Untunglah setahun setelahnya, kakak Mas Roby pulang ke kampung. Jadi, rumah mereka bisa kami tempati. Namun, hal itu tidak membuat Mas Roby semakin giat bekerja. Dia malah semakin malas. Apalagi jika hujan, pasti dia akan kembali menarik selimut dan tidur sampai hujan reda. Tak peduli anak dan istrinya sudah makan atau belum, yang penting perutnya kenyang habis makan di warung.
Pernah aku memergoki dia menyimpan uangnya di dalam sebuah tas usang di bawah ranjang. Aku membuka isinya dan terkejut melihat uang yang begitu banyak.
Namun, saat aku mempertanyakannya, dia malah marah dan menuduhku pencuri.
"Denger ya. Kamu itu sebagai istri nggak perlu tau uang suami ada berapa. Yang perlu kamu lakukan, cukupi hidup kita dengan uang yang aku berikan. Kalau nggak cukup, ya kamu usaha lah. Jadi buruh cuci atau tukang bersih-bersih di rumah orang. Aku mau beli motor pakai uang ini. Kan kamu juga nanti yang senang."
Ya, benar kata Mas Roby. Kalau dia beli motor sendiri. Dia tidak perlu berbagi uang hasil ngojek dengan si pemilik motor yang selama ini motornya mereka sewa.
Akupun mengalah. Membiarkan dia mengumpulkan uang untuk membeli motor.
Hingga usia enam tahun pernikahan kami, aku melahirkan seorang anak perempuan yang kami beri nama Dela. Aku pikir, setelah kelahiran Dela, Mas Roby akan semakin peduli akan kebutuhan rumah tangga kami. Namun yang ada, dia malah semakin menjadi. Dia sering mengataiku istri pemalas, tidak becus, tidak berguna, dan seperti nenek lampir.
Memangnya aku seperti ini karena siapa? Karena dia kan? Kalau saja dia dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dan memodaliku merawat diri, pasti Agnes Monika pun lewat. Tapi yang ada, aku malah harus memikirkan kebutuhan yang semakin membengkak. Apalagi sebentar lagi Dion akan memasuki TK. Aku harus mempersiapkan banyak uang. Bagaimana aku tidak kurus, beban pikiranku terlalu banyak. Bagaimana wajahku tidak kusam, bedak pun aku tak mampu membeli. Yang kupakai pun hanya bedak Dela. Bedak bayi yang wangi dan lembut itu. Bagaimana aku tidak terlihat tua, aku memikul semua beban hidup.
Dan hari ini, Dela demam tinggi. Aku menitipkan dia pada tetanggaku. Aku akan menemui Mas Roby di kantornya.
Namun apa yang aku dapat? Aku malah dihina dan diusir. Dia hanya memberiku uang dua puluh ribu. Terpaksa ku tempuh jarak dari rumah ke klinik terdekat dengan berjalan kaki. Dion terus mengeluhkan kalau kakinya capek. Sedangkan tangisan Dela semakin kencang karena panas yang semakin tinggi.
Sesampainya di klinik, aku langsung memasukkan Dela ke dalam ruangan untuk diperiksa. Hatiku bergetar hebat. Aku takut biayanya akan sangat mahal sedangkan uangku hanya dua puluh ribu.
Akhirnya Dela selesai diobati. Panasnya sudah turun dan dia tidur nyenyak di dalam gendonganku.
"Mbak berapa biayanya?" tanyaku pada kasir.
"Selamat Mbak, karena Mbak pasien kami yang ke seribu, maka kami menggratiskan biaya untuk Mbak."
Mendengar ucapan kasir, hatiku sangat senang. Aku mengucap syukur berkali-kali.
"Oh ya, Mbak. Ini ada hadiah untuk Mbaknya." Kasir itu menyerahkan sebuah amplop padaku. Betapa terkejutnya aku melihat isinya yang berjumlah satu juta.
"Mbak ini beneran?" tanyaku tak percaya.
"Bener, Mbak. Silakan diambil. Selamat, ya."
Aku kembali mengucap syukur. Dengan uang ini aku bisa melunasi hutang di warung dan membeli susu serta makanan bergizi untuk anak-anakku. Alhamdulillah ya Allah, kini Dion tidak perlu pulang jalan kaki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Ayas Waty
semoga kamu bisa terbebas dari Robby
2023-01-24
2