Siang itu ayah fatir dan temannya jaka masih harus bekerja keras untuk mencari kayu di hutan dengan kaki masih di ikat rantai dan di sertai penjagaan 2 orang dari pasukan bambu kuning.
Mereka harus melakukan itu terus menerus hingga persediaan kayu mereka tercukupi setiap harinya.
Tatkala penjagaan dari pasukan yang menjaga mereka mulai lengah, jaka mulai berbisik mendekati ayah fatir mengenai rencana melarikan diri mereka berdua.
Namun ketika baru saja mereka mau membicarakannya. Pasukan penjaga bambu kuning yang mengetahui mereka sedang berbisik langsung melayangkan pukulan dengan cemeti yang begitu keras sehingga mengenai punggung jaka dan berdarah dan begitu pula ayah fatir juga terluka di bagian lengannya yang melindungi pukulan cemeti kearah wajahnya sehingga terluka di bagian lengannya juga.
Ayah fatir pun memohon kepada penjaga untuk tidak melanjutkan pukulannya karena tidak tega melihat jaka yang sudah berdarah di bagian punggungnya terkena pukulan cemeti itu.
Pasukan penjaga pun menghentikan pukulannya dan menunjukkan jarinya kearah mereka sambil melototi mereka berdua seraya berkata "JANGAN KALIAN BERBISIK BISIK LAGI SAAT SEDANG BEKERJA DI DEPANKU. AKU TAK AKAN SEGAN SEGAN MENYIKSA KALIAN DAN MELEMPARKAN KALIAN KEDALAM KANDANG BUAYA UNTUK DI JADIKAN SANTAPAN, INGAT ITU BAIK BAIK" ucap pasukan bambu kuning emosi.
Ayah fatir dan jaka pun bersujud sambil memohon dan berkata "Baik tuan kami tidak akan mengulanginya lagi" ucap mereka berdua sambil menahan sakit.
Pasukan bambu kuning pun kembali menyuruh mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Ayah fatir dan jaka pun kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun dalam keadaan kesakitan.
Ketika mereka berdua masih melanjutkan pekerjaannya. Ternyata jaka yang sudah kesakitan dari tadi tidak mampu menahan sakitnya dan kemudian dia terjatuh pingsan di samping pohon yang sedang iya tebang.
Ayah fatir pun berkata kepada penjaga sambil memegangi tubuh jaka "Tuan, dia sepertinya tidak sadarkan diri, bagaimana ini tuan? Apakah kita harus membawanya kembali?" Ucap ayah fatir memohon.
Pasukan bambu kuning pun berkata "APAAA??? BEGITU SAJA SUDAH PINGSAN, AAAHH DASAR TIDAK BERGUNA, SUDAHLAH SEKARANG KAMU GENDONG DAN BAWA DIA PULANG, AKU TIDAK MAU ADA MAYAT DI DAERAH KAWASAN KU INI" ucap pasukan bambu kuning itu sambil memalingkan wajahnya tidak peduli.
Ayah fatir pun merangkul dan menggendong jaka yang sedang pingsan dan bersegera membawanya pulang ke tempat mereka di jadikan budak.
Ayah fatir berjalan Sambil menahan air mata rasa kasihan kepada jaka yang darahnya terus mengalir dari punggungnya hingga mengenai tubuhnya ketika menggendong jaka. Ayah fatir hanya bisa berharap dalam hati semoga jaka baik baik saja dan bisa kembali normal kondisinya.
Sambil terus berjalan hingga ketempat mereka, ayah fatir pun menangis. Kemudian terdengar suara "tenanglah aku tidak apa apa, aku tetap akan membantumu melarikan diri dari tempat ini. Akan ku jaga janjiku kepadamu" ucap jaka sambil tersenyum kepada ayah fatir dari belakang dengan wajah pucat.
Ayah fatir pun terkejut dan juga bahagia sambil berkata "Alhamdulillah ternyata kamu masih sadar jaka. Aku akan berusaha menolong mu. Terimakasih kamu tetap menjaga janjimu. Tapi jangan pikirkan dulu akan hal itu. Yang penting sembuhkan dulu luka di punggung mu. Sebentar lagi kita sampai" ucap ayah fatir.
Jaka pun hanya tersenyum walaupun dalam keadaan menahan sakit sambil merebahkan kepalanya di punggung nya ayah fatir.
Waktu sore pun tiba. Fatir & kakek telah selesai melaksanakan sholat ashar. Dan mereka pun bersiap - siap untuk melakukan latihan seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya.
Fatir yang sudah bersiap dari tadi & telah cukup pulih staminanya menjadi tidak sabar apa yang akan menjadi bahan latihannya sore ini. Fatir pun menyiapkan bekal untuk latihan yaitu air minum & barang lainnya.
Ibu fatir pun yang sudah mulai membaik kondisinya bertanya kepada fatir "Nak, apa yang sedang kau persiapkan?" Tanya ibu fatir.
Fatir pun menjawab "Ini untuk latihan bersama kakek sore ini bu" ucap fatir.
Ibunya pun berkata "semoga di lancarkan latihan mu nak, ibu hanya bisa mendoakan mu." Ucap ibu fatir sambil tersenyum namun seperti ada yang di pendam dari raut wajahnya.
Fatir pun berkata "Amin Allahumma Amin bu. Terima kasih doa ibu padaku. Ibu kenapa? Seperti ada yang sedang ibu pikirkan?" Tanya fatir.
Ibu fatir pun berkata "ibu hanya memikirkan bagaimana keadaan ayahmu sekarang ini fatir, ibu khawatir pada ayahmu" ucap ibu fatir.
Fatir pun berkata "aku pun juga memikirkan ayah terus bu. Inilah tujuan latihan ku bu agar aku bisa menyelamatkan ayah bu. Untuk itu aku memohon doa ibu agar latihan ku ini menjadi jalan untuk kita menyelamatkan ayah bu. Ibu teruslah berdoa kepada Allah demi keselamatan ayah. Semoga Allah selalu senantiasa melindungi ayah di sana bu" ucap fatir menenangkan ibunya.
Ibunya pun berkata "betul nak apa yang kau katakan. Hanya kepada Allah lah sekarang kita berharap keselamatan ayah mu. Tiada tempat bergantung lagi selain kepada Allah. Karena hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan." Ucap ibu fatir.
kemudian ibunya pun melanjutkan "Oh iya, sudah selesai kah persiapan mu untuk latihan nak? Di mana kakek sekarang nak?" Tanya ibu fatir.
Baru saja ibu bertanya, kakek pun menjawab sambil berjalan menghampiri mereka berdua "aku ada di sini, mari kita segera berangkat fatir agar latihan bisa segera kita mulai" ucap kakek sambil tersenyum.
Kakek pun melanjutkan "kami berangkat dulu. Kamu hati hati di rumah. Assalamu alaikum" ucap kakek sambil mengisyaratkan tangannya kepada fatir untuk segera berangkat.
Fatir pun mengerti maksud kakek dan iya pun mencium tangan ibunya sembari berkata "aku berangkat dulu bu. Ibu hati hati di rumah. Jangan berhenti doakan aku bu. Assalamu alaikum" ucap fatir sambil menatap ibunya.
Ibu fatir pun berkata "berangkatlah, Semoga Allah bersamamu nak, walaikumsalam." Ucap ibu fatir sambil mempersilahkan fatir berangkat latihan.
Fatir pun bersegera mengikuti kakek ketempat latihan. Setibanya mereka ditempat latihan yang tak jauh dari rumah kakek. Kakek pun langsung menuju sebuah gubuk di samping tempat latihan itu sembari mengajak fatir ke gubuk tersebut.
Kakek pun mengatakan kepada fatir "di sinilah tempat kamu akan latihan fatir." Sambil menunjuk dalam gubuk.
Fatir pun berkata "apa yang akan aku lakukan di sini kek?" Tanya fatir penasaran.
Kakek pun berkata "Masih ingatkah kau tasbih pemberian kakek kepadamu didalam bungkusan hitam?" Ucap kakek dan Fatir pun mengangguk.
Kakek pun melanjutkan "tasbih itulah yang akan menemanimu di gubuk ini selagi kau latihan" ucap kakek.
Fatir pun bingung dan bertanya "apa yang harus ku lakukan kek?" Tanya fatir.
Kakek pun menjawab "pertama tama kamu harus melatih kesabaran dan fokus mu dulu dalam bertahan di gubuk ini. Akan banyak gangguan yang nanti akan menggangu fokus mu baik itu serangga seperti nyamuk, semut & hal lainnya. Nah apakah kau mampu bertahan ataukah tidak kita lihat saja nanti." Ucap kakek.
Fatir pun terdiam dan mencoba mengartikan maksud perkataan kakek kemudian berkata "jadi aku harus berdzikir di dalam gubuk ini tanpa harus terganggu dengan gangguan serangga atau binatang yang datang mengganggu ku di gubuk ini ya kek?" Tanya fatir.
Kakek pun menjawab "benar sekali, karena untuk melatih fokus itu diperlukan dzikrullah sehingga segala sesuatu yang kita perbuat nantinya adalah semata mata karena Allah. Apakah kau mengerti? Jika mengerti mari kita mulai" Ucap kakek.
Fatir pun mengangguk faham dan memulai masuk ke gubuk.
Episode 8
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments