Chapter 4 - Tega

Aku baru saja sampai di rumah. Raut bahagia terpancar di wajahku. Aku bersiap pergi ke warung dan membayar hutangku senilai tiga ratus ribu rupiah. Sisanya akan aku belikan beras, minyak, gula dan bumbu dapur lainnya. Tak lupa aku juga akan membeli ayam untuk aku sop agar Dion senang. Sudah lama sekali kami tidak makan ayam. Selama ini yang kami makan hanya tempe dan tahu saja. Sekalinya makan ikan setiap awal bulan Mas Roby gajian.

Aku sudah memandikan Dion. Mengelap tubuh Dela dengan air hangat. Sesuai yang dikatakan dokter saat di klinik tadi, dia belum boleh dimandikan. Setelah semuanya siap, kami pun bergegas pergi.

Namun, baru saja berjalan sampai ke pintu, tiba-tiba Mas Roby masuk.

"Sudah pulang, Mas?" tanyaku.

"Hmm," jawab Mas Roby dengan malas. Ya, memang begitulah dia setiap kali aku sapa. Bahkan dia tak menanyakan bagaimana keadaan Dela.

"Ayah, ayo kita jalan-jalan naik motol. Blmmm blmmm." Dion merengek sambil memeluk kaki ayahnya. Ia memperdengarkan suara motor ayahnya.

"Ah, nggak bisa. Ayah lagi capek. Udah sana kamu main aja sama ibu kamu." Mas Roby melepas tangan Dion lalu pergi ke kamar.

Tampak jelas raut kekecewaan di wajah Dion. Aku mengusap kepalanya dengan lembut seraya berkata, "Ayah lagi capek, Nak. Lain kali aja, ya."

Dengan wajah yang masih sedih, Dion mengangguk. Aku kasihan padanya. Sejak dulu, Ayahnya tidak pernah memberikan kasih sayang padanya. Bahkan aku masih ingat saat Dion berusia tiga tahun. Dia tak sengaja menumpahkan minuman ke baju Mas Roby. Mas Roby langsung menarik Dion ke kamar mandi dan mengguyurnya dengan air. Meskipun begitu, Dion tak pernah jera. Dia terus mendekati ayahnya demi mengais sedikit perhatian seorang ayah kepada anak. Meski selalu berakhir, hukuman, seolah itu sudah menjadi perlakuan yang sudah biasa diterima.

"Ayo kita ke warung. Nanti ibu belikan roti cokelat," bujukku padanya.

"Iya, Bu. Ayo pergi." Dion kembali bersemangat.

"Mau kemana kamu?" tanya Mas Roby yang tiba-tiba keluar kamar.

"Mau ke warung, Mas. Mau bayar hutang," sahutku pelan.

"Bayar hutang? Uang darimana?"

"Tadi aku dapat rezeki di klinik. Selain pengobatan Dela gratis, aku juga mendapat uang satu juta."

"Wah banyak banget. Mana uangnya." Mas Roby menadahkan tangannya.

"Mau apa, Mas? Aku mau bayar hutang dan belanja kebutuhan lainnya." Aku berusaha menyembunyikan dompet kecilku.

"Siniin!!" Mas Roby menarik paksa dompet kecilku dan merogo isinya.

"Mas, jangan diambil. Aku mau bayar hutang." Aku berusaha merampas kembali uangku, namun tanganku kalah cepat. Uang itu sudah berada di genggaman Mas Roby.

"Wah lumayan ini buat nongkrong dan beli sepatu baru." Mas Roby tersenyum melihat uang yang kini sudah berganti pemilik.

"Mas, jangan dipakai. Aku mau bayar hutang, Mas. Aku mau beli kebutuhan dapur." Mataku sudah mulai berkaca-kaca.

"Halah! Udah, hutang kamu nanti-nanti aja dibayar kan bisa. Aku lagi butuh sepatu baru nih. Udah jangan nangis. Udah jelek, tambah jelek kamu." Mas Roby melenggang pergi ke luar. Ku dengar dia menghidupkan motor lalu pergi entah kemana.

Aku terduduk dengan rasa sesak di dada. Hatiku hancur melihat kelakuan suamiku yang semakin egois. Bahkan kini dia tega mengambil uang yang harusnya untuk kebutuhan rumah tangga kami. Dia malah menggunakannya untuk hal yang tidak penting.

"Ya, Allah. Apa salah hamba. Kenapa engkau memberi hamba ujian seberat ini selama bertahun-tahun." Aku menangis sesenggukan. Ku lihat Dion mengambil ujung kain gendong Dela dan menghapus air mataku. "Ibu jangan nangis." Hanya itu yang mampu putraku ucapkan setiap aku menangis.

"Maafkan ibu ya, Nak. Ibu nggak jadi beliin kamu roti. Uangnya diambil ayah." Aku mengusap kepala Dion dengan lembut.

"Iya, Bu. Jangan nangis." Dion memeluk erat tubuhku. Sakit sekali rasanya saat melihat keinginan kecil seorang anak harus pupus karena keegoisan ayahnya. Menyesal aku memberitahu perihal uang itu.

Jika saja ibu dan ayahku masih hidup, pasti sudah ku tinggalkan Mas Roby. Pasti aku tidak perlu menahan penderitaan ini. Sayang, dua tahun yang lalu keduanya dipanggil Allah karena kecelakaan saat ingin menjenguk aku.

Rasa rindu membuat mereka nekat menerobos jalan raya dengan sepeda motor. Dan itu semua karena Mas Roby selalu melarang aku pulang ke rumah orang tuaku. Padahal, jarak tempuhnya hanya satu jam. Dan karena kerinduan yang terus membelenggu, mereka nekat datang kesini di usia yang semakin renta. Tak ada angkutan umum di daerah mereka sehingga mengharuskan mereka naik motor. Dan sebuah teruk bermuatan pasir, menabrak mereka hingga meninggal dunia.

Jika ini karma yang aku dapat karena telah melakukan zina dan hamil diluar nikah, kenapa Mas Roby tidak menerimanya? Ku lihat keluarganya hidup berkecukupan. Padahal ayah Mas Roby hanya pensiunan yang mengharapkan gaji yang sedikit setiap bulan. Tapi anehnya, setiap datang kesini, mereka selalu bergonta-ganti pakaian bagus, emas ibu mertua juga banyak. Aku heran darimana mereka mendapatkannya sedangkan anak mereka satu-satunya yaitu Mas Roby tak mempunyai gaji yang cukup. Bahkan untuk menghidupi keluarga kami saja masih kurang. Sepertinya memang ada yang disembunyikan Mas Roby.

Terpopuler

Comments

Nur Afiyah

Nur Afiyah

emank bodoh si istri

2023-05-10

0

宣宣

宣宣

😭😭😭

2023-02-16

1

Ayas Waty

Ayas Waty

udah tau suami pelit ngapain harus kamu kasih tau klo barusan dapet uang

2023-01-24

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!