Fatir yang terus menerus berlatih kini makin mampu menguasai mata Elang yang ada padanya bahkan sinar merah tampak keluar dari matanya.
"DUAAAAAAR" Batu batu besar itu berhamburan dikarenakan latihan Fatir dengan mata elangnya yang mengeluarkan sinar merah pemusnah itu.
Kini ia bahkan telah bisa dengan sangat mudah memecahkan batu batu besar itu hanya dengan berfokus sebentar saja pada mata elangnya yang terus mengeluarkan cahaya kedap kedip pada huruf "LAM ALIF" yang ada pada matanya sebagai tanda bahwa kekuatan mata elangnya itu sedang aktif.
Sinta yang baru datang mengantar makanan untuk fatir pun ikut memperhatikan latihan Fatir dan sangat terpukau melihat perkembangan Fatir yang sudah semakin pesat itu.
"Waaah, hebat sekali kamu Fatir sampai bisa membuat batu batu besar itu hancur lebur menjadi batu batuan yang kecil seperti itu" Ucap Sinta kegirangan melihat perkembangan fatir.
"Alhamdulillah Sinta, ini semua tidak lain dan tidak bukan berkat pertolongan Allah yang mempermudah ku untuk melakukan latihan ini semua" Ucap Fatir dengan senyuman yang di penuhi keringat ditubuhnya karena latihannya.
"Iya Fatir alhamdulillah semoga terus berkembang pesat kemampuanmu hingga engkau bisa mengalahkan pimpinan pasukan bambu kuning itu nantinya" Ucap Sinta dengan yakin kepada fatir
"Amiiin, semoga Allah mempermudah kita semua nantinya, aku ingin beristirahat dulu sambil memakan makanan yang kau bawa itu sinta" Ucap Fatir sambil menatap makanan yang dibawa Sinta.
"Oooh iya aku hampir lupa menawarkan makanan ini kepadamu, karena terlalu terpukau melihat kehebatan mu tadi, ini silahkan dimakan makanannya semoga dapat membuat kamu kembali bertenaga untuk melanjutkan latihan mu kembali Fatir" Ucap Sinta sambil tersenyum tipis.
"Alhamdulillah akhirnya ditawarkan juga makanan itu kepadaku" Ucap Fatir sambil membalas senyuman Sinta kepadanya
Tak berapa lama kakek amin pun datang menghampiri mereka dari kejauhan. Fatir dan Sinta yang melihat kakek amin pun melambaikan tangan mereka kepada kakek amin dengan gembira.
Kemudian kakek amin pun berada dihadapan mereka sambil berkata "Waktu kita semakin menipis Fatir" Ucap kakek amin serius.
Seketika itu raut wajah mereka berdua menjadi tegang setelah mendengar apa yang dikatakan kakek Amin kepada mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi kek, mari duduk terlebih dahulu kek" Ucap Fatir yang terlihat mempersilahkan kakek amin untuk duduk terlebih dahulu.
Sinta pun menuangkan segelas air kemudian diberikan kepada kakek amin agar beliau tenang terlebih dahulu dan dapat menceritakan semuanya dengan lancar
"Bismillah" Ucap kakek amin sebelum meminum air itu dan "glek, glek, glek" Terdengar suara air ditenggorokan kakek amin yang meminum air itu yang kelihatan sangat kehausan sekali nampaknya.
"Tenang dulu kek, ceritakan perlahan-lahan apa sebenarnya yang terjadi kek" Ucap Fatir menenangkan kakek amin
Kakek amin pun kemudian menceritakan kepada mereka berdua kalau besok malam pada tengah malam akan dilakukan penyerangan kepada pondok pesantren al amin oleh pasukan bambu kuning yang dimana mereka rencananya akan membakar pondok pesantren al amin itu hingga habis tak tersisa sebagai serangan balasan mereka sebelumnya yang telah gagal untuk menyerang pondok pesantren al amin kemarin.
Mendengar hal itu Fatir dan Sinta pun terkejut, mereka berdua nampak saling bertatap tatapan seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini.
Mereka takut akan terjadi hal hal yang dapat membahayakan para santri di pondok pesantren al amin dan juga kyai dari penyerangan yang akan dilakukan pasukan bambu kuning besok malam.
