Kinan Kecil

"Bu, kenapa kita tidak tinggal bersama Ayah?"

Ibu Fatima yang saat itu sedang menjahit, menghentikan goyangan kakinya. Kinan yang masih berusia tujuh tahun belum bisa mengartikan ekspresi sedih di raut wajah ibunya yang kurus yang terlihat delapan tahun lebih tua dari usia seharusnya.

Kinan bersama ibu dan kedua adiknya tinggal di kampung. Sementara ayahnya, Mustofa Rahman, tinggal di kota.

Kinan masih terlalu kecil untuk mengetahui problema rumah tangga ayah dan ibunya. Sejak usia empat tahun, mereka tinggal berempat. Itulah yang menjadi tanda tanya pada Kinan sementara gadis kecil itu jelas tahu bahwa ayah mereka masih hidup. Kinan suka iri melihat teman-teman sebayanya yang sering diajak jajan sama ayah mereka.

Sementar Kinan dan adik-adiknya, boro-boro diajak jajan sama ayah mereka, ia dan adiknya bahkan tidak pernah jajan kecuali di hari kamis. Hari di mana ibunya menerima gaji dari hasil jahitan. Hari kamis, seperti hari raya bagi Kinan dan kedua adiknya, meski nominal yang diberikan oleh ibunya recehan yang hanya bisa membeli permen karet dua biji.

"Kinan rindu sama Ayah?"

Kinan menganggukkan kepala hingga poninya menari-nari.

"Nanti kalau sudah libur sekolah, Kinan bisa mengunjungi Ayah."

Netra Kinan berbinar seketika. Saat ini Kinan masih duduk di kelas satu SD dan kebetulan sedang ujian. Mendengar liburan dan bertemu dengan Ayah jelas menciptakan imajinasi yang menyenangkan dalam benaknya.

"Benaran, Bu?"

"Iya," jawab ibunya singkat. Ibu Fatimah bukanlah wanita yang romantis terhadap anak-anaknya. Akibat beban mental yang dialaminya yang jelas belum dimengerti oleh anak-anaknya.

Kinan bersama ibu dan kedua adiknya tinggal di rumah panggung yang tidak memiliki aliran listrik juga kamar mandi. Rumah pemberian salah satu sepupu jauh ibunya yang merasa kasihan pada mereka. Sebelum tinggal di rumah panggung ini, mereka tinggal mengontrak yang selalu berujung diusir oleh pemiliknya karena bayaran yang tidak tepat waktu. Sangat kasihan.

"Asiiikkk..." Kinan berseru kegirangan.

"Pelankan suaramu, Kinan. Valdi dan Vita sedang tidur. Jangan membangunkan mereka."

"Kita juga harus tidur, Bu."

"Kamu tidur saja duluan, Ibu masih mau menyelesaikan jahitan ini. Besok pagi, Ibu Liza akan datang mengambilnya," ibu Fatimah menguap berulang kali.

Dengan bingung, Kinan memandangi ibunya yang jelas-jelas sudah mengantuk. Anak seusianya mana faham dengan apa yang disebut kejar setoran.

"Lampunya juga sudah mau mati, Bu." Kinan menunjuk lampu sumbu yang menyala dengan kekuatan minyak tanah.

"Ambilkan minyak tanah sebelum kamu tidur."

Kinan segera berlari ke dapur yang menimbulkan bunyi akibat hentakan kakinya di lantai papan. Dia membawakan minyak lampu dan memberikanya kepada ibunya kemudian segera masuk ke dalan kamar, bergabung bersama kedua adiknya. Entah jam berapa ibunya bergabung dengan mereka karena Kinan terbangun saat matahari sudah bersinar.

"Kinan, bangunlah."

Seperti biasa, suara ibunya lah yang menjadi alarm untuknya. Selain tidak memiliki kamar mandi dan listrik, rumah mereka juga tidak mempunyai jam yang dipajang di dinding.

Rumah mereka hanya memiliki satu lemari pakaian yang diletakkan di ruang utama, di dekat mesin jahit ibunya. Kinan tidak tahu apakah lemari itu dibeli ibunya atau pemberian orang lain. Mereka memiliki satu ranjang, tidak besar tapi cukup menampung mereka berempat. Di ruang utama, mereka juga memiliki sepasang kursi dari rotan. Kursi yang memang sudah ada di rumah itu sejak mereka datang ke sana. Di dapur, terdapat rak piring kecil yang diisi perlengkapan makan dari plastik. Ada kompor dengan ukuran kecil, 16 sumbu. Kompor yang cukup terkenal pada zamannya. Kompor Hock.

