"Ayo, kau ikut dengan ku. Mari bersenang-senang," Suara Skala terdengar sangat riang saat mengatakan nya. Dia bangkit dari kursi menuju ke kerumunan orang-orang yang sedang berjoged sembari menikmati dentuman musik DJ yang begitu memabukkan.
"Pergilah sendiri, aku tidak minat." Davio sedang menghabiskan minuman nya yang entah sudah ke berapa botol. Tubuh Davio terlihat sudah tak seimbang, namun kegilaan nya untuk terus minum belum dapat dihentikan siapapun.
"Ck, kau ini benar-benar tak bisa di ajak bersenang-senang." Sahut Skala seraya bersiul mendekati satu wanita yang kebetulan sedang berjalan ke arah nya. Dan seperti jurus-jurus sebelum nya, Skala mengajak wanita itu joget bersama dengan tubuh saling rangkul, mereka terlihat sangat bahagia seperti hidup tak memiliki beban yang terpancar dari tawa mereka.
Berbeda sekali dengan Davio yang sudah menghabiskan banyak botol minuman namun sepertinya dia belum ingin menyerah, padahal penglihatan nya saja sudah kabur.
Dari kejauhan Skala terus memantau teman nya yang terlihat sudah tak sadarkan diri meksi sedang bersama wanita, tapi dia tetap mementingkan keamanan sahabat nya dibanding dengan kesenangan nya itu. Saat melihat ada seorang wanita mendekati Davio, Skala segera maju untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
Selama ini Davio tak pernah bermain wanita, dia tak akan membiarkan gadis memanfaatkan keadaan Davio yang sudah mabuk jika tak ingin mendapatkan amukan dari teman nya ini.
"Hai, nona. " Sapa Skala sudah berada di dekat wanita yang saat ini sedang duduk di sebelah Davio dan mencoba membuka kancing baju nya namun terus di cegah oleh Davio. Sepertinya refleks Davio sangat bagus, bahkan saat dalam keadaan tak sadarkan diri dia tetap waspada dengan tangan wanita yang berusaha membuka baju.
"Ada apa?" Tanya wanita itu tak senang. Tentu saja tak suka karena kesenangan nya di ganggu. Skala tahu, wanita itu juga termasuk pelanggan VVIP di club ini, dia sering melihat wajah itu namun belum pernah berkencan dengan nya. Mungkin lain kali setelah mengamankan Davio dia bisa mengajak wanita cantik itu tidur bersama.
"Tidak ada, nona. Hanya saja teman saya harus segera pulang jika tak ingin membuat pacar nya cemburu pada saya." Jelas Skala dengan ekspresi wajah yang sangat dibuat-buat untuk menakut-nakuti wanita itu. Entah mau takut atau tidak, yang penting dia sudah berusaha.
Sedangkan wanita itu langsung mengerutkan dahi mendengar perkataan tak masuk akal Skala.
"Anda pasti bingung kenapa saya mengatakan seperti itu kan? Tapi itu benar, pacar nya sangat cemburuan, nona. Dia bahkan bisa membunuh siapa saja yang mendekati dia." Jelas Skala lalu mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "mereka itu pasangan gay." bisik nya tepat di telinga wanita itu sampai-sampai membuat bulu roma wanita itu berdiri.
"J-jadi dia gay?" Tanya nya menunjuk Davio yang sudah teler itu menggunakan telunjuk tangan karena masih tak percaya dengan ucapan Skala.
"Yupz, benar. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Ini sebenernya rahasia." Kata Skala serius. Padahal yang sebenarnya dia sedang menahan tawa saat melihat keterkejutan wanita itu yang begitu membuat nya merasa kasihan. Bahkan wanita itu sampai bangkit dari tempat duduk nya karena terlalu dekat Davio.
"Kasian sekali, seharusnya dia tak seperti ini. Tapi karena tragedi membuatnya belok," Kata Skala semakin mendramatisir keadaan.
