Bab 12. Hari Pertama Liburan

Hari pertama Liburan.

Berbeda dari liburan sebelumnya, jika di liburan semester sebelum-sebelumnya Wilia bersiap-siap pulang ke negara nya, atau minimal berlibur bersama teman-teman nya, tapi libur kali ini dia harus merelakan waktu nya untuk membersihkan apartemen dosen killer yang sialnya sangat tampan sesuai dengan kesepakatan.

Meski hatinya begitu berat hati, tetapi dia harus menjalankan misi nya demi masa depan Wilia. Jangan kira manusia langka seperti Wilia tak memikirkan masa depan. Dia bahkan sudah memikirkan pekerjaan yang akan diambil setelah lulus kuliah.

Tak heran jika dia tetap memperhatikan nilai meski sifatnya urakan dan pecicilan.

"Huh, Semoga hari ini aku bisa melaluinya dengan lancar." Wilia menarik nafas lebih dulu sebelum membuka apartemen Mr. Davio.

Tadi, sebelum berangkat Wilia sudah mendapat pesan jika Tuan Davio tidak ada di rumah, namun bukan berarti Wilia terbebas dari hukuman. Dia tetap membersihkan apartemen meksi Tuan Davio tak di rumah. Pada pesan yang di kirim, Davio bukan hanya memberi peringatan, tetapi juga memberikan pin apartemen agar Wilia bisa masuk meski tanpa ada dirinya.

Dari segelintir pesan yang dikirim Davio, ada hal yang membuat Wilia begitu jengkel, dimana pada pesan tersebut Davio mengatakan jangan berani mencuri barang-barang miliknya! Oh astaga, otak Wilia seketika blank. Benarkah dia diberi peringatan seperti itu? Hello ... yang benar saja! Harta Papi nya saja tak akan habis tujuh turunan meksipun Wilia hanya minta dan tak ikut bekerja. Lalu Davio? Dengan tak sopan nya dia memberikan peringatan seperti itu, yang jelas-jelas fi apartemen Davio tak ada barang yang membuat nya tertarik untuk mencuri, kecuali orang nya. Eh!

Bip bip bip..,

Wilia mulai menekan nomor password apartemen sembari matanya terfokus pada ponsel yang menampilkan password yang Davio kirim.

Dirinya bukan nya tak hafal, tetapi memang Wilia baru saja melihat beberapa digit angka itu karena tadi saat Davio mengirim pesan dia lebih fokus pada typing-an Davio yang memperingati agar tak mencuri benda-benda di sana.

Seketika kesabaran Wilia yang setipis kulit bawang itu musnah begitu saja, rasa jengkel nya terlalu menggebu-gebu hingga tangan nya tak tahan untuk tak mengetik kata-kata makian pada Davio sampai membuat nya kembali lega.

Klek

Wilia membuka sedikit pintu apartemen, kepala nya sedikit mengintip ke dalam yang ternyata keadaan apartemen itu sangat lah gelap. Padahal hari masih pagi, tapi keadaan apartemen sudah seperti langit di malam hari yang sedang mengalami gerhana bulan total.

Mengandalkan naluri, tangan Wilia merabba-rabba tembok samping pintu. Dan benar saja, ada saklar di sana! Tapi kenapa tak menyala?

Meski sedikit takut karena gelap, tapi Wilia tetap memberanikan diri untuk masuk. Dan baru saja tubuh nya masuk ke dalam, tiba-tiba lampu di ruangan itu hidup. Astaga, bahkan jantung Wilia sangat terkejut. Mengagetkan saja, kenapa lampunya tiba-tiba menyala dengan sendiri.

Meksi kepalanya dipenuhi pertanyaan, tetapi Wilia lebih memilih mengabaikan dan dia justru fokus pada ruangan itu yang seperti kapal pecah. Bungkus makanan berserakan dimana-mana, botol-botol minuman terletak di seluruh sudut ruangan. Astaga ... Apakah dosen nya baru saja mengadakan party?

Ah tentu saja iya, sudah tak asing lagi di negara ini jika melakukan party semacam ini, yang pada akhirnya mereka akan melakukan sekks dengan banyak teman wanita nya bahkan yang lebih gila, mereka akan berganti pasangan. Bagi Wilia memang itu terdengar gila, tapi bagi teman-teman Wilia bahkan sudah sering melakukan nya.

Ah, membayangkan saja Wilia menjadi risih sendiri jika harus bergonta-ganti pasangan. Astaga, jiwa urakan nya tak sampai membuat nya melakukan hal seperti itu.

Dia bukan wanita penggila sekks, meski nalurinya menginginkan, tetapi dia tetap memegang prinsip untuk melakukan dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya.

