Chapter 13 - Undangan makan malam

Waktu terus berlalu. Dimas masih saja memantau kegiatan di rumah Linda. Entah mengapa sejak kepindahannya ke sini, Linda jarang terlihat keluar untuk menjadi buruh cuci. Apa karena pertanyaannya waktu itu? Saat dia mengundang mereka ke rumahnya untuk makan malam dan mengobrol. Dia masih ingat dengan apa yang mereka bicarakan saat itu.

"Oh ya, apa kalian tau siapa buruh cuci di daerah ini? Sepertinya aku membutuhkannya," ujarnya saat itu.

Linda dan Roby saling bertatapan. "Sepertinya nggak ada, Mas. Mending ke laundry aja. Dekat kok di depan gang."

"Oh, iya juga ya. Aku lihat penduduk di sekitar sini perekonomiannya bagus termasuk kamu. Mana mungkin 'kan ada istri yang menjadi buruh cuci sedangkan suaminya mampu. Kalau ada, pengecut sekali pria itu, menyuruh istrinya menjadi buruh cuci. Kasihan 'kan."

Dimas dapat melihat ekspresi wajah Roby yang tampak bingung dan takut. Itu membuatnya merasa sangat puas.

Kini Dimas sedang duduk di teras rumah kontrakannya sambil memainkan ponselnya.

Terdengar sebuah deruman mesin mobil yang merupakan sebuah taksi berhenti di depan rumah Roby. Siapa yang datang?

Dia melihat dua orang pria dan wanita dan seorang anak yang berumur sekitar enam tahun turun dari mobil tersebut.

'Lho, itu 'kan Mbak Ririn, kakanya Roby. Ngapain mereka kesini? Apa mereka akan tinggal serumah dengan Roby dan Linda? Wah bisa gawat, setahuku Mbak Ririn ini 'kan orangnya cerewet dan egois. Bisa habis Linda dibuatnya nanti,' batinnya.

Dia juga melihat Roby dan Linda serta anaknya keluar dari rumah demi menyambut kedatangan Ririn dan Galuh, suaminya.

Tampak jelas sekali dari tatapan dan sikap Ririn yang tak menyukai Linda. Ia malah langsung menyuruh Linda membawakan semua kopernya sedangkan saat itu Linda sedang menggendong Dela. Dan Roby malah masuk ke dalam tanpa ikut membantu Linda.

Geram sekali Dimas melihatnya. Dengan penuh emosi, dia pun mendatangi Linda dan menarik paksa koper besar milik Ririn dan suaminya. Dia langsung masuk ke dalam rumahnya setelah mengucap salam.

Di dalam, terlihat Roby, Ririn, Galuh sedang duduk di ruang tamu sambil mengobrol santai. Tampak jelas raut keterkejutan di wajah mereka saat melihat Dimas tiba-tiba masuk.

"Mbak, ini koper besar Mbak." Dimas menatapnya dengan datar.

"Lho, kamu Dimas temennya Roby 'kan?" tanya Ririn.

"Iya, Mbak. Dia tetanggaan sama aku," sahut Roby.

"Oh, ngapain kamu bawain koper saya? Itu 'kan tugas Linda."

"Yang punya koper, siapa, yang bawa siapa," Sindirnya pada Ririn.

"Ya terserah saya mau nyuruh siapa. Lagian kamu ngapain kesini, kan nggak diundang. Main nyelonong masuk aja."

"Maaf, Mbak. Saya punya hati, jadi saya bantuin Linda bawa koper raksasa ini. Kasihan 'kan dia. Lagi gendong anak, malah di suruh bawa yang berat-berat. Kenapa nggak Roby aja yang Mbak suruh."

"Rob, usir dia," perintah Ririn.

"Mas, ikut gue, yuk." Roby mengajaknya keluar. Sedangkan Linda sudah masuk dan membuatkan teh untuk para manusia tidak berguna itu.

"Mas, Lo ngapain, sih? Lo tau kan Mbak Ririn itu orangnya cerewet dan suka marah-marah."

"Lo itu suami bukan, sih, Rob. Lo biarin istri lo ngangkat koper sebesar itu sedangkan dia lagi gendong anak. Lo punya hati nggak sih?" Dimas menatapnya dengan penuh kekesalan. Geram sekali hingga ingin membuatnya memukul pria itu.

"Mas, urusan rumah tangga gue bukan urusan Lo. Lo emang sahabat gue, tapi nggak seharusnya Lo ikut campur urusan rumah tangga gue. Mau dia gue suruh manjat genteng ya itu terserah gue. Dia istri gue, bukan istri lo." Roby menunjuk-nunjuk wajah Dimas dengan jarinya.

Dimas menatapnya tidak percaya. Bisa-bisanya dia memperlihatkan kebusukannya di depan Dimas.

"Rob, gue minta maaf. Tapi gue nggak nyangka Lo bisa bicara kayak gini. Gue kira Lo tuh suami yang baik buat Linda."

"Peduli apa lo sama Linda. Atau jangan-jangan Lo suka sama Linda?" Roby menatap penuh curiga.

"Gue nasihatin Lo bukan karena gue suka sama Linda. Gue cuma mau ingetin Lo sebagai sahabat gue!"

"Mas, cukup." Tiba-tiba ku dengar suara Linda di belakang mereka.

"Linda." Dimas terkejut melihat keberadaannya yang entah sejak kapan.

"Mas, mending sekarang kamu pulang. Kamu nggak boleh sembarangan masuk ke rumah orang dan bikin keributan. Aku mohon, Mas. Pergi."

Dimas melihat mata Linda berkaca-kaca. 'Astaga, apa yang telah aku lakukan? Apa aku telah melukai hatinya. Kenapa aku baru sadar kalau yang aku lakukan ini hanya akan membuat Linda semakin tersiksa,' batinnya merasa bersalah.

"Maaf." Hanya itu yang bisa dikatakannya pada Linda. Dia pun segera pulang ke rumahku. Setelah dia masuk, dia mengintip mereka yang masih di depan dari jendela kamarnya.

Terlihat Roby menunjuk-nunjuk wajah Linda sambil marah-marah. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah.

"Astaga, maafkan aku Linda. Tidak seharusnya aku membuat keributan disana."

Setelah itu Linda juga ikut masuk. Samar-samar terdengar dari dalam rumah itu suara suruhan dan hardikan dari Ririn kepada Linda.

"Lin, ini kenapa kamar kok berantakan banget. Pasti karena anak kamu, ya. Beresin cepetan. Aku mau istirahat. Habis ini masakin makanan yang enak buat kami. Terus jangan lupa mandiin Genta, aku capek!"

Begitulah kalimat yang didengarnya dari Ririn.

"Ya Allah, kenapa ini bisa terjadi. Sepertinya mulai sekarang Linda akan mengalami kesulitan hidup yang lebih berat dari sebelumnya. Memiliki suami seperti Roby saja sudah membuatnya menderita. Apalagi dengan kedatangan Kakak ipar yang bertindak sesuka hatinya saja. Terlebih lagi itu rumah Mbak Ririn, pasti dia akan semakin tersiksa."

Terpopuler

Comments

Fi Fin

Fi Fin

gimana caranya supaya linda pisah sama Roby ..sdh ga tahan liat kebiadapan Roby dan kakak nya

2024-04-10

0

Ayas Waty

Ayas Waty

lengkap sudah penderitaan Linda

2023-01-24

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!