"Kinan masih mengantuk, Bu."

"Kamu akan terlambat sekolah." Ibunya memberikan handuk kecil yang tidak mampu menyerap keringat sama sekali. Tidak lupa ibunya juga memberikan perlengkapan mandi yang cukup komplit untuk ukuran orang kurang mampu. Sikat gigi satu untuk semua lengkap dengan pasta giginya, bukan Pepsodent, melainkan odol murah dengan ukuran besar, rasanya cukup pedas dan panas di mulut, kemudian sabun mandi Lark dengan wangi yang cukup menyengat juga sampo emeron warna hitam.

"Bawakan air untuk memasak," ibunya memberikan ember jinjing yang terkenal dengan logonya 'anti pecah'.

"Pulang sekolah nanti, kamu isi ember kita sampai penuh."

"Ya, Bu," dengan bekas iler yang tercetak jelas di wajah, Kinan berjalan menuju pemandian umum yang berjarak sepuluh menit dari rumahnya.

Di kampungnya, memang masih banyak warga yang tidak memiliki kamar mandi pribadi. Memiliki kamar mandi pada masa itu bisa dikatakan sultan. Jadi tidak heran jika di pemandian umum itu sangat padat sekali saat pagi hari. Belum lagi yang antri untuk boker.

Kinan duduk diantara anak tangga, masih menahan kantuk dan dingin. Udara di kampungnya memang hampir sama dengan kota Brastagi.

"Kinan,"

Aswita, teman sekelasnya datang menyapa dengan keadaan yang hampir sama dengannya. Bekas iler yang masih membekas, handuk yang melilit di tubuh juga ember berisi sabun. Bedanya, Aswita tidak membawa ember anti pecah untuk diisi air lalu dibawa pulang. Ya, Aswita memiliki tiga kakak perempuan yang bisa melakukan tugas tersebut.

"Kamu menonton Panji Manusia Milenium, tidak tadi malam?"

Kinan menggeleng pasrah, "Meli tidak mau membuka rumah mereka. Aku tidak bisa mengintip untuk menonton."

"Kenapa tidak pergi ke warung Elsa?" warung kopi Elsa adalah satu-satunya warung yang mengerti keinginan anak-anak. Meski isinya penuh dengan bapak-bapak, tapi pemilik warung selalu memutar siaran anak-anak pada jam-jam tertentu. Sungguh mulia hati Pak Amin, selaku pemilik warung.

"Jauh. Aku tidak berani pulang malam sendiri. Kamu nonton di sana?"

"Ya. Aku ingin menikah dengan Panji kalau sudah besar. Panji ganteng ya, Kinan."

"Ho'oh. Aku juga ingin menikah dengan Panji."

"Kita berdua menikah dengan Panji?"

"Mana boleh."

"Terus, kenapa kamu mau menikah dengannya? Kan aku duluan yang ingin menikah dengannya?" Aswita cemberut.

"Kamu menikah dengan Ucil saja."

"Ucil kan tuyul, aku tidak mau!"

"Nanti kamu banyak uangnya. Suruh Ucil mengambil uang Doni." Doni teman sekelas mereka. Anak laki-laki penjual lontong di kampung itu yang cukup laris. Lontong buatan pak Pagul, ayah Doni memang sangat enak.

"Itu mencuri."

"Suruh Ucil buka baju dulu biar tidak kelihatan."

"Aku tetap akan menikah dengan Panji! Kamu tidak boleh merebutnya!'

"Ya sudah, aku akan bilang sama Erni, Isra, Neni dan Diana juga anak-anak yang lain untuk memusuhimu."

Aswita terdiam sesaat. Wajahnya masih cemberut dan hampir-hampir menangis. Dengan pasrah dan mengalah serta terpaksa, Aswita berkata, "Ya sudah, kamu menikah dengan Panji. Aku menikahnya dengan Primus saja."

"Nah, begitu kan enak. Wah, odolmu closeup," Kinan mengintip ke ember sabun milik Aswita. "Aku minta dikit, boleh?"

"Nanti Ibuku marah, kenapa pasta giginya cepat habis. Kamu 'kan punya odol?"

"Odolnya Maxam."

Terpopuler

Comments

Reksa Nanta

Reksa Nanta

bab yang penuh keluguan anak anak dengan perdebatan konyol mereka. 😅

2024-03-22

0

Reksa Nanta

Reksa Nanta

memangnya ada ya odol Maxam ? 🤔

2024-03-22

0

Reksa Nanta

Reksa Nanta

aku lupa lupa ingat sama film ini.

2024-03-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!