"Udah diem kamu, Mas. Mau aku usir biar jadi gelandangan kamu? Udah nggak kerja, taunya makan tidur aja!" omel Mbak Ririn.
Mendengar ucapan Mbak Ririn, Mas Roby langsung menyahut. "Terus kalau Mas Galuh nggak kerja, aku yang nanggung semua biaya makan kalian?"
"Ya iyalah, siapa lagi. Kenapa? Mau protes? Kalau nggak mau, pergi kalian dari rumah ini. Enak aja numpang gratis."
Mendengar ucapan Mbak Ririn, Mas Roby menjadi risau. Terang saja, untuk hidup kami saja masih kurang. Konon mau menambah orang lagi?
"Mbak kok perhitungan banget sih, sama aku." Mas Roby menatap kesal.
"Udahlah, jangan banyak drama kamu. Kata ayah dan ibu, kamu nggak usah kasih uang bulanan lagi ke mereka. Ayah udah punya usaha jahit di rumah. Gaji kamu 'kan lima juta. Masa untuk kebutuhan dapur untuk tujuh orang aja kamu nggak bisa penuhi."
Jdeeerrrrr
Serasa disambar petir saat aku mendengar ucapan Mbak Ririn. Gaji lima juta perbulan? Apa-apaan ini. Sedangkan Mas Roby mengaku hanya satu setengah juta. Jadi selama ini, aku dibohongi olehnya?
Mataku berkaca-kaca saat menatap Mas Roby yang langsung terlihat gelagapan. Jika benar begitu, berarti sudah tiga tahun aku dibohongi olehnya. Tega sekali kamu, Mas.
Aku meneruskan menyuapi Genta tanpa berkata apapun. Terlihat jelas wajah Mas Roby yang sangat kesal dan marah.
Setelah menyuapi Genta, aku membawa Dela ke kamar untuk aku susui. Dalam beberapa menit, bidadari kecilku itu langsung tertidur pulas.
Tak lama kemudian, Mas Roby masuk ke dalam kamar. Aku tak mengeluarkan sepatah katapun. Terlalu menyakitkan bagiku untuk mengingat semuanya. Tiga tahun aku menjadi buruh cuci hanya untuk dicuragi saja.
"Kamu jangan ge'er aku bakalan minta maaf. Denger ya, kamu itu nggak pantas diberi uang banyak. Nanti jadinya manja. Aku juga ngasih orang tua aku."
Aku masih diam. Tanganku merapikan ranjang yang sedikit berantakan.
"Ayah dan ibu butuh uang setiap bulan, jadi aku kasih mereka. Sekarang Mbak Ririn tinggal disini bareng suami dan anaknya. Otomatis pengeluaran bakalan bertambah. Aku akan kasih uang lebih untuk biaya makan dan lainnya."
Aku masih diam. Tak ada gunanya melawan atau memberi pengertian padanya. Dia ini suami egois, kalau diceramahi sampai mulut berbusa pun tak akan mengerti. Aku cukup belajar dari pengalaman saja. Semakin aku berbicara dan menuntut keadilan, semakin pula aku terluka.
"Kamu dan anak kamu udah cukup menjadi beban hidupku, jadi kamu harus sadar diri."
Aku mengepal kedua tanganku. Sebisa mungkin aku tidak boleh terpancing ucapannya yang menjijikkan itu.
"Heh! Kalau orang ngomong itu dijawab!" sentak Mas Roby.
"Mas udah selesai ngomong? Ya udah, aku mau cuci baju dulu." Aku hendak melangkah keluar, namun Mas Roby malah menahan tanganku.
"Berani banget kamu cuekin aku, ha! Aku lagi ngomong sama kamu!"
"Iya, aku udah dengar dan udah mengerti. Sekarang biarkan aku melakukan pekerjaan di rumah ini, Mas. Kita nggak punya pembantu gratis disini!" jawabku sengit.
Mas Roby melepaskan cengkramannya dari tanganku. Aku pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci pakaian yang sangat banyak dan bau milik keluarga Mbak Ririn.
Menjijikkan sekali! Aku juga harus mencuci pakaian dalam mereka. Kalau Genta tak apalah. Tapi Mas Galuh dan Mbak Ririn? Yang benar saja. Aku bahkan dapat melihat seberapa joroknya mereka dalam memakai benda itu. Bau dan sangat kotor, mungkin mereka menggantinya dua atau tiga hari sekali. Dasar wanita pemalas. Sudah malas, jorok pula.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Fi Fin
tinggal pergi linda jangan lemah jadi wanita
2024-04-10
0
Ayas Waty
udah pergi saja Lin
2023-01-25
0