🥀POV LINDA🥀
"Lindaaaaa! Cepetan dong, Genta udah laper!" teriak Mbak Ririn, kakak ipar ku yang merupakan pemilik rumah yang aku dan Mas Roby tempati.
Sejak kedatangannya kemarin, rumah ini serasa semakin tidak nyaman saja. Mbak Ririnsesuja hatinya menyuruhku ini itu tanpa memperdulikan keadaanku yang tengah menggendong Dela atau sedang sibuk dengan pekerjaan lain.
Aku tergopoh-gopoh membawa mangkuk berisi sayur ke atas meja makan.
"Masak aja lama banget, si," gerutu Mbak Ririn.
"Maaf, Mbak. Aku gendong Dela, jadi kesusahan masaknya," jawabku. Berharap dia akan mengerti.
"Ya kan kamu bisa taroh dia di lantai."
"Maaf, Mbak. Dulu pernah saya taruh di lantai, tapi Dela malah merangkak kemana-mana karena nggak ada yang mengawasi." Aku melirik Mas Roby yang masih sibuk memainkan ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Saat dulu aku meletakkan Dela di lantai, aku meminta Mas Roby mengawasinya. Namun apa yang terjadi? Dela malah merangkak ke depan rumah yang merupakan jalanan kecil. Untung saja ada tetangga ku yang melihatnya, kalau tidak, entah apa jadinya anakku saat itu. Sedangkan Mas Roby malah marah-marah kepadaku karena tak becus menjaga anak.
"Halah, banyak alasan kamu! Suapi Genta makan!" titah Mbak Ririn.
"Mbak, Genta kan udah besar. Dion yang usianya lima tahun saja udah bisa makan sendiri. Aku mau cuci piring dan pakaian yang Mbak suruh aku cuci tadi. Dela juga udah merengek minta disusuin." Aku beralasan. Apa dia tidak punya mata sehingga menyuruhku seenaknya. Anak, anaknya tapi kenapa harus aku yang repot.
"Heh! Kamu itu kan cuma numpang disini. Masih syukur adikku ngasih kamu makan. Dela, biarin ajalah. Lemah banget sih sama anak."
Aku menghela nafas panjang. Ku hampiri Mas Roby untuk menyerahkan Dela. "Mas, tolong pegangin Dela, dong. Aku mau siapin Genta."
"Nggak ah, kamu aja. Itu 'kan tugas kamu, kenapa malah ngerepotin aku. Kalau kamu nggak mau repot ngapain punya anak!" sergah Mas Roby sambil terus memainkan ponselnya.
"Mas, kalau kamu nggak nidurin aku, aku juga nggak bakal hamil Dela!" jawabku sengit. Mudah sekali kata-kata itu terlontar dari mulutnya.
Mendengar ucapan ku, Mas Roby terlihat sangat marah. "Apa kamu bilang? Udah berani kamu ngelawan aku, ya."
"Ya Mas itu egois. Mas mau enaknya aja. Setelah lahir nggak mau tau. Kamu tau nggak Mas, ucapan kamu itu seakan menyesali lahirnya Dela!" Aku menatap Mas Roby dengan kesal.
Entah kenapa aku jadi berani seperti ini. Apa karena kedatangan Dimas kemarin. Jelas sekali dia dapat melihat ketidakadilan di rumah ini. Sayang, terpaksa aku mengusirnya karena tak ingin dia kenapa-kenapa karena Mas Roby. Bisa gawat kalau Mas Roby sampai marah dan menghajarnya habis-habisan. Aku dapat uang darimana untuk membiayai pengobatannya.
"Linda, cepetan dong! Kok malah berdebat lagi, sih."
Aku menoleh ke Mbak Ririn. Wajahnya tampak sangat marah. Aku pun bergegas menghampirinya dan menyuapi Genta. Anak berusia lima tahun yang tidak mengerti apa-apa. Sama halnya dengan ibunya, sepertinya Genta mewarisi sifat Mbak Ririn yang pemalas dan taunya hanya menyuruh saja.
"Dek, harusnya kamu yang suapin Genta. Linda itu anaknya dua. Nggak kasian kamu?" Akhirnya Mas Galuh, suami Mbak Ririn membelaku. Meskipun aku tahu, itu sama sekali tidak akan membantu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Ayas Waty
Udah cerai saja dg roby
2023-01-24
0