🥀POV LINDA🥀
Aku sedang memasak di dapur. Hari ini aku akan memasak ayam yang aku dapatkan dari kurir tadi. Beruntungnya aku karena mendapatkan rezeki lagi hari ini.
"Ini sembako darimana?" tanya Mas Roby saat melihat banyak sembako di dapur rumah kami.
"Tadi ada kurir nganterin buat kita, Mas. Katanya dari orang kaya dan hanya warga terpilih aja yang dapat. Alhamdulillah ya." Aku tersenyum menatap banyak sembako yang tak perlu aku pusingkan lagi beli pakai apa.
"Aneh. Kemarin dapat uang di klinik. Sekarang dapat semabako." Mas Roby menatap penuh selidik.
"Syukurin aja lah Mas. Dengan gini kan bisa menghemat pengeluaran."
"Kamu nggak lagi selingkuh, 'kan?"
"Astaghfirullah, Mas. Ya enggak lah. Mana mungkin. Aku aja sibuk ngurusin rumah dan anak, Mas." Aku menatap Mas Roby dengan tatapan tidak percaya.
"Ya mungkin aja. Tapi kalau kamu selingkuh kayaknya nggak mungkin deh. Kamu kan jelek. Udah jelek, nggak becus lagi jadi istri." Mas Roby menatapku dengan tatapan merendahkan.
Ingin rasanya aku berteriak. Memakinya dan menumpahkan semua uneg-uneg ku selama ini, namun itu hanya akan membuat Mas Roby marah dan anak-anakku akan merasa takut. Ku tarik nafasku lalu mengeluarkannya perlahan.
"Mas, ini." Aku menyerahkan sebuah daftar belanjaan kepada Mas Roby. Itulah daftar kebutuhan makan kami selama sebulan. Dari beras, minyak, gula, kopi, teh, sayur mayur, tempe, tahu, ikan (kadang-kadang), gas, listrik, air, bensin, bumbu dapur, dan rempah-rempah. Jika ditotal semua berjumlah 1 juta enam ratusan.
"Ngapain kamu ngasih ini? Kamu pikir aku percaya?" Mas Roby melempar daftar belanjaan ku ke lantai.
"Kalau Mas nggak percaya, ayo kita ke warung. Kita tanya semua harga ini benar atau nggak."
"Nggak perlu. Kalaupun jumlahnya segini, harusnya kamu itu lebih hemat dan lebih giat lagi cari uang. Masa jadi buruh cuci untuk tiga rumah aja. Kenapa nggak sepuluh rumah sekalian. Jadi kan kebutuhan dapur bisa dicukupi." Mas Roby menatap kesal. Tampak jelas sekali jika dia tau bahwa dia salah namun tak mau tau.
"Tangan aku cuma dua, Mas. Anak-anak cuma aku yang jaga, terus kamu nyuruh aku nyuci sepuluh rumah? Kamu punya hati nggak sih, Mas." Tanpa terasa air mataku menetes. Sesak sekali rasanya diperlakukan seperti ini.
"Denger ya. Kamu itu cuma numpang di rumah aku. Kamu juga numpang hidup sama aku. Kamu itu udah jadi benalu di hidupku. Harusnya kamu sadar diri. Aku kasih kamu uang setiap bulan untuk makan kamu dan anak-anak. Harusnya kalian berterimakasih sama aku. Karena udah ngasih kalian makan."
Emosiku seketika naik mendengar ucapan Mas Roby. "Mas, memberi nafkah kepada anak dan istri itu adalah kewajiban suami. Haram hukumnya jika suami mengungkit nafkah yang sudah ia berikan kepada istrinya."
"Kamu jangan sok ngajarin aku! Denger ya, karena sembako di rumah ini udah ada, maka yang belanja kamu akan aku potong!" Mas Roby pergi meninggalkan aku yang menangis di dapur.
Terlihat Dion mengintip dari pintu kamar mandi. Astaga, aku lupa jika Dion tadi sedang mandi. Pasti dia mendengar semuanya. Ah, tapi dia masih anak-anak. Dia mana mungkin mengerti. Segera ku hapus air mataku.
"Dion, kok berdiri di situ aja. Ayo ganti baju. Habis itu kita makan. Ini ibu masak ayam," ucapku sembari tersenyum.
Dion mengangguk lalu pergi mengganti baju. Aku segera menyiapkan makanan ke meja makan. Aku mengecek Dela yang masih tertidur. Lalu mengajak Dion yang sudah selesai mengganti bajunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Ayas Waty
yg sabar ya Lin
2023-01-24
0