Kemudian kakek amin pun melanjutkan ceritanya
"Fatir, segera beritahu ibumu bahwa Alhamdulillah ternyata atau saat ini masih hidup, dan dia sekarang juga telah melarikan diri dari tempat penyanderaan oleh pasukan bambu kuning bersama temannya jaka" Ucap kakek kepada fatir.
Mendengar hal itu sontak saja Fatir terperanjat kaget sekaligus senang ketika mendengar bahwa ternyata ayahnya saat ini masih hidup dan Sinta yang juga mendengar hal itu juga ikut senang bersama Fatir.
"Benarkah kek, Alhamdulillah Masya Allah, ternyata Allah masih melindungi ayahku, terimakasih ya Allah, akan segera ku beritahukan hal ini kepada ibu kek" Ucap Fatir menahan air matanya.
"Iya Fatir beritahukan lah ibumu agar ia tidak makin gelisah, semoga saja dengan kabar ini dapat membuat kesedihan dihati ibumu menjadi berkurang" Ucap kakek menyampaikan kepada Fatir dengan tersenyum.
"Iya kek pasti akan segera ku beritahukan kepada ibu, tapi kek darimana kakek tau kalau ayahku masih hidup dan melarikan diri kek? " Ucap Fatir bertanya tanya.
"Kakek tadi pergi mengintai pasukan bambu kuning dan tanpa sengaja mendengar percakapan pasukan berkuda yang katanya ingin menangkap kembali ayahku dan temannya yang telah berhasil melarikan diri dari mereka, namun mereka juga tidak tahu ke mana ayahmu dan temannya bersembunyi didalam hutan" Ucap kakek menjelaskan sekaligus memikirkan dimana tempat persembunyian ayah Fatir dan temannya itu.
Mendengar hal itu Fatir pun langsung teringat bahwa dulu ayahnya sering sekali bercerita bahwa ayahnya memiliki tempat persembunyian khusus di dalam hutan untuk berburu binatang hutan yang tidak diketahui orang lain karena tempatnya yang tidak seperti tempat persembunyian pada umumnya.
ayahnya pun sering sekali membawa tangkapan binatang di hutan itu untuk dijual ataupun dimakan untuk kebutuhan sehari hari.
Meskipun Fatir belum pernah pergi ke tempat persembunyian ayahnya itu namun Fatir pernah diberitahukan ayahnya ciri ciri tempat persembunyian ayahnya itu.
"Aku tau kek dimana ayah bersembunyi" ucap Fatir sambil berdiri dari tempat duduknya
"benarkah?" ucap kakek terkejut sambil memandangi Fatir
"cepat katakan Fatir dimana ayahmu bersembunyi" ucap Sinta yang juga penasaran dibuatnya
"aku memang belum pernah ke tempat persembunyian ayah, tapi aku tau ciri ciri tempat itu kek, ayah pernah memberi tahu kepadaku tentang tempat persembunyiannya itu" ucap Fatir
"katakanlah" ucap kakek penasaran
"ayah pernah berkata "Satu diantara pohon besar, dua diantara semak belukar dan tiga diantara air" ucap fatir. kemudian ia melanjutkan "itulah ciri menuju tempat yang ayah beritahu kepadaku kek mari kita ke sana kek untuk menemui ayah" tegas Fatir mengatakan kepada kakek amin tentang tempat itu.
"sabar Fatir, itu harus kita cari tahu dulu dimana tempat yang ayahmu maksud terkait perkataan ayahmu itu, kita harus benar - benar lebih dahulu menemukan ayahmu sebelum para pasukan bambu kuning itu terlebih dahulu menemukan ayahmu, sebelum itu baiknya engkau katakan kabar ayahmu ini terlebih kepada ibumu agar hati ibumu tidak gelisah dan sedih lagi Fatir" ucap kakek menenangkan Fatir yang sudah tidak sabar untuk menemui ayahnya
"benar kata kakek, sebaiknya aku memberitahu ibu terlebih dahulu perihal tentang ayah padanya" ucap Fatir sambil menganggukan kepalanya
Fatir pun segera berlari menuju rumah kakek amin dimana tempat ibunya berada agar ia bisa segera memberitahukan kepada ibunya tentang keadaan ayahnya yang saat ini masih hidup dan telah berhasil melarikan diri
episode 19
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments