Berlibur

"Bu, Kinan juara 1 lagi...." Kinan berseru dari luar rumah.

"Assalamualaikum." Kinan melongos masuk ke dalam rumah.

"Waalaikumussalam," sahut ibunya tanpa mengalihkan tatapan dari sulamannya. Selain menjahit, ibunya memiliki pekerjaan lain, menyulam juga menenun. Ibunya bekerja sesuai permintaan. Kalau tidak ada orderan, ibunya bahkan akan bekerja di sawah jika ada yang memanggil. Tiga puluh ribu, gaji yang diterima ibunya jika bekerja di sawah seharian. Dari jam delapan pagi hingga jam lima sore.

"Ibu, Kinan naik kelas dan juara satu!!" Kinan menunjukkan raportnya yang berwarna merah.

"Ya, buka seragammu, letakkan di ember kotor beserta kaos kakinya. Sepatumu taruh di tempatnya."

Senyum di wajah Kinan pudar seketika. Harapan untuk makan telur rebus, pupus sudah. Tradisi di kampungnya, jika anak-anak mereka juara dan naik kelas, ibu mereka akan merebus telur untuk si anak. Apakah ibunya yang orang yang anti tradisi atau ibunya tidak memiliki uang untuk membeli telur ayam?

Apa pun alasannya, Ibu Fatimah memang bukan ibu yang romantis, bukan berarti Fatimah, ibu yang buruk. Ibu Fatimah wanita kuat yang sangat sabar.

"Baik, Bu." Kinan segera melaksanakan apa yang dikatakan ibunya. Tidak berapa lama, ia kembali bergabung dengan ibunya. Vita sedang mengayun Valdi di dekat ibunya.

"Kamu isi ember kita sampai penuh. Nanti kamu bantuin Ibu menyusun manik-manik itu," Ibunya menunjuk pada bungkusan manik-manik yang tersusun di sudut ruangan. Jika begitu, biasanya ibunya memiliki orderan untuk menghias kain tenun. Satu kain biasanya dihargai sebesar tiga ribu rupiah. Dan ibunya akan menggajinya satu manik yang disusun ke benang sepanjang 50 cm sebesar lima puluh rupiah. Biasanya Kinan akan mengajak teman-temannya untuk bekerja dengannya.

Kinan mengambil ember anti pecah juga derigen lima liter. Lebih dari satu jam, ia bolak balik dari rumahnya ke tempat pemandian umum untuk mengambil air bersih. Setelah ember mereka penuh, Kinan kemudian mengisi tenaga, makan siang dengan lauk seadanya. Habis makan, ia pun mulai bekerja demi bisa jajan di hari kamis.

"Bu, tadi Kinan mengajak Aswita dan Diana untuk bekerja."

"Hmm."

"Bu, kapan kita pergi berlibur ke kota bertemu dengan Ayah?"

"Besok kamu pergi."

"Kinan sendiri, Bu?"

"Ya, Ibu antar sampai loket."

"Kinan mana berani, Bu," Semangat Kinan meredup seketika berubah menjadi sebuah kecemasan. Pasalnya, jarak antara kampung dengan tempat ayahnya tinggal memakan waktu dua jam. Tidak terlalu jauh sebenarnya, tapi untuk ukuran anak kecil yang masih berusia tujuh tahun, itu perjalanan yang tidak menyenangkan jika dilalui dengan sendiri.

"Nanti Ibu titip kamu sama Pak Lubis. Pak Lubis nanti yang bawa busnya sampai ke kota."

"Tapi, Bu...?"

"Percaya sama Ibu, Kinan. Uang Ibu sudah tidak ada untuk membeli beras lagi. Kinan mau kita tidak makan?"

Kinan menggelengkan kepala. "Nanti Kinan minta beras sama Ayah, Bu?"

"Nanti nenekmu yang akan memberikannya. Nenek kan punya sawah yang luas. Ini lagi musim panen."

"Jadi Kinan berlibur untuk menjemput beras, Bu?" Ia bertanya dengan kepolosan yang hakiki.

"Kamu 'kan rindu sama Ayah."

Keesokan harinya, Kinan diantar ibunya ke loket bersama kedua adiknya. Valdi berada di gendongan ibunya, sementara Vita digandeng ibunya.

