Setelah fatir dan kakek selesai melakukan sholat maghrib berjamaah dimasjid. Mereka berdua pun kembali kerumah.
Setibanya mereka dirumah, ibu fatir pun sudah membuatkan mereka makanan untuk malam itu yaitu singkong rebus panas.
Fatir pun senang karena ini pertama kalinya ia kembali memakan singkong rebus kesukaan buatan ibunya setelah kejadian yang lalu menimpanya kini ia bisa memakan makanan kesukaan lagi. Fatir pun sangat senang dan mengajak kakek makan singkong itu bersama sama serta ibunya.
Pada malam itu suasana hangat meliputi mereka bertiga. Kemudian ketika ibu fatir itu mau menyuapkan singkong itu ke mulutnya entah kenapa pada saat itu ibu fatir jadi terdiam menatap singkong itu dan Matanya pun berkaca - kaca kemudian air matanya pun pecah pada saat itu juga.
Fatir pun bingung melihat itu kemudian ia pun bertanya "ibuu, ibuu, kenapa ibu menangis? Apakah ada kesalahan yang telah ku perbuat terhadap ibu?" Tanya fatir kebingungan.
Ibu fatir pun menangis dan kemudian sambil berkata "tidak fatir, kamu tidak ada kesalahan pada ibu. Ibu hanya teringat ayahmu, Ibu semakin hari semakin khawatir mengenai keadaan ayahmu. Bagaimanakah keadaannya hari ini, Apakah dia sudah makan atau belum? Ibu pun tidak tahu fatir." Ucap ibu fatir sambil menangis.
Kemudian fatir pun berusaha menenangkan ibunya dan berkata "iya bu aku juga mengkhawatirkan ayah bu. Insya Allah ayah tetap dalam lindungan Allah dan dalam keadaan sehat saja bu" ucap fatir.
Kemudian kakek pun menyela dan berkata "begini saja, nanti tengah malam aku akan menyelinap ketempat pasukan bambu kuning untuk melihat kondisi suamimu. Agar setidaknya kau lega mengetahui kondisi suamimu setelahnya" ucap kakek.
Kemudian ibu fatir pun berkata "Terimakasih paman, keluarga kami telah banyak merepotkan paman" ucap ibu fatir sambil menyapu air matanya.
Fatir pun berkata "Benarkah kakek ingin pergi kesana? Bukankah itu berbahaya kek untuk masuk ke Markas pasukan bambu kuning kek? Pengamanan mereka sangat ketat kek? Aku khawatir terjadi sesuatu terhadap kakek" ucap fatir menahan kakek.
Kakek pun berkata "sama sama sudah sepantasnya sebagai sesama muslim untuk membantu saudaranya yang mengalami kesusahan" ucap kakek tersenyum pada ibu fatir.
Kemudian kakek pun melanjutkan "tenang saja fatir. Insya Allah kakek akan pulang dengan selamat. Kakek akan membawa kabar ayahmu nanti malam." Ucap kakek.
Fatir pun berkata "kalau kakek berangkat malam ini, aku juga harus ikut kakek. Aku akan menemani kakek kesana" ucap fatir.
Kakek pun berkata "jangan fatir disana sangat berbahaya. Yang kakek takutkan kalau kau ikut malah akan membuat kau tertangkap nantinya kau tidak bisa menyelamatkan ayahmu. Untuk malam ini kau harus melanjutkan latihan selanjutnya fatir. Persiapkan dirimu agar siap untuk melawan mereka dan menyelamatkan ayahmu fatir. Ingat pesan kakek bahwa kau lah sekarang satu satunya yang bisa menolong ayahmu dengan membangkitkan mata elang yang ada padamu. Kau harus berusaha sekuat tenaga membangkitkannya, semoga Allah mudahkan dalam niatan kita menyelamatkan ayahmu dan seluruh warga desa serta mengembalikan semua kebahagiaan warga desa kembali." Ucap kakek serius pada fatir.
Fatir pun menatap kakek dengan penuh keyakinan dan mengangguk faham akan perintah kakek padanya.
Ketika semua pasukan bambu kuning berkumpul dihalaman untuk mendengarkan penyampaian dari ketua mereka. Semua pasukan tinggal menunggu apa yang akan disampaikan ketua pasukan bambu kuning.
Pada saat itu semua terdiam tidak ada satupun yang berbicara, dan pada saat itu keluarlah ketua mereka dan berkata "Wahai Pasukan ku semuanya. Kita telah banyak menguasai desa desa yang kita datangi dan merebut kekuasaan dari desa yang kita temui, hingga sekarang Tidak ada satupun dari penduduk desa yang berani menentang kita. Namun sekarang sepertinya ada seseorang yang berani menentang kita Dan kita harus menyerang mereka hingga lenyap dari muka bumi ini. Siapakah mereka itu?????? Ini lah mereka!!!! " Ucap ketua bambu kuning seraya mengangkat benda yang berada ditangannya.
