☘️POV DIMAS☘️
"Pa, Ma. Dimas mau pindah rumah."
"Apa?" Begitulah reaksi orang tuaku saat mendengar aku ingin pindah rumah.
"Mau pindah kemana? Kamu nggak betah tinggal disini?" tanya Mama dengan sorot mata yang begitu tajam. Bahkan terkesan melotot.
"Di kontrakan dekat kantor, Ma. Dimas takut ada yang curiga sama Dimas. Soalnya kemarin ada yang coba ikutin Dimas," ucapku berbohong.
Padahal aku kesana hanya ingin melindungi Linda. Ini terjadi karena dua hari lalu, orang suruhanku mengatakan bahwa orang tua Linda kecelakaan dan meninggal dua tahun yang lalu saat hendak menjenguk Linda. Dan parahnya, warisan orang tuanya direbut oleh saudar orang tuanya. Sebab itulah Linda hanya menggantungkan hidupnya pada Roby. Itu sebabnya aku langsung menghubungi pemilik kontrakan dan meminta tinggal disana meskipun dengan harga mahal. Karena usut punya usut, rumah itu akan ditempati anak pemiliknya.
Dengan aku tinggal di dekat rumah mereka, otomatis Roby tidak akan bisa berbuat sesuka hati kepada Linda. Karena rumah kontrakan yang akan aku tempati ini hanya berjarak lima meter dari rumah mereka. Sungguh dekat bukan? Bahkan suara tangis anaknya akan terdengar olehku.
"Siapa?" tanya papa.
"Nggak tau, Pa. Nggak lihat wajahnya."
"Apa harus pindah?" Mama kembali bertanya.
"Ya mau bagaimana lagi, Ma, Pa. Kalau misi Dimas berhasil, Dimas akan pulang lagi ke rumah ini kok," ucapku meyakinkan.
"Di daerah mana?" tanya Mama.
"Daerah Kenanga, Ma."
"Bukannya itu daerah tempat tinggal Roby, teman kamu dari SMA." Papa menyahut.
"Iya, Ma, Pa. Bahkan rumah kami akan berdekatan nanti."
"Ya udah deh, kalau tinggalnya dekat Roby, nggak papa. Mama suka soalnya Roby baik banget anaknya. Sopan juga."
Apa? Baik? Sopan? Mama tidak tau saja kalau Roby itu pria berengsek dan tidak bertanggung jawab.
"Tapi Mama sama Papa jangan kesana. Nanti ketahuan kalau Mama dan Papa orang tua Dimas. Soalnya selama ini Dimas bilang ke Roby kalau Mama dan Papa itu majikan orang tua Dimas bekerja."
"Apa????" Mama kembali berteriak dan melotot padaku. Sedangkan papa menepuk dahinya.
"Bisa-bisanya kamu bilang orang tua kamu pembantu!".
"Bukan gitu, Ma. Ini semua kan demi rencana Dimas. Dan Dimas juga nggak mau bilang kalau Dimas anak orang berada. Takutnya dimanfaatkan teman." Aku mencoba memberi pengertian kepada mereka.
"Aduh, kepala Mama pusing, Pa." Mama memijit pelipis matanya.
"Lagian kamu kenapa sih kok suka banget dipandang kere. Kayak adik kamu yang kuliah di Australia dong. Dia selalu memperlihatkan siapa orang tuanya," ucap papa dengan bangganya.
"Udah deh, Ma, Pa. Izinin Dimas pindah ya. Lagian kan si Divan bakalan pulang sebulan lagi. Dia udah lulus S2 kan, Ma, Pa?"
Mama dan Papa mengangguk. "Ya udah deh, memang kamu itu dari dulu keras kepala. Tapi kamu sering-sering ngunjungin Mama dan Papa, ya."
"Iya, Ma, Pa." Aku mengangguk.
"Kapan kamu mau pindah?"
"Besok siang, Ma."
"Apa??? Dimaaaas!!" Mama kembali melotot dan kali ini teriakannya semakin kencang saja. Aku dan papa sampai menutup telinga kami agar tidak tuli.
"Lebih cepat lebih baik, kan Ma."
"Astaghfirullah, kenapa nggak minggu depan aja sih." Mama megelus dada.
"Nanti keburu ketahuan, Ma."
"Udah, Ma, udah. Biarin Dimas pindah besok. Papa yakin Dimas nggak akan mengecewakan kita." Papa tersenyum sambil menepuk pundak ku. Tidak, bukan menepuk, tetapi memukul dan mencengkram karena rasanya lumayan sakit sampai aku meringis.
Dalam tatapan mata papa aku dapat melihat Kalimat 'Dasar anak nakal'.
Aku terkekeh sekaligus meringis. Aku tau Papa sangat menyayangi ku lebih dari Mama. Itu sebabnya dia melampiaskan kekesalannya dengan mencengkram bahuku.
Setelah mendapat restu, aku pun bergegas ke kamar. Mengepaki semua barang-barang sepeti pakaian, alat mandi, alat kerja dan sebagainya. Aku sudah mengajukan cuti untuk dua hari. Terlebih aku harus menyusun semua barang-barang ku seorang diri.
Aku sudah memberi tahu Roby perihal kepindahan ku kesana kemarin. Dapat ku lihat wajah Roby yang berubah pias. Aku yakin dia takut jika aku mengetahui segala keburukannya yang selalu ia tutupi. Dan masalah gajinya, pasti dia juga takut aku akan memberitahu Linda. Jika saja Linda tau, apa dia akan meninggalkan Roby? Astaga, apa yang aku pikirkan. Misiku hanya untuk membuat Roby bersikap lebih baik pada Linda, bukan merebutnya. Tapi jika Linda sendiri yang tidak mau lagi dengan Roby, aku akan dengan senang hati menggantikan Roby. Astaga, pikirkan ku.
Aku segera menghubungi pemilik kontrakan guna memastikan rumah sudah bersih. Karena aku tidak mau tinggal di rumah yang kotor.
Baiklah, kita lihat saja Roby. Apa kamu masih memperlakukan Linda dengan seenak jidatmu setelah aku tinggal disana.
Dering ponselku berbunyi. Ternyata dari orang suruhanku. Katanya, ia melihat Roby ke rumah seseorang dan memberikan sejumlah uang. Tapi dia tak melihat siapa yang diberikan uang. Apakah orang tuanya? Atau orang lain. Ah Roby, kamu licik sekali jadi suami. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu jika kamu berani macam-macam pada Linda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Ayas Waty
aq mendukung mu Dimas
2023-01-24
0