"Bu, Kinan mual dan mau muntah," asap bus membuatnya seketika merasakan pening luar biasa.

"Ibu beli antimo dulu," Ibu Fatimah kemudian membeli obat anti mabok juga minuman. Wanita berusia 32 tahun tersebut itu juga meminta kantongan plastik dan memberikannya kepada Kinan.

"Plastiknya untuk apa, Bu?" Kinan mengernyit merasakan pahitnya obat yang ia minum.

"Nanti kalau Kinan masih ingin muntah, masukkan ke dalam kantongan ini. Jangan lupa untuk mengikatnya agar muntahannya tidak tumpah saat kamu meletakkannya di bawah."

"Bu, kenapa tidak pergi bersama-sama. Kinan takut ada penculik anak." Kinan mencoba membujuk ibunya dengan nada merengek. Ketakutan itu sebenarnya tidak dibuat-buat. Bukankan anak-anak memang selalu memiliki imajinasi yang bisa membuatnya parno sendiri.

"Aswita mengatakan bahwa penculikan anak sedang musim, Bu. Nanti kepalanya akan dipenggal lalu diletakkan di bawah jembatan. Kinan takut, Ibu." Berita tentang penculikan anak yang kepalanya akan dipotong dijadikan tumbal jembatan memang sedang marak-maraknya di kalangan anak SD. Entah dari mana berita itu berasal, tapi beberapa anak memang mengalami ketakutan, termasuk Kinan yang saat ini akan berlibur ke kota tanpa ada yang menemani.

"Ibu sudah menitipkanmu kepada Pak Lubis. Tidak ada yang perlu kamu takuti."

Pak Lubis yang disebut pun datang memberitahu bahwa bus akan segera berangkat. Sembari menahan tangis, Kinan pun naik ke dalam bus. Mual dan pusing semakin menyerang. Benar-benar sangat menyiksa. Kinan melihat ibunya berbicara dengan Pak Lubis sembari memberikan uang sebesar 2500 rupiah. Apakah itu untuk ongkos, Kinan juga tidak mengetahuinya.

Pak Lubis pun naik ke dalam bus, mesin dinyalakan. Air mata Kinan mulai meluruh. Dengan kedua tangan yang menempel di jendela kaca bus, Kinan memandangi ibunya yang juga sedang menatapnya. Vita melambaikan tangan padanya dengan senyuman, berbanding terbalik dengan mimik wajah Kinan yang sudah tersedu sedan.

Mobil mulai berjalan, ibunya tetap bergeming, tidak memintanya turun atau pun ikut naik ke bus untuk menemaninya. Mobil akhirnya benar-benar melaju. Kinan pasrah, menunduk menyembunyikan tangisnya.

Perjalanan yang sangat buruk. Baru lima menit perjalanan, Kinan sudah mual dan memuntahkan isi perutnya. Sakitnya tidak bisa ia jelaskan. Perutnya seakan diremas paksa.

Tidak ada yang peduli dengannya dan Kinan juga tidak meminta bantuan siapa-siapa. Di usianya yang baru menginjak tujuh tahun, Kinan sudah dipaksa untuk berjuang sendiri agar bisa bertahan dan selamat sampai tujuan di tengah ketakutan luar biasa yang menyerang.

Perjalanan dua jam itu bagaikan mimpi buruk baginya. 120 menit seakan bertahun-tahun lamanya. Kapan bus ini akan berhenti? Hanya itu yang ada di benaknya.

Obat anti mabuk yang diberikan ibunya tidak memberikan efek sama sekali. Sepanjang perjalan Kinan hanya muntah. Kantongan kecilnya hampir saja penuh.

Akhirnya penderitaannya di dalam bus berakhir seiring dengan berhentinya bus di loket. Semua penumpang turun, Kinan masih mematung. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tempat itu begitu asing, benarkah ia sudah sampai di kota tempat ayahnya tinggal? Lalu di mana ayahnya? Bagaimana caranya ia bisa bertemu dengan ayahnya?

"Kinan, kita sudah sampai." Pak Lubis akhirnya mendekatinya.

"Aku tidak melihat ayahku, Kek." Pak Lubis memang sudah beruban. Setiap orang yang beruban, selalu dipanggil Kakek olehnya.

