Chapter 20 - Pelakor lebih galak

"Heh Linda! Harusnya kamu yang sadar diri! Mas Roby berpindah ke lain hati karena penampilan kamu kayak pembantu! Siapa juga yang mau sama kamu yang jelek dan kucel begini."

"Aku kayak gini juga karena dia! Dia nggak pernah memenuhi kebutuhan aku. Jangankan untuk perawatan, untuk kebutuhan dapur pun dikasih kurang. Dan sekarang aku tau kemana aja gajinya selama ini. Tentu untuk pelakor kayak kamu!" Aku menunjuk wajah Yulia. Dela menangis dalam gendonganku. Sedangkan Dion bersembunyi di belakangku karena ketakutan.

"Udah, pergi kamu! Bawa anak kamu, dasar istri nggak berguna. Nyesel aku nikah sama kamu. Bikin malu aja." Mas Roby meninggalkan ku menuju motonya dengan masih berangkul mesra dengan Yulia.

Aku pun mengejar dengan derap langkah yang semakin cepat. "Mas, tunggu Mas. Kamu harus tinggalin dia. Jangan kayak gini, Mas. Inget anak-anak kamu." Aku mencengkram tangan Mas Roby dengan kedua tanganku.

Mas Roby langsung menulak tanganku dengan sangat kasar dan kuat hingga membuatku dan Dela jatuh ke atas tanah berbatu.

Dela menangis sekencang-kencangnya. Aku memeriksa kepalanya yang juga ikut menghantam batu. Astaghfirullah! Kepala Dela berdarah dan bengkak.

"Mas, kepala Dela berdarah, Mas. Ayo kita bawa ke rumah sakit!" teriakku pada Mas Roby saat ia sudah hendak melaju dengan motornya.

Namun apa yang kudapatkan. Dia menatap kami dengan sorot mata tidak peduli. "Kamu urus sendiri anak kamu! Bikin repot aja! Dasar beban!" 

Setelah mengatakan hal itu, Mas Roby langsung pergi meninggalkan kami. Aku kebingungan dengan darah yang terus mengalir dari kepala Dela. Orang-orang hanya menatapku tanpa mau menolongku.

"Tolongggg!!! Tolong!!!" Aku berlari menarik Dion menuju jalan untuk menyetop angkutan umum. Sambil terus menutup kepala Dela dengan kain gedong usang milikku.

Tiba-tiba sebuah mobil taksi berhenti di depanku dan keluarlah Dimas.

"Astaghfirullah, Dela! Ayo, Lin masuk. Kita bawa ke rumah sakit," ujarnya dengan panik.

Aku segera masuk ke dalam mobil taksi itu bersama Dion dan Dimas. Aku terus menangis sambil memeluk Dela yang masih menangis dengan kencang.

Sesampainya di rumah sakit, Dela langsung diobati dengan beberapa jahitan di luka kepalanya. Untungnya kami cepat membawanya, kalau tidak, entah bagaimana nasib Dela, begitu kata dokter. Aku menangis melihat anak sekecil itu harus mendapat luka jahitan dan tangannya terkilir akibat terjatuh tadi. Dapat ku dengar suara tangisan kesaktiannya yang begitu memilukan.

Setelah diobati, Dela pun tertidur karena kelelahan sehabis menangis. Sedangkan Dion yang berdiri di sampingnya ikut menangis. Ia tak berkata apapun, mungkin ia masih ketakutan dengan pertengkaran ku dengan ayahnya tadi. Aku yang salah, harusnya aku tidak mendatangi Mas Roby dan mengorbankan anak-anak ku yang tak tahu apa-apa ini.

"Lin, minum dulu. Kamu juga, Dion." Dimas menyerahkan sebotol air mineral padaku dan sekotak susu coklat cair pada Dion.

Kami yang memang sangat haus tentu langsung meminumnya. Setelah itu, aku dan Dion dituntun duduk di bangku yang ada di dalam ruangan itu sembari menunggu sampai dokter memperbolehkan pulang.

"Lin, kenapa bisa kayak gini?" tanyanya.

Aku masih diam. Wajahku menunduk dan tubuhku bergetar hingga tetesan air mata kembali berjatuhan.

"Bilang aja, Lin. Kamu jangan sungkan." Dimas masih terus memaksaku, membuatku merasa bingung.

Terpopuler

Comments

Ayas Waty

Ayas Waty

cerita saja gpp Lin

2023-01-25

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!