Chapter 7 - Pilihlah

☘️POV DIMAS☘️

Aku baru saja sampai di rumah. Ku lihat mama dan papaku sedang mengobrol di ruang keluarga sambil melihat beberap foto entah foto siapa.

"Dimas? Udah pulang? Kesini sebentar, Nak." Mama melambaikan tangannya.

Aku menurut dan mendekat lalu duduk di samping mereka.

"Ada apa, Ma, Pa?" tanyaku.

"Coba deh lihat." Mama menunjukkan beberapa foto gadis cantik dengan berbagai ciri-ciri good looking.

"Mama mau jodohin Dimas lagi?" tanyaku dengan malas.

"Kamu udah berumur, Dimas. Udah dua puluh tujuh tahun tapi kamu masih betah sendiri. Malu dong sama anak Bi Asih, sudah dua puluh tiga tahun tapi udah nikah," imbuh papa.

"Ya tapi kan nggak perlu dijodohin juga, Ma. Dimas bisa kok cari sendiri."

"Kamu ini kalau dibilangin pasti ngebantah. Mana buktinya kalau kamu usaha nyari? Sampai sekarang nggak ada juga 'kan." Mama mencibir.

"Sabar dong, Ma."

"Lagian kamu ngapain sih pake nyamar jadi karyawan biasa? Kalau kayak gitu 'kan nggak akan ada yang mau sama kamu."

"Ah, siapa bilang Ma. Itu anak Bi Asih dapet jodoh juga kok."

"Kamu ini kalau dibilangin pasti ngeyel."

"Dimas 'kan mau mencari yang udah mencurangi perusahaan, Ma. Kalau perusahaan bangkrut gimana?"

"Hus, kamu ini! Jadi sampai kapan Mama harus nunggu, Mas? Mama 'kan mau nimang cucu. Lihat semua teman Mama udah punya cucu." Mama mendengkus kesal.

"Kasih Dimas waktu ya, Ma. Kalau setahun ini Dimas nggak nemuin jodoh, Dimas pasrah aja kalau Mama jodohin sama wanita pilihan Mama."

"Sebenarnya dulu Mama pernah mau jodohin kamu sama anak teman Mama. Anaknya baik banget. Sayang, mama nggak tau mereka sekarang ada dimana." Mama menghela nafas pasrah.

"Dimas ke atas dulu ya, Ma." Aku bergegas naik ke atas sambil terus mendengar omelan kecil mama.

Aku merebahkan diriku di atas ranjang besar. Ku pandangi langit-langit kamarku. Terlintas bayangan Linda yang bernasib malang. Senyumnya yang dulu selalu membuatku deg degan sekarang berubah menjadi tangis kesengsaraan.

Sejenak aku berpikir, bagaimana caranya aku menyadarkan Roby. Apa aku harus membuatnya dipecat? Ah tidak, tidak. Kalau itu terjadi, Roby nanti akan semakin memperbudak Linda. Pasti dia akan menyuruh Linda bekerja sedangkan dirinya hanya ongkang-ongkang kaki saja.

Aku berdiri dan berjalan ke depan cermin. Aku mengacai wajahku. Ku lepas kacamata yang sebenarnya tidak berminus itu. Aku memang memakainya sebagai penunjang penampilanku sebagai karyawan biasa. Jika aku menunjukkan wajah tampanku, maka para karyawati pasti akan mendekati ku dan menghalangiku menyelidiki kecurangan di perusahaan papa.

Ku ambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Aku menyalakan shower dan mengguyur seluruh tubuhku. Aku menutup mataku agar guyuran air tidak masuk. Namun lagi-lagi hanya bayangan Linda yang muncul.

Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menyelidiki apa yang membuat dia bertahan dengan Roby. Apa karena anak, uang, atau lainnya.

Setelah selesai mandi, aku segera memakai baju lalu menelepon orang kepercayaan ku. "Tolong selidiki wanita ini. Aku akan mengirim foto dan alamat rumahnya. Selidiki semuanya."

Aku mematikan telepon. Ku kirim foto Linda yang sempat ku ambil diam-diam saat di menjemur pakaian. Kemudian, aku mengirim alamat rumah Linda. Aku berharap mendapat kabar baik.

Terpopuler

Comments

Ayas Waty

Ayas Waty

semangat Dimas rebut Linda

2023-01-24

1

Lie naa

Lie naa

ayooo Dimas, buruan selametin Linda dr roby

2023-01-22

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!