Chapter 10 - Tetangga baru

"Sudah semuanya, Pak," ucap seorang supir pick up padaku saat menurunkan barang terakhir.

"Terima kasih, ini ongkosnya." Aku memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada supir pick up itu.

Setelah ia pergi, aku pun mulai berbenah. Menyusun semua barang-barang milikku. Tadinya aku ingin melihat Linda dulu, namun ternyata dia sedang mencuci di rumah tetangga. Itu kata orang suruhanku. Membayangkannya saja aku tidak tega. Bagaimana dia mencuci sambil menjaga dua orang anak yang masih kecil? Dasar Roby, awas saja kamu.

Aku menata pakaianku di lemari. Di dalam kamar yang pas-pasan itu, ada sebuah jendela berbentuk horizontal yang tampak gelap dari luar, namun aku dapat melihat keluar dengan jelas. Orang tidak akan tahu jika aku melihat Linda sepanjang dari dari jendela ini.

Begitu juga dengan kamar di sebelah. Aku dapat melihat dan mendengar aktivitas di kamar Linda. Astaga, aku sudah seperti seorang maniak.

Di dapur, terdapat pintu belakang yang menuju ke taman kecil dan bangku taman rumah itu. Sehingga, aku dapat melihat dan mendengar apa yang terjadi di dapurnya.

Tunggu hingga saat aku menyadap rumah itu dengan CCTV. Jika aku menemukan tindak kekerasan, maka aku akan melaporkannya. Namun aku masih belum menemukan waktu yang tepat. Tidak mungkin 'kan aku masuk ke dalam rumahnya dan memasang CCTV.

Satu jam, aku sudah selesai membereskan semua barang-barangku. Karena bawaanku sedikit, tidak perlu waktu lama untukku menyelesaikannya.

Samar-samar ku dengar suara rengekan anak kecil di samping rumah. Ku lihat melalui jendela ternyata itu Dion yang sedang merengek pada Linda.

"Bu, Dion mau itu." Dion terlihat menunjuk seorang tukang es krim keliling yang diperkirakan harganya hanya dua ribu rupiah.

"Sabar ya, Nak. Ibu nggak punya uang. Uang belanja bulan ini dikurangin sama Ayah."

Apa dikurangi? Kenapa? Apa karena sembako yang kirim pada Linda? Jadi Roby memotong uang belanja Linda karena sembako itu? Keterlaluan kamu, Roby!

Aku melihat mereka sudah masuk ke rumah. Diam-diam aku pergi lewat arah lain menuju tukang es krim itu. Aku memberikannya uang untuk sebuah eskrim yang paling enak. Ya, memang ada takaran dan rupa untuk setiap harga.

"Ini, Bang. Tolong kasih sama anak yang di rumah itu, ya." Aku menunjuk rumah Linda. "Jangan bilang dari saya. Bilang aja traktiran dari pelangan Abang,' ujarku.

"Oke, Bang." Si tukang es krim pun pergi ke rumah Dion dan memberikan sebuah eskrim berukuran besar dengan banyak toping dan cup yang cantik.

Ku lihat betapa senangnya hati Dion menerima es krim itu. Ia sampai melompat kegirangan. Linda langsung mempertanyakan soal es krim itu. Si Abang es krim menjawab seperti yang aku suruh. Dan itu membuat Linda percaya.

Setelah kepergiannya, Linda menemani Dion makan es krim di depan teras. Ku lihat dia menyeka sudut matanya yang berair. Aku tahu pasti dia merasa sedih karena hidup serba kekurangan seperti ini.

Sore menjelang, aku sengaja duduk di depan teras rumah kontrakan ku sembari menunggu Roby pulang bekerja. Aku ingin melihat apakah dia berani mengajakku ke rumahnya atau mengajak istrinya ke rumahku?

Yang ku tunggu akhirnya tiba, Roby baru saja pulang kerja. Aku berpura-pura memainkan ponselku. Padahal, aku sedang menunggunya menghampiriku.

Benar saja, dia langsung datang menghampiriku.

"Hei, Mas," sapanya.

Aku mendongak dan melihat ia tersenyum padaku. Cih, senyuman palsu.

"Hei, Rob. Baru pulang?" tanyaku basa-basi.

"Iya, lo udah beberes? Mau gue bantuin?" tawarnya.

Tidak perlu membantuku, kamu bantu saja istrimu sendiri. Dasar suami tidak berguna. Rutukku dalam hati.

"Udah, barang gue sedikit kok."

"Ya udah gue balik dulu, ya." Roby hendak melangkah pergi namun aku menahannya.

"Rob, tadi gue lihat ada perempuan bawa dua anak ke rumah lo. Mukanya mirip Linda tapi ini lebih kurus. Beneran dia Linda?" tanyaku ingin melihat ekspresinya.

"Iya, dia Linda. Dia itu lagi menyusui, makanya bandannya habis."

"Oh, kok beda banget sekarang, ya."

"Bedalah, dia itu kan nggak mau dandan."

"Oh, lo nggak mau ketemuin gue sama Linda? Udah lama banget loh gue nggak ketemu dia. Tiba-tiba jadi tetangganya."

Roby tampak bingung. Ia menggaruk belakang kepalanya seperti orang yang kehabisan ide.

"Nanti malem gue ajak dia ke rumah lo ya. Menyambut tetangga baru," ujarnya seraya tersenyum.

"Oke, gue tunggu ya. Jangan baw apa-apa. Gue mau pesen banyak makanan. Biar kita makan malem bareng," ujarku.

Roby mengangguk lalu pamit pulang ke rumahnya. Aku tersenyum puas, usahaku untuk bertemu Linda berjalan lancar. Malam nanti, aku akan menjamu mereka dengan makanan yang enak. Akhirnya aku punya cara menyenangkan Linda dan Dion tanpa harus melalui tangan orang lain.

Linda, Linda. Kenapa kamu bernasib seperti ini. Menikah dengan pria bermodal tampang saja. Jika kamu bersamaku, pasti sekarang kita tengah bahagia. Mengajak anak kita jalan-jalan setiap akhir pekan, memberi makanan dan pakaian yang layak, memberi waktu perawatan di salon. Ah Linda, andai saja waktu itu aku lebih berani mengatakan isi hatiku.

Terpopuler

Comments

Ayas Waty

Ayas Waty

rencana baik pasti dikabulkan

2023-01-24

1

Ami Tarmini

Ami Tarmini

si Dimas banyak akal untuk bantu Linda dan anak anak nya😇

2023-01-22

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!