. Aku traktir."

"Oke," Nuri segera berlalu.

"Siapa?" Kinan bertanya begitu Nuri duduk di hadapannya.

"Beni."

"Oh."

"Kamu dapat salam dari dia."

"Waalaikumsalam."

"Dia sudah kerja," Nuri mengumumkan.

"Oh ya."

"Hmmm, motornya F50." Saat itu siapa yang mengenakan motor keluaran suzuki tersebut terlihat tampan.

"F50 apaan?" Nuri jelas salah alamat membicarakan perkara motor sama Kinan si polos nan lugu. Kinan tidak faham apa yang sedang hits di kalangan anak gaul.

"Astaga! Motor yang mirip dengan belalang. Laki-laki pengendara motor itu lagi idaman saat ini."

"Oh." Kinan hanya bergumam karena tidak faham sama sekali.

"Sudah dibayar, ya." Beni tiba-tiba menghampiri mereka. Sontak saja keduanya mendongak.

"Ya ampun, Ben, baik benar. Sering-sering, ya."

"Dasar!" Beni tersenyum simpul. "Beni," Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan pada Kinan yang membuat Kinan tersentak kaget, sementara Nuri berdecak sambil memukul lengan Beni dengan pelan. "Sambut dong. Pegal lho ini."

"Kinan," Akhirnya Kinan pun menyambut uluran tangan pria itu.

Terpopuler

Comments

Reksa Nanta

Reksa Nanta

memang ada ya ukuran 28 ? 🤔

2024-04-03

0

Brizy El-anshory

Brizy El-anshory

kemarin ninja double R...
sekarang satria f u.....
incaran cewek tu dulu...

2023-02-09

1

moemoe

moemoe

Waaaah gua ngerasain nih zamanny, mantan pacar gua yg skrg jdi suami pke motor ni. Da temen yg ngomng haani mau sama abg tu krn motornyaa 😂

2023-02-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!