"Kinan harus naik becak dulu. Ayo, Kakek antar naik becak."

Ketakutan baru menyerangnya. Jika di dalam bus, masih ada yang ia kenal, yaitu Pak Lubis. Lantas, bagaimana dengan becak? Tempat ini begitu asing meski ia lahir di sini. Saat usianya empat tahun, ia sudah dibawa ibunya pergi dari kota ini.

Namun apa yang bisa ia lakukan selain menurut? Dengan membawa serta kantongan muntahannya, Kinan mengikuti Pak Lubis.

Pak Lubis kemudian mendatangi seorang tukang becak yang mangkal di depan loket. Kinan memperhatikan mereka berbincang dan sesekali menatap ke arahnya.

"Kinan," panggil Pak Lubis kemudian setelah Pak Lubis memberikan uang seribu rupiah kepada sopir becak tersebut. "Naiklah, Kakek sudah menjelaskan alamat rumah Nenekmu."

Dengan ragu-ragu, Kinan masuk ke dalam becak. Rumah neneknya memang cukup mudah di ingat. Posisinya berada di komplek sekolah di pinggir jalan.

Sepanjang perjalanan Kinan memperhatikan jalan, mengasah ingatannya yang sudah samar-samar.

Memasuki komplek pelajar, ia mulai merasa aman. Lokasi yang masih jelas dalam ingatannya.

"Berhenti, Pak. Rumah nenekku ada di sana yang berpagar besi yang ada buah jambu juga pepayanya."

Ketakutan yang Kinan pendam sirna sudah. Rasa lega menyelimutinya. Kinan berteriak memanggil neneknya. Tidak berapa lama, seorang gadis remaja yang merupakan adik Ayahnya keluar.

"Kinan," gadis itu memekik sembari berlari untuk membuka pintu pagar.

"Tante Sania!!!"

"Astaga, Kinan datang bersama siapa?" Sania menoleh ke kiri dan ke kanan dan tidak menemukan siapa-siapa.

"Sendiri. Ayah ada, Tan?"

"Tidak."

Liburan yang ia harapkan bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama sang Ayah hanya isapan jempol belaka. Ayahnya ternyata tidak tinggal bersama neneknya. Ayahnya senang bertemu dengan Kinan tapi kesibukan ayahnya membuat mereka jarang bertemu. Selama sepuluh hari berlibur di sana. Ayahnya hanya mengunjunginya tiga kali dan hanya dalam hitungan jam.

Liburan selesai. Seperti yang dikatakan ibunya, neneknya memberikan satu karung beras. Karung dalam ukuran sedang. Ia juga diberikan uang saku dan ayahnya menitipkan uang sebesar lima puluh ribu rupiah untuk ibunya. Kali ini, Kinan tidak pulang sendiri. Ayahnya menyuruh seseorang mengantarnya hingga ke kampung.

Begitulah seterusnya setiap kali Kinan libur sekolah. Saat ia kelas tiga SD, ia tidak pergi sendiri lagi, tapi berdua bersama Vita. Vita ternyata lebih jago darinya, adiknya itu tidak mengalami apa itu yang disebut dengan mabok darat. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, Pak Mustofa jarang meluangkan waktu untuk mereka. Saat pulang, mereka diberikan beras dan uang saku. Uang titipan kepada ibunya. Hanya itu. Bahkan saat lebaran tiba, tidak ada kiriman baju lebaran dari ayahnya. Apakah mereka anak-anak yang terlupakan. Apa sebenarnya masalah ayah dan ibunya? Kenapa harus hidup terpisah. Apa ayah mereka tidak merindukan mereka?

Terpopuler

Comments

Reksa Nanta

Reksa Nanta

ayahmu mungkin sudah nikah lagi, Kinan. 😥

2024-03-31

0

mbok e Gemoy

mbok e Gemoy

sekarang hits lagi,gara² ada mobil box hitam lewat anak² satu sekolh hebih katanya itu mobil culik😅

2023-02-20

0

mbok e Gemoy

mbok e Gemoy

jaman segitu rapotnya merah,nilainya 5 ya penanya merah juga.pasti masih caturwulan bukan semesteran kayak sekarang

2023-02-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!