Kemudian berkata lagi "tahukah kalian, ini adalah jarum sakti, jarum ini adalah jarum dari salah satu senjata rahasia perguruan Al Amin, hanya mereka yang menggunakan jarum sakti ini, sudah pasti mereka yang menyerang pasukan penjaga berkuda kita hingga pingsan dan tak ingat apa apa tentang kejadian itu. Para Ahli senjata rahasia kita telah mengidentifikasi jikalau jarum ini adalah jelas senjata rahasianya perguruan Al Amin. Kita harus menyerang perguruan Al Amin karena telah berani beraninya mengusik kesenangan kita, MARI KITA SERANG MEREKA" teriak ketua pasukan bambu kuning dengan lantang.
Kemudian berkata lagi "kuperintahkan setengah dari pasukan elite berkuda kita untuk menyerang perguruan Al Amin dan menghancurkan perguruan mereka, dan setengahnya lagi berjaga jaga didaerah markas dan desa desa kekuasaan kita. Untuk itu Bersiap siaplah untuk menyerang mereka besok pagi, aku hendak melihat dan mendengar jikalau perguruan Al Amin telah dihancurkan besok hari" ucap ketua pasukan bambu kuning sambil tertawa dan mata merah menyala.
Semua pasukan bambu kuning pun serentak berkata "SIAAAAP KETUA" mereka pun penuh semangat berapi api untuk segera melaksanakan perintah penyerangan dari ketua mereka ke perguruan Al Amin.
Pada malam itu setelah ba'da isya kakek membawa fatir ketempat latihan lagi untuk melakukan latihan selanjutnya. Mereka berdua berpamitan dari rumah meninggalkan ibu fatir dirumah seorang diri.
Fatir dan kakek pun sampai ditempat latihan diikuti pula qitmir yang selalu mengikuti kemanapun fatir berjalan.
Pada saat itu kakek membawa fatir sedikit berjalan menjauh dari tempat latihan, fatir pun berkata "mau kemana kita kek? Bukan kah tempat latihan kita ada disana" tunjuk fatir kearah belakang.
Kakek pun berkata "ikuti saja kau akan latihan cukup keras malam ini, bersiaplah" ucap kakek terus berjalan membawa fatir.
Fatir pun mengikuti langkah kakek selangkah demi selangkah. Tak lama kemudian, kakek berhenti disebuah pohon besar. Kakek pun berkata "disinilah kau akan latihan" ucap kakek.
Fatir pun bingung dan berkata "tempat apa ini kek, apa yang harus ku lakukan ditempat ini?" Tanya fatir penasaran.
Kakek pun berkata "duduklah kau diatas batu itu fatir" ucap kakek sambil menunjuk batu yang tepat berada disamping pohon besar itu.
Fatir pun tanpa betanya langsung menaiki batu itu dan duduk diatasnya.
Kakek pun berkata "Sekarang yang harus kau lakukan adalah menimba air. Nah,tepat berada dilurusan batu yang kau duduki ini terdapat sumber air yang disebut telaga sutra yang dimana air didanau itu selalu mendidih dan panas. Nah yang harus kau lakukan adalah timba air yang ada ditelaga sutra itu ke dalam 7 gentong yang ada diseberang sana" tunjuk kakek kearah 7 gentong besar yang tak jauh dari mereka disitu.
Kemudian kakek berkata "gunakanlah apapun yang bisa kau pakai untuk mengambil air ditelaga sutra itu" ucap kakek tanpa memberikan benda apapun untuk digunakan fatir mengambil air didanau itu.
Fatir pun berkata "bagaimana caranya aku mengambil air itu kek, sedangkan tidak ada alat apapun untuk mengambilnya?" Tanya fatir bingung.
Kakek pun berkata "lakukanlah semuanya atas apa yang ada dihati nuranimu. Pikirkanlah semuanya pasti bisa kau lakukan. Selalu minta pertolongan Allah ta'ala. Lakukanlah sekarang!!!" Ucap kakek sambil melompat terbang keatas pohon besar disamping batu tadi.
Kakek pun berkata "kakek akan menunggu diatas sini sampai kau berhasil mengisi semuanya baru panggil kakek" ucap kakek sambil melakukan dzikrullah diatas sana.
Fatir pun masih kebingungan, ia pun berjalan pelan menuju telaga sutra untuk mengambil air. Sesampainya di depan telaga sutra, hawa panas sudah mendatangi tubuh fatir hingga banyak berkeringat karena hawanya yang panas.
Fatir pun tetap menahan rasa panas itu ia pun melihat sekeliling telaga untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengambil air yang panas mendidih itu.
Ia pun melihat ada sebuah gentong terbuat dari kemarik tanah yang biasa digunakan untuk mengambil air. Ia pun tersenyum dan segera mengambil gentong itu untuk digunakan mengambil air itu.
Baru saja fatir mencelupkan gentong itu kedalam telaga sutra untuk menimba airnya. Ketika ia mengangkat gentongnya dari dalam air telaga sutra itu ternyata gentong itu hancur seketika karena tidak sanggup menahan panasnya dari telaga sutra.
Fatir pun berkata "Hah, gentong ini hancur, ternyata benar yang kakek bilang jikalau air telaga ini memang sangat panas dan mendidih, sekarang apa yang harus kulakukan untuk membawa air ini?" Ucap fatir yang masih kebingungan bagaimana cara membawa air dari telaga sutra itu.
Ia pun hanya terduduk bingung memandang sekeliling sambil berfikir apa yang harus ia gunakan untuk membawa air dari telaga sutra yang panas dan mendidih itu.
Episode 10
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments