Josh yang baru saja pulang itu tidak sengaja berpapasan dengan Evelyn di ruang tamu. Nina yang merasa canggung segera meninggalkan keduanya untuk berbicara.
Pria itu terlihat mengamati Evelyn dari bawah sampai atas. Penampilan wanita itu memang jauh berbeda dengan kekasihnya, tapi ia juga tidak memungkiri jika Evelyn cantik. Dengan dingin, Josh pun bertanya, "bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah membaik?"
Evelyn mengulum bibirnya sebelum menjawab, ia mencoba menghela napas dan mengulas senyum. "Keadaanku sudah cukup membaik. Hampir pulih, hanya masih sedikit pusing."
"Baguslah," timpal Josh dingin. "Kalau begitu, bicaralah pada Mommy dan Daddy kalau kau ingin pulang ke rumah itu bersamaku. Karena aku sudah bosan tinggal di sini," sambungnya.
Evelyn mengangguk samar dengan tersenyum kecut, "baik, Tuan. Saya akan berbicara dengan Nyonya Irish nanti."
"Mommy. Kau harus memanggilnya Mommy, jika tidak, dia akan marah kepadamu! Lagipula panggil aku Josh saja, terdengar risih saat kau memanggilku seperti itu."
Mendengar itu, Evelyn segera mengangguk. Josh pun kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga. Sedangkan Evelyn, ia hanya menatap punggung dingin pria itu hingga sampai ke lantas atas.
Nina kembali menghampiri dan segera memapah Evelyn untuk naik ke lantai dua. "Sabar, Nona. Saya yakin, Tuan Josh akan segera luluh dan berpaling dari wanita itu, lalu mencintai Nona," bisik Nina dengan tersenyum.
"Hush! Kau jangan berbicara seperti itu, Nina. Aku tidak apa-apa, tidak masalah jika kami hanya menikah karena keterpaksaan. Toh aku juga tidak mencintai Tuan Josh," sela Evelyn menggelengkan kepalanya.
Keduanya terus melangkahkan kaki hingga sampai di depan kamar dan masuk ke dalam. Evelyn merebahkan dirinya. Nina pun segera pamit pergi dan membiarkan Evelyn beristirahat.
Wanita itu menatap langit-langit kamar. Sekilas bayangan masa kecil yang penuh tawa dan keceriaan itu kembali menghampiri ingatannya. Evelyn sendiri tidak tahu, memori siapa yang dirinya ingat. Apalagi, saat melihat dua orang dewasa yang ada dalam bayangan itu sangat berbeda dengan kedua orang tuanya.
Memang saat berumur 5 tahun, Evelyn sempat terjatuh dan mengalami gegar otak ringan yang mengakibatkan sebagian memorinya hilang. Itu pun ia ketahui dari orang tuanya, setelah beberapa kali mengeluh pusing dan selalu melihat bayang-bayang masa kecil yang tidak dirinya kenali.
Kini, saat memejamkan mata pun, ia sekilas melihat dua orang anak kecil berlarian. Perempuan dan laki-laki, hanya saja mereka terlihat berbeda usia. Mungkin perbedaan usianya sekitar 7 sampai 8 tahun.
"Ah, aku selalu dibuat gelisah jika memikirkan kedua anak kecil itu. Siapa mereka? Dan kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Lalu, kedua orang dewasa yang bersama kami siapa?" Evelyn mulai bertanya-tanya dengan menghela napas, dan bingung. "Hmm... Lagipula, jika memang benar itu memori–ku, mungkin hanya sepintas memori yang mulai kembali," sambungnya.
Hari mulai gelap, dan waktu makan malam pun tiba. Nina mengetuk pintu beberapa kali dan segera Evelyn persilakan masuk. Tentu saja wanita itu telah berpakaian rapi mengenakan piyama mahal pemberian mertuanya.
"Mari, Nona. Nyonya Irish dan Tuan Luise sudah menunggu di bawah," ajak Nina dengan tersenyum dan sedikit merapikan rambut Evelyn.
"Tuan Josh sudah turun?"
"Belum, Nona. Baru saja Eric naik ke lantai dua bersama Saya. Mari..." jawab Nina dengan mempersilakan Evelyn untuk segera berjalan.
Di depan kamar Evelyn, ia bertemu dengan Josh yang masih menatapnya dingin. Ekspresi datar itu selalu Josh berikan untuk Evelyn selain tatapan tajamnya.
Lalu Josh berjalan menuruni tangga lebih dulu dan Evelyn mengekor di belakangnya. Sedangkan Eric dan Nina berjalan di belakang.
Sesampainya di ruang makan. Kedua orang tua Josh menyambut hangat Evelyn dengan tersenyum padanya, berbeda dengan Josh yang mereka perlakukan dingin.
"Mom, Dad! Kenapa kalian masih saja bersikap dingin kepadaku? Bukankah aku sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf pada Evelyn?" tanya Josh dengan kening yang mengerut.
"Sudahlah, Josh. Sekarang waktunya makan jangan membahas hal lain," pungkas Nyonya Irish.
Mendengar itu, Josh berdecak dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Ia tidak berselera makan jika suasananya seperti ini, apalagi harus berada di samping Evelyn. Josh pun seger berdiri dan hendak pergi.
Tuan Luise terlihat mengerutkan keningnya dan menggebrak meja. "Mau ke mana kau, Joshi?!"
Josh menghentikan langkahnya saat sang ayah membentak. Ia segera membalikan badan dan memutar bola matanya. Lalu segera menjawab, "aku tidak lapar. Jadi, silakan saja lanjutkan makan tanpaku. Lagipula sekarang anak kalian Evelyn, kan?"
"Josh!"
Nyonya Irish menatapnya tajam. Ia bangkit dari duduknya dan segera menghampiri sang anak. Lalu menjewer telinga Josh seperti anak kecil, "kau merajuk lagi seperti anak kecil! Ayo duduk dan makan! Jika tidak, Mommy akan merampas semua fasilitas–mu dan menyuruhmu tidur di luar!"
Josh meringis kesakitan. Ia sudah bukan anak kecil lagi, tapi sang ibu tetap memperlakukannya seperti seorang anak kecil. "Iya, Mom, Maaf. Iya Joshi makan sekarang," ucapnya.
Melihat itu, Tuan Luise hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Istrinya paling tahu bagaimana meredakan suasana yang hampir memanas dengan dirinya yang sedikit terpancing.
Keesokan harinya. Josh tergesa-gesa menuruni tangga karena kesiangan. Ia membuka pintu dan tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Arrgh!"
"Kalau jalan tuh pakai mata!" sentak Josh saat melihat siapa orang yang dirinya tabrak.
"Maaf. Apa tangan Tuan tidak sakit?" tanya Evelyn refleks memegang tangan Josh yang terbentur ke pintu.
Josh menepis tangan Evelyn dengan kasar. "Lepaskan, bodoh! Sejak kapan aku mengizinkanmu memegang anggota tubuhku!"
"Maaf, Tuan. Saya refleks karena takut tangan Anda terluka," ucap Evelyn dengan menunduk.
"Minggir!" bentak Josh dengan mendorong tubuh Evelyn dan hampir membuat tubuh wanita itu tersungkur.
Josh tidak menyadari jika seseorang tengah menatapnya tajam dari arah tangga. "Joshi!"
Manik mata Josh membulat, kakinya refleks mengerem dan menoleh. "Mo–mommy? Kenapa masih di rumah?"
Nyonya Irish berjalan dengan cepat menghampiri kedua orang itu. Wajahnya tentu saja terlihat kesal, ia segera membentak sang anak. "Kau berani sekali mendorong, Evelyn! Apa permintaan maaf kau itu palsu, Joshi?!"
Josh merasa sial hari ini. Ia mengira sang ibu sudah berangkat menuju butiknya. "Maaf, Mom. Aku refleks mendorong Evelyn karena tergesa-gesa. Aku tidak mau ketinggalan meeting, karena Daddy mengancamku jika terlambat datang, maka proposal yang sudah aku buat tidak akan Daddy terima."
"Alasan! Bilang saja kau memang masih kesal dan belum menerima Evelyn. Sekarang, berikan kunci mobilmu pada Mommy!"
"Mom!"
Nyonya Irish melotot dan mendesak Josh. "Ayo cepat berikan! Apa Mommy harus me.beritahu Daddy–mu tentang Sarah?!"
Mendengar ancaman sang ibu, terpaksa Josh memberikan kunci mobilnya dengan pasrah.
"Dompetmu!" pinta Nyonya Irish lagi.
"Mommy! Yang benar saja? Lalu aku berangkat naik apa jika Mommy merampas mobil dan dompetku?"
"Ayo cepat!"
Josh berdecak dan segera mengeluarkan dompet dari sakunya. "Boleh Josh minta uang?"
Nyonya Irish menghela napas. Ia pun segera membuka dompet sang anak dan menarik dua lembar uang itu lalu memberikannya. "Harus cukup sampai kau kembali lagi ke rumah ini. Jangan menumpang pada mobil Daddy–mu! Ini hukuman dari Mommy karena kau sudah mendorong Evelyn!"
Josh mendengus kesal dan menatap sinis ke arah Evelyn. 'Sialan! Wanita itu perlahan-lahan membuatku kehilangan segalanya' batin Josh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Biduri Aura
kapok mu Josh
2023-04-28
0
Dewi Ansyari
Rasain kamu Josh emang enak ngak punya uang banyak dan ngak punya mobil🤣🤣🤣
2023-01-29
0
Novianti Ratnasari
jangan2 bayangan anak kecil, laki2 dan peremouan itu Josh dan evelyn
2023-01-29
0