"Astaga, dari mana aku harus membersihkan semua ini?" Tanya nya pada diri sendiri. Melihat ruangan yang begitu berantakan saja sudah membuat kepala ingin pecah, bagaimana jika ditambah dia yang membereskan? Sungguh, dia tak akan kuat pastinya.

Setelah menimbang-nimbang begitu lama, dengan matanya yang melihat seluruh sudut ruangan, Wilia jadi memikirkan sesuatu.

Untuk pertama kalinya saja, dia akan menyuruh seseorang untuk membantu membersihkan apartemen. Lagian Davio juga tak ada disini kan? Jadi tak mungkin Davio melihat nya, terlebih setelah melihat seluruh sudut, sepertinya tak ada kamera pengintai.

Setelah mendapatkan ide tersebut, buru-buru Wilia mengambil ponsel yang masih berada dalam tas selempang nya yang berada di bahu.

Wilia tampak menelpon seseorang yang dapat dipastikan adalah orang suruhan untuk membantu membersihkan apartemen.

Setelah menutup telepon, Wilia memilih duduk di kursi sofa yang sudah tak seperti sofa karena banyak nya bungkus snack dan kulit kacang berserakan disana, membuat sofa itu lebih mirip seperti benda rongsokan di gudang.

"Ck." Meski dengan berdecak, Wiia sedikit membersihkan bagian sofa yang akan diduduki nya sembari mengambil satu bantal yang terjatuh di lantai. Setelah posisi nya nyaman, Wilia memilih memejamkan mata sembari menunggu tukang bersih-bersih kemari.

Tak berselang lama, matanya pun mulai tertutup setelah diserang rasa kantuk yang tak tertahan. Wajar saja jika Wilia mengantuk, itu karena semalaman dia tak bisa tidur karena kepikiran tugas nya membersihkan apartemen.

Sudah dia bilang, seumur-umur Wilia tak pernah memegang sapu, jadi bagaimana bisa dia membersihkan apartemen yang jelas-jelas tugas nya tak hanya menyapu.

Dan demi melatih tugas tak manusiawi dari dosen nya, Wilia memilih berlatih menyapu. Itu juga demi menghilangkan kebosanan nya karena tak dapat tidur. Bukan hanya tak bisa tidur, bahkan Wilia berusaha mengalihkan pikiran dengan menonton drama Korea saja tetap tak bisa lupa.

Dia tetap tak bisa menikmati nya, alhasil Wilia memilih belajar menyapu agar besok bisa melaksanakan tugas nya dengan benar.

Bukan tanpa alasan Wilia takut kinerja nya buruk, dalam perjanjian itu Davio mengatakan jika tugas Wilia kacau maka dia tetap akan mengangkat nilai, meski tidak mendapat nilai D, tapi Wilia juga tak bisa mendapatkan nilai B. Yang artinya, jika tugas Wilia buruk, maka dia hanya mendapatkan nilai C sebagai perbaikan. Astaga, pelit sekali memang!

Arrhhh... Memikirkan hal itu benar-benar semakin membuat Wilia pusing. Dan setelah semalaman tak bisa tidur karena memikirkan Davio terus-terusan memerintah nya saat membersihkan apartemen, ternyata si dosen tampan itu justru memberi pesan tak ada di rumah.

Jika saja pesan itu dikirim sejak semalam, mungkin Wilia tak akan setakut ini.

Dan baru saja Wilia memejamkan mata dan memasuki alam mimpi, bell apartment berbunyi beberapa kali. Membuat nya terpaksa membuka mata dan berdiri membuka kan pintu meski dengan mulut nya yang berdecak.

Wilia tahu siapa yang datang ke sini, tentu saja orang suruhan nya yang akan membereskan semua keonaran di ruangan ini.

Klek.

"Selamat pagi, Nona."

"Hm, langsung masuk saja dan bereskan semua ruangan dengan bersih." Ujar Wilia to the point. Dia tak ingin membuang-buang waktu untuk bicara basa basi. Terlebih matanya masih terlalu mengantuk untuk mendengarkan ucapan orang yang tentunya tak berfaedah.

"Baik, Nona." Perempuan itu mengangguk dan langsung masuk. Dia segera membereskan ruangan itu, sementara Wilia lebih memilih kembali ke kursi yang diduduki nya tadi karena sudah membuat nya nyaman. Dan tak membutuhkan waktu lama, Wilia kembali tidur dengan posisi satu kaki berada di meja dan satu nya lagi di luruskan pada kursi panjang itu. Untung saja tadi Wilia memilih menggunakan hit pant, bukan gaun ketat seperti biasa. Jadinya dia bisa bergerak bebas tanpa takut ****** ***** nya terlihat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!