Baru saja fatir masuk kedalam gubuk. Dan hendak duduk tiba tiba ia dikejutkan oleh sesuatu didalam gubuk. Dan fatir pun melompat sambil berteriak dan terjatuh kebelakang seraya memanggil kakek yang masih ada disamping gubuk "AAAaAaaakkkk, kek apa itu yang ada didalam gubuk. Matanya merah menyala kek!!!" Ucap fatir kaget.
Kakek pun tertawa sambil berkata "Hahaha itu hanya seekor kucing hutan fatir. Ia peliharaan kakek dan tak akan mengganggumu. Ia akan menemanimu didalam gubuk Namanya adalah Qitmir." Ucap kakek sambil tersenyum.
Fatir pun yang terjatuh hanya tersenyum malu. Sambil ia berdiri dan membersihkan badannya dari tanah ketika jatuh tadi.
Fatir pun berkata "ternyata hanya kucing. Aku kira tadi sesuatu yang menyeramkan kek" ucap fatir tersenyum malu kemudian ia pegang kepala kucing itu dan berkata "Ayo qitmir temani aku latihan fokus didalam gubuk." Ucap fatir.
Kucing itu pun dengan lucunya mengikuti fatir kedalam gubuk. Kemudian kakek pun berkata "baiklah sekarang kau sudah siap memulainya. Kakek akan tinggalkan kau sebentar apakah kau bisa bertahan ataukah tidak kita lihat saja nanti, kakek hanya berpesan berhati hatilah jangan sampai kau tertipu. kakek berangkat dulu Assalamu alaikum" ucap kakek sambil berjalan.
Fatir pun berkata "baik kek aku akan mencobanya, walaikumsalam" ucap fatir.
Fatir pun memulai dzikirnya. Hawa didalam gubuk itu terasa aneh. Tidak seperti diluar gubuk. Hawanya terasa sejuk seperti ditempat yang nyaman.
Didalam gubuk itu pun tercium aroma harum wewangian yang semerbak seperti berada dikolam wewangian. Didalam dzikirnya fatir pun melihat sesuatu cahaya.
Kemudian cahaya itu pun mendekat dan berkata "wahai fatir, hentikanlah dzikirmu, aku adalah tuhanmu yang akan memberikan kekuatan kepadamu, maka berhentilah berdzikir" ucap cahaya itu kepada fatir.
Fatir pun merasa bingung namun ia terpikir perkataan kakek tadi yang berkata bahwa dirinya harus berhati hati dan jangan sampai tertipu. Ia berfikir ini pasti adalah jin yang berpura pura untuk mengelabui dirinya.
Kemudian ia pun berkata "Wahai jin yang terkutuk enyahlah kau dari hadapanku. Tuhanku takkan pernah melarangku berdzikir, Itu hanyalah tipu dayamu" ucap fatir.
Kemudian cahaya itu pun berubah menjadi kehitaman dan berkata "HAHAHA Aku akan terus menyesatkan kalian wahai manusia. Sudah banyak yang ku sesatkan dengan cara seperti ini. Berhati hatilah kalian wahai bangsa manusia, Aku akan terus kembali HAHAHA" ucap cahaya hitam itu dan perlahan menghilang menjadi asap.
Ternyata benar inilah yang dimaksud kakek bahwa dirinya harus berhati hati jangan sampai tertipu, salah satunya oleh tipu daya jin.
Karena fatir berfikir bahwa tidak mungkin Allah ta'ala melarang manusia untuk berdzikir sedangkan Allah ta'ala sangat menyukai orang orang yang berdzikir.
Jika segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat maka itu adalah tipu daya jin. Fatir pun bermohon dalam dzikirnya agar Allah senantiasa melindunginya dari tipu daya jin yang mengganggu dirinya.
Ia pun terus tak berhenti mengucapkan dzikir didalam gubuk itu. Qitmir pun tertidur berada disamping fatir menemaninya didalam gubuk itu.
Pada saat ayah fatir sampai ketempat mereka. Ayah fatir pun bergegas merebahkan jaka yang sudah berlumur darah dipunggungnya. Darah jaka pun juga membasahi punggung ayah fatir yang dari tadi menggendongnya pulang.
Jaka pun masih pucat dan setengah tidak sadarkan diri. Namun ia berusaha untuk tetap berada dalam kondisi sadar walaupun sebenarnya dia sudah dalam kondisi lemas.
Pada saat ia masih dalam kondisi setengah sadar. Ayah fatir pun sudah menyiapkan segala tumbuh tumbuhan obat untuk menghentikan pendarahan dari punggung jaka. Ayah fatir yang juga ahli dalam pengobatan itu pun dengan mudah meracik tanaman obat untuk mengobati luka pada tubuh jaka.
Jaka pun sambil berkata tidak jelas dan terus berulang ulang "kau akan keluar, kau akan selamat, kau akan ku bawa pergi, kau akan keluar dari sini" ucap jaka terus menerus.
Ayah fatir pun terus mengucapkan kata kepada jaka "Sadarlah jaka, sadarlah kau akan segera sehat kembali" ucap ayah fatir.
Namun jaka terus saja meracau tak jelas. Setelah ramuan obat itu selesai diolah oleh ayah fatir. Ia pun segera menempelkan tanaman yang telah ditumbuk itu kelukanya jaka yaitu bagian punggungnya.
Pada saat itu jaka berteriak karena kesakitan "Aaaarrrgh masya Allah sakitnya" ucap jaka mengaduh kesakitan.
Ayah fatir pun menyuruh jaka meminum ramuan obat yang telah dibuatnya juga untuk mengembalikan stamina tubuhnya yang terkuras hingga lemas tadi.
Setelah jaka meminumnya, ayah fatir pun menyuruh jaka beristirahat untuk mengembalikan tenaganya. Saat baru saja jaka hendak beristirahat, penjaga yang tadi telah melukai jaka pun juga telah sampai menemui mereka dan berkata "Apakah dia sudah mati? Jika sudah mati segeralah kuburkan saja. Aku tidak mau mencium bau busuk mayat disini." Ucap penjaga dari pasukan bambu kuning itu sambil acuh tak menghiraukan keadaan jaka yang masih terlihat pucat.
Ayah fatir pun hanya tertunduk diam ketika melihat pasukan bambu kuning itu berkata dan berjalan meninggalkan mereka. Kemudian ayah fatir pun berkata "Apakah aku harus mati ditempat ini?" Ucap ayah fatir sambil menghadapkan wajahnya keatas, kemudian berkata "Ya tuhan tolonglah hambamu ini, aku tidak ingin membusuk ditempat ini tuhan tolonglah aku dan jaka tuhan agar bisa meninggalkan tempat ini" ucap ayah fatir sambil menitikkan air mata.
Pada saat ayah fatir menangis hingga membasahi tanah. Kemudian terdengar suara "SEMUA PASUKAN DIHARAPKAN BERKUMPUL" ucap pasukan penjaga memberitahukan kepada seluruh pasukan untuk berkumpul.
Kemudian para pasukan penjaga pun terus bergegas untuk berkumpul dihalaman untuk mendengarkan sesuatu hal yang penting untuk disampaikan oleh ketua mereka.
Kakek pun kembali ketempat latihan untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan latihan fatir. Kakek yang juga sambil berlatih pun bersegera kembali menuju gubuk tempat fatir latihan.
Tak memerlukan waktu lama kakek pun sudah sampai ditempat latihan. Namun alangkah terkejutnya kakek ketika baru saja sampai ditempat latihan fatir.
Kakek mencium aroma wewangian yang begitu semerbak harumnya. Kakek pun mencari asal aroma harum wewangian itu. Semakin kakek berusaha mencari aroma harum itu indera penciuman kakek tertuju kegubuk tempat latihan fatir.
Kakek pun bingung apakah mungkin aroma harum wewangian itu datangnya dari gubuk itu. Semakin dekat kakek kegubuk itu semakin berkecamuk rasa tidak percaya pada diri kakek ternyata fatir yang berada didalam gubuk itu telah memasuki Tingkatan fokus tertinggi hingga mengeluarkan aroma wewangian yang semerbak seperti aroma dari syurga.
Kakek pun terkejut dan berkata dalam hati "Masya Allah, subhanallah walhamdulillah wallahu akbar, ternyata ia telah berhasil memasuki tingkatan fokus tertinggi hanya dalam waktu sebentar, sungguh ini suatu kekuasaan Allah yang maha kuasa menunjukkan hal ini padaku" gumam kakek didalam hatinya.
Kakek pun membiarkan fatir terus melanjutkan latihannya. Qitmir yang senantiasa menemani fatir pun masih tertidur lelap karena terlalu nyaman bersama fatir.
Kakek pun tersenyum sambil memandang wajah fatir dan berkata "ternyata inilah keajaiban anak yang terpilih oleh elang sang malaikat sehingga hanya memerlukan waktu sebentar untuk latihan dia telah mencapai tingkatan tertinggi begitu cepat" ucap kakek berbicara pada dirinya sendiri perlahan karena tidak mau mengganggu latihan fatir.
Kakek pun hanya duduk dikejauhan sambil masih takjub memperhatikan perkembangan fatir yang begitu pesat. Kakek pun berkata "Sepertinya cahaya untuk menumpas kemungkaran sudah mulai terlihat, kebatilan akan selalu dapat dilenyapkan oleh kebenaran." Ucap kakek tersenyum sambil bersandar dibawah pohon menunggu fatir.
Fatir pun terus berada dalam kondisi fokus terbaiknya. Tak berapa lama waktu hampir mendekati senja dan fatir pun menyelesaikan latihannya. Tatkala ia keluar dari gubuk bersama qitmir yang masih berada dipangkuannya.
Ia melihat kakek sedang tertidur lelap seperti kelelahan. Kemudian fatir pun berjalan mendekati kakek dan membangunkan kakek perlahan "Assalamu alaikum, kek bangun, waktu sudah hampir senja mari kita pulang kek, kita bersiap untuk ibadah sholat maghrib" ucap fatir sambil menggoyangkan tubuh kakek.
Kakek pun terkejut dan terbangun kemudian berkata "wa'alaikumsalam, Masya Allah, ternyata aku tertidur, tak sadar mata ini terlelap begitu saja tanpa sadar, mari kita pulang waktu sudah hampir senja fatir" ucap kakek sambil terkejut.
Fatir pun tersenyum dan berkata "aku tadi baru saja berkata itu kepada kakek tapi kakek malah mengulang perkataanku" ucap fatir sambil tersenyum dan kakek pun tertawa kemudian ia pun tertawa juga sembari berkata "mari kek kita pulang dan bersiap" ucap fatir sambil membawa qitmir yang masih tertidur dan mengajak kakek untuk pulang disore yang hampir senja itu.
Ketika berjalan pulang kakek hanya diam dan tersenyum memandang fatir mengingat jika ia telah mencapai titik fokus tertinggi artinya semakin terlihat harapan untuk menyelamatkan ayahnya dan warga desa dari kejahatan pasukan bambu kuning yang terkenal keberingasannya.
Episode 9
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 148 Episodes
Comments
Rusliadi Rusli
👍👍👍👍
2023-03-31
1