"Jadi, maksud mu dulu dia bukan gay?" Tanya nya semakin menambah tingkat penasaran wanita itu, juga sedikit terselip rasa iba dari pandangan mata wanita itu ke Davio.
"Ya, dulu nya tidak gay." Kata Skala dengan suara lirih diiringi helaan nafas berat, menandakan betapa frustasi nya dia menghadapi keadaan ini.
"Kasihan sekali, memang nya dia kenapa? Apa yang terjadi dengan nya sampai menjadi gay?" Sepertinya tingkat ke-kepoan wanita itu sudah sembilan puluh sembilan persen.
"Sebenarnya aku ingin menceritakan pada mu. Tapi sepertinya sekarang aku tak punya waktu. Aku harus segera membawanya pulang jika besok masih ingin melihat matahari." Jelas nya lagi seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.
"Tapi aku sangat penasaran. Bagaimana kalau besok kita ketemuan disini lagi?" Tawar wanita itu.
"Kenapa harus menunggu besok? Kalau kau mau kita bisa sekalian pulang ke rumah ku, kau menginap saja di rumah ku. Dengan begitu, aku bisa menceritakan semua yang ingin kau dengar." Kata Skala seraya memberikan senyuman penuh arti.
Wanita itu yang juga sangat pro dengan adegan ranjang tentu saja sangat tahu maksud laki-laki di depan nya. Dia menelisik penampilan Skala dari bawah hingga atas lalu tatapan nya berhenti persis di di bawah ikat pinggang, kemudian dia menampilkan senyum seperti yang tadi Skala berikan.
"Deal, aku pulang ke rumah mu." Wanita itu menyodorkan tangan kanannya di depan Skala dengan bibir yang masih menampilkan senyum.
"Dengan senang hati, nona." Skala mencium punggung tangan wanita itu dengan perasaan bahagia. Akhirnya dua kembali mendapatkan wanita dengan suka rela. Bahkan tanpa dia membayar apalagi memaksa, wanita nya sendiri yang menyodorkan nya bukan? Jangan munafik, tampang memang nomor satu. Dengan ketampanan yang dimiliki Skala tak akan ada saru gadis pun yang menolak pesona nya. Sayang nya selama hidup Skala belum pernah berjumpa dengan seorang gadis apalagi mengencaninya, karena yang sudah-sudah dia selalu berhubungan dengan wanita yang sudah sangat pro melakukan hal itu. Hm, seperti nya memang sudah takdir kali ya. Kasian juga sih kalo dapat yang perawan, anak orang dirusak. Belum lagi gadis itu mendapatkan bekas yang sudah dipakai berkali-kali, yang pastinya kasian banget lah.
"Sebaiknya kau keluar dulu, ini kunci mobil nya. Aku akan memanggil seseorang untuk membantu memapah bocah tengik ini." Kata Skala yang sedang berusaha mengangkat Davio tapi tubuh nya tak kuat memapah karena saat ini Davio benar-benar dalam keadaan tak sadarkan diri. Kepalanya sudah bersandar di sandaran sofa sejak tadi. Entah ini memang Davio yang benar-benar sudah teler atau hanya tidur karena sejak tadi dia sudah menutup mata dan tak ada pergerakan sama sekali.
"Pak, tolong bantu saya bawa dia ke mobil." Kata Skala saat satu scurity mendekat yang memang atas perintah nya.
"Baik, pak." Dua laki-laki itu akhirnya memapah Davio dengan susah payah karena tubuh Davio yang sangat berat tetapi sudah tak bertenaga sedikit pun.
Skala dan scurity bahkan sampai mengeluarkan keringat dikarenakan tubuh Davio yang memang benar-benar sangat berat.
"Ck, menyusahkan saja! Jika tahu akhirnya akan seperti ini lebih baik aku tak menerima ajakan mu." Gerutu Skala. Hingga sampai di depan mobil Skala membuka dengan kasar dan membanting tubuh Davio di jok belakang yang sudah seperti mayat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments