Bab 20. Petaka

Skala mengendarai kuda besi nya dengan kecepatan sedang sembari menikmati keindahan kota di malam hari. Hal utu membuat suasana hati nya sangat lah bahagia terlebih sudah ada wanita cantik disampingnya yang akan menghangatkan ranjang nya nanti.

Skala merasa hidup nya sudah sempurna, hanya saja terkadang dia merasa kesepian. Dia merasa hati nya hampa, tak ada curahan kasih sayang dari orang-orang terdekat. Hubungannya dengan keluarga memang tergolong kurang baik semenjak sikap ayah Skala yang menurut nya semena-mena. Dia memaksa Skala mengelola bisnis disini sendirian sedangkan adik tirinya hanya menikmati hasil dari jerih payah nya sendiri.

"Apa kau lapar?" Tanya Skala seraya mengelus paha Jessica. Ya, wanita itu bernama Jessica. Tadi sebelum Skala mengemudi sempat bertanya siapa nama wanita itu, dan akhirnya mereka sudah saling kenal bahkan bertukar nomor telepon.

"Lumayan lapar, but it's okay lah. Aku bisa menahan nya demi yang satu ini." Jessica menampilkan senyum menggoda nya dengan tangan nya yang sudah menyusup ke sela-sela paha bagian dalam Skala, dan seketika itu pula bola mata Skala melotot saat merasakan harta paling berharga nya digenggam erat lalu mendapatkan pijatan lembut.

"Apa yang kau lakukan?" Skala yang merasa tak akan tahan dengan godaan itu segera menarik tangan Jessica agar menjauh dulu. Karena jika dibiarkan begitu saja, rak menutup kemungkinan jika dia tak akan tahan dan melakukan saat ini juga.

"Why? Bukan kah kita sama-sama menyukai nya?" Tanya Jessica yang masih tak ingin melepaskan benda keramat itu begitu saja.

Dia memang sangat ahli bidang rayu merayu karena dia lah ahlinya. Jessica memang cantik dan diberi kelebihan badan yang indah karena ukuran nya yang ideal. Dan tentu saja, siapa sih yang maj menolak wanita cantik?

"Tapi kita masih di jalan, tunggu setelah sampai, oke?" Bujuk Skala halus masih dengan menampilkan senyum terbaiknya. Dia tetap berusaha konsentrasi mengemudi meski sebenarnya sudah sangat tak nyaman karena ternyata sudah ada yang bangun

"Tapi junior mu sudah bangun, sayang." Jessica tersenyum menang saat tahu secepat kilat celana yang dikenakan Skala sudah mengembang.

"Aku akan tahan sebentar lagi." Kata Skala seraya menambah kecepatan. Ini benar-benar gila, baru saja dia digoda wanita disaat dirinya sedang menyetir, astagaa...

"Kenapa harus menunggu sampai? Apa kau tidak ingin mencoba kita melakukan disini?" Tanya nya seraya menurunkan satu tali gaun nya yang berbentuk spaghetti.

Damn it! Skala meneguk ludahnya kasar. Dia benar-benar tak bisa menahan godaan ini lagi, apalagi celana nya benar-benar sudah sangat sesak dan harus segera di longgarkan. Akhirnya setelah bujukan dan rayuan iblis menjelma jadi seorang bidadari ini Skala membelokkan mobilnya ke trotoar bagian kiri. Untung saja sudah malam hari dan jalanan di sini lumayan sepi sehingga tidak takut menghalangi mobil lain yang ingin melintas.

Skala langsung menyerang bibir wanita itu dengan menggebu-gebu. Tangan nya tak mungkin tinggal diam setelah dia digoda habis-habisan. Dengan lincah dia menurunkan gaun yang dipakai Jessica sehingga bagian atas wanita itu benar-benar terbuka setelah membuka juga pelindung dada nya.

Sedangkan Jessica juga tak mau tinggal diam, dia segera membuka kaitan ikat pinggang serta resleting nya. Setelah berhasil membuka nya, Jessica segera mengeluarkan benda sakti yang selalu menjadi kebanggaan nya. Andai Skala tak sedang menggebu-gebu mencium nya dengan sangat rakus, benda yang saat ini digenggam itu pasti sudah dihisap habis-habisan. Sayangnya saat ini dia tak memiliki kesempatan itu.

Bibir Skala kini berpindah ke bawah, menyusuri tubuh indah sempurna itu. Dia melakukan apa yang menjadi kegiatan favorit nya setelah mendapatkan mainan itu sampai-sampai Jessica tak bisa menahan suaranya. Dan itu semakin menambah atmosfer panas di antara mereka.

Skala segera menggendong Jessica dan membawa nya ke pangkuan. Dia menurunkan kain segitiga yang dipakai wanita itu tanpa melepas gaun yang sudah berada di bawa perut. Sedangkan Jessica masih saja sibuk mengurut mainan nya itu hingga membuat Skala benar-benar tak tahan.

Dan akhirnya, dia mengarahkan pusaka yang menjadi kebanggaan nya pada ruangan yang persis diatas nya dan bahkan sudah menempel dan tinggal mendorong nya masuk.

Brakk

Baru saja Skala ingin memasukan benda pusaka itu dirinya sudah lebih dulu di kagetkan dengan suara di belakang mereka. Dan akhirnya mereka menyadari bahwa di dalam mobil bukan hanya ada mereka, tapi juga masih ada Davio yang sudah mabuk berat.

"Shitt!" Skala mengumpat kesal seraya memijat pelipisnya. Padahal tadi sedang tegang-tegang nya malah mood nya digagalkan oleh kenyataan bahwa di mobil itu masih ada Davio yang sewaktu-waktu bisa bangun.

"Kita lanjutkan nanti." Perintah Skala seraya membantu membenarkan gaun Jessica yang sudah tak karuan. Dan akhirnya Jessica pun hanya bisa mengangguk karena sebelumnya dia juga lupa akan kehadiran sosok lain di belakang mereka.

Skala melanjutkan mengemudi dengan kecepatan penuh, dia sudah taj sabar ingin segera sampai di apartemen Davio dan membuang nya ke dalam sana agar tam mengganggu nya lagi.

Tak butuh waktu beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan apartemen Davio. Dia meminta tolong dua petugas di sana untuk membantu membawa Davio ke unit nya yang ada di lantai empat. Sengaja menyuruh dua orang sekaligus untuk mengantisipasi tumbangnya tubuh Davio akibat tak kuat menahan tubuh raksasa itu. Sebenernya bukan tubuh nya yang terlalu besar, tapi tubuh Davio sangat kekar dan terasa lebih berat dari bobot manusia pada umumnya.

"Huff, Terimakasih, pak…" Skala mengucapkan terimakasih pada dua orang yang sudah membantu nya sampai di depan unit apartemen.

"Sama-sama, pak. Kalau sudah tak ada yang bisa kami bantu, kami pamit undur diri." Dua petugas itu memberi hormat pada Skala yang masih memapah Davio dan dibalas anggukan oleh Skala.

Sesuai rencana nya tadi, dia membuka pintu apartemen yang kebetulan tahu kode password nya itu lalu segera mendorong begitu saja hingga tubuh Davio terjungkal ke lantai.

Melihat betapa tersiksanya Davio, Skala hanya bisa tertawa keras tanpa memperdulikan bagaimana keadaannya. Dia bahkan langsung menutup pintu dan segera berlalu dari sana.

Sedangkan Davio, laki-laki yang sejak tadi teler itu mendadak tersadar. Meski dengan tubuh sempoyongan dia berusaha bangkit untuk pergi ke kamar. Namun saat di depan sofa, tatapan nya tertuju pada wanita yang tertidur di atas sofa yang seperti mirip Ana.

Pandangannya yang mengabur membuat Davio merasa bahwa wanita itu benar-benar Ana.

"Ana, kau disini?" Tanya Davio seraya mengelus wajah wanita itu setelah menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi.

"Aku sangat merindukanmu." Katanya seraya meneteskan mata. "aku benar-benar tak akan melepaskan mu kali ini," Katanya lagi dengan suara serak. Wanita yang dipanggil Ana merasa terusik itu membuka mata. Dia terkejut saat didepan nya sudah ada laki-laki yang dengan lancang menyentuh dirinya. Namun saat baru sjaa membuka mulut ingin menyuarakan perkataan, tiba-tiba bibirnya diserang oleh bibir Davio dan terjadilah sesuatu yang tak pernah diinginkan hingga menjadi petaka untuk keduanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!