Chapter 17 - Kelakuan Roby

🍀POV DIMAS🍀

Sudah beberapa hari ini aku tak berbicara kepada Roby. Jangankan berbicara, menyapa pun tak kami lakukan. Ternyata persahabatan yang terjalin sangat lama dapat rusak karena kelakuan salah seorang yang kurang baik.

Aku sedang berkutat dengan komputer di depanku. Ya, aku dan Roby memang bekerja dibagian kantor. Meja kami bersebelahan, hanya tertutup sekat yang terbuat dari stainless.

Ku dengar suara ponsel Roby berdering. Dengan cepat ia menjawab dengan nada seramah mungkin. Aneh, tidak mungkin itu Linda. Dia kan tidak punya ponsel. Lagipula mana mungkin Roby akan berbicara lembut pada Linda.

"Kamu tunggu di situ aja, ya. Lima belas menit lagi istirahat. Aku akan temui kamu disana," ucap Roby dengan setengah berbisik. Namun karena aku fokus telingaku, maka aku dapat mendengarnya dengan jelas.

Siapa gerangan yang ditelepon oleh Roby? Aku jadi penasaran.

Tepat lima belas menit kemudian, kami pun istirahat. Ku lihat Roby bergegas keluar. Diam-diam aku mengikutinya dengan motorku dari jarak yang agak jauh.

Motor Roby berhenti di sebuah cafe mahal yang kebanyakan pengunjungnya adalah pasangan kekasih atau pasangan menikah. Itu dapat dilihat dari dekorasinya yang bernuasa romantis.

Aku pun membuntuti Roby ke dalam cafe itu. Betapa terkejutnya aku karena Roby menemui seorang wanita yang aku kenal. Ternyata, dia bertemu dengan Yulia, teman kami saat masih kuliah.

Keterkejutan ku semakin menjadi saat melihat mereka saling bercipika cipiki dan berpelukan. Apa ini! Apakah mereka punya hubungan? Kurang ajar kamu Roby!

Aku duduk di bangku yang tak jauh dari mereka. Aku memesan makanan lalu menutupi wajahku dengan koran sambil memperhatikan mereka.

Tepat saat pelayan memberikan mereka makanan, ia langsung menaruh penyadap dibawah meja mereka. Jelas sekali itu aku yang menyuruhnya. Karena sebenarnya, cafe mahal ini adalah milik Om Bagas yang merupakan adik ayahku. Aku bisa bebas dan leluasa meminta pelayan melakukan apa yang aku suruh.

Aku pun mulai mendengarkan obrolan mereka dari alat penyadap itu. Tak lupa beberapa kali aku memotret kebersamaan mereka. Saling menyuapi, berpegangan tangan, hingga yang paling menjijikkan, saat Roby mencium tangan Yulia dengan sangat mesra.

"Sayang, kapan kamu akan menceraikan Linda?"

"Maaf, sayang. Aku sedang berusaha. Saat ini dia sedang tersiksa di rumah karena sejak kedatangan Mbak Ririn, pekerjaan rumah yang dilakukannya jadi dua kali lipat. Saat dia menyerah, pasti dia akan minta cerai dariku."

Astaghfirullah, Roby. Tega sekali dia melakukan hal ini pada Linda. Aku mengepal kedua tanganku sangking emosinya.

"Masih lama dong, Mas. Aku ingin secepatnya menikah dengan kamu. Setelah kita menikah, papa akan langsung membuat kamu menjadi manager di perusahaan tempat kamu kerja."

Apa? Menjadi manager di perusahaan papaku? Memangnya siapa ayahnya? Atau jangan-jangan papa Yulia adalah orang yang membuat perusahaan papa jadi tidak stabil? Apa dia orangnya? Aku akan segera mencari tahu.

"Mas, besok 'kan hari minggu. Kita jadi 'kan jalan-jalan ke mall."

"Aduh gimana, ya. Kamu tahu sendiri kan, sekarang uang belanja di rumah aku tambah karena ada Mbak Ririn dan suaminya ada di rumah. Apalagi suaminya nggak kerja, tahunya cuma di kamar aja."

"Nyebelin banget sih, Abang ipar kamu. Ya makanya kamu cepat ceraikan Linda. Selain kamu jadi manager, posisi lama kamu akan ditempati suami Mbak Ririn."

Apa? Enak saja kamu berkata, Yulia. Lihat saja apa yang akan terjadi nanti setelah aku membuktikan kecurangan yang dilakukan papamu.

Setelah selesai makan siang, mereka pun pergi. Aku menemui pelayan tadi dan meminta rekaman dari alat penyadap tadi. Setelah itu, aku pun pergi dari cafe itu.

Aku masih mengikuti Roby dan Yulia. Dasar gila! Yulia memeluk punggung Roby dengan sangat mesra dan lengket. Bahkan angin pun tak bisa lewat.

Mereka berhenti di sebuah rumah yang memasuki banyak gang. Sepertinya itu adalah rumah yang Yulia tempati seorang diri. Sepertinya dia melakukan itu agar bisa leluas bermesraan dengan Roby.

"Mas pokoknya besok kita jalan-jalan. Untuk saat ini nggak papa deh aku yang bayarin kamu. Toh nanti kalau kamu sukses, aku juga yang untung."

"Ya udah, sayang. Aku balik ke kantor dulu ya." Roby mencium bibir Yulia dengan sangat mesra.

Dasar gila, siang bolong pun kalian sanggup berciuman di luar rumah. Di luar saja seperti itu, bagaimana kalau di dalam?

Setelah mengantar Yulia, Roby pun kembali ke kantor, begitu juga dengan aku yang berada agak jauh di belakangnya.

Awas kamu Roby, aku akan mengadukan hal ini pada Linda.

Terpopuler

Comments

Ayas Waty

Ayas Waty

bantu Linda lepas dari Roby ya Dimas

2023-01-25

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!