"Evelyn...!"
Teriak Josh dari ruang makan. Evelyn yang berada di dapur pun segera berlari menghampiri dengan menunduk di hadapannya. "Ada apa, Tuan?"
"Bereskan semua ini! Kau yang harus mencuci semua piring itu, dan Nina akan membantu Sarah membawa barang-barangnya ke kamar!" titah Josh dengan menatap tajam.
Evelyn menghela napas. Sungguh, rasanya ia ingin sekali menjambak rambut wanita yang tengah menyeringai ke arahnya, dibanding dengan Josh yang tidak terlalu bermasalah. Dengan cepat Evelyn pun membereskan meja makan dan membawa semuanya ke wastafel untuk segera dicuci.
Kemudian Josh bangkit dari duduknya dan membentak Nina untuk menyuruhnya membawa semua barang milik Sarah ke lantai dua. Sarah berjalan lebih dulu bersama Nina, sedangkan Josh ia terlihat sedikit mengintip Evelyn lebih dulu yang berada di dapur tengah mencuci piring. "Ckh! Aku hanya ingin tahu, seberapa tahan kau ada di rumahku, Evelyn," gumamnya menyeringai.
Ia pun dengan cepat segera pergi meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju lantai dua untuk menghampiri Sarah.
Sesampainya di sana, Josh mendapati kekasihnya tengah memarahi Nina. "Ada apa ini? Kenapa kau marah-marah, Sayang?" tanya Josh dengan heran.
"Dia baru saja menjatuhkan tas milikku!" jawab Sarah setengah melotot. "Lihatlah, alat make up aku berserakan di lantai!" sambungnya dengan menunjuk ke lantai.
Josh menghela napas. "Sudahlah, Sayang. Kau tidak usah mengkhawatirkan semua itu, nanti bisa aku ganti," ucapnya berusaha menenangkan sang kekasih. "Dan kau, Nina! Pergi sekarang dari kamar ini!" sentaknya pada Nina yang masih menunduk.
Dengan cepat Nina pun berlalu pergi meninggalkan kedua insan yang sepertinya tengah dimabuk asmara.
Nina berjalan menuruni tangga menuju dapur. Ia menggelengkan kepalanya samar sembari menghembuskan napas perlahan. "Kenapa Nona tidak melawan? Padahal Saya tahu, jika Nona bisa melawan Tuan Josh. Seharusnya Anda melawan saja, Nona. Saya tidak mau melihat Anda ditindas terus menerus," kata Nina dengan wajahnya yang ditekuk, kesal.
Evelyn tidak merespon. Ia tetap fokus mencuci piringnya dengan cepat agar semua segera beres dan ia bisa beristirahat.
"Nona seharusnya istirahat setelah pingsan. Bukan malah berdiri di sini dan menggantikan pekerjaan Saya. Anda harus beristirahat setelah ini, karena Saya tidak mau Nona sakit," resah Nina lagi.
"Iya, Nina. Aku akan beristirahat sebentar lagi. Kau rupanya cerewet juga ya," ucap Evelyn dengan mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Nona. Saya punya satu permintaan pada Anda," ucap Nina tiba-tiba.
Evelyn mengerutkan keningnya, bingung. "Permintaan apa? Kalau uang aku tidak ada."
"Bukan, Nona. Ah, ini hanya sebuah permintaan kecil, saya hanya ingin Anda bisa lebih berani dari wanita itu," jelas Nina.
"Iya, Nina, iya. Astaga."
Nina pun tersenyum kala melihat Evelyn mengulas senyum setelah membereskan cucian piringnya.
"Maafkan Tuan Josh ya, Nona. Seharusnya Nona bahagia di hari pertama pernikahan ini."
"Sudahlah, Nina. Tidak baik meratapi nasih seperti itu, yang penting aku masih tetap bisa makan di sini dan tentunya ada tempat untuk menampungku secara gratis. Lagipula, orang tuaku sudah memberikanku seutuhnya pada keluarga ini," tutur Evelyn. "Kalau begitu, aku akan naik ke atas dan beristirahat di kamar."
Evelyn pun segera berjalan menaiki anak tangga dengan menyeka peluh yang ada di dahinya mengenakan tangan. "Sabar Evelyn. Jangan lemah!" tegasnya pada diri sendiri.
***
Sudah sebulan Evelyn menjadi istri bayangan untuk Josh. Setiap harinya seperti biasa pria itu selalu memperbudak Evelyn selayaknya seorang pembantu. Bahkan, jika Eric tidak mencoba mencegah Josh, tentu pria itu akan memecat Nina agar Evelyn yang menggantikannya.
Begitu pun dengan Sarah, yang setiap hari selalu poya-poya, tentu saja menggunakan uang Josh. Bahkan, Sarah tidak ragu-ragu memerintahkan Evelyn untuk memijat tubuhnya.
Wanita berusia dua puluh lima tahun itu adalah seorang model ternama. Evelyn tentu tahu itu dari percakapan Sarah bersama sang manager. Josh juga tidak melarang Sarah jika wanita itu membawa manager–nya ke rumah ini saat pria itu tengah tidak berada di rumah.
Setiap malam pun Josh selalu tidur bersama Sarah di kamar utama. Bahkan, mereka terlihat seperti sepasang suami istri, ketimbang kekasih.
Seperti pagi ini, keduanya masih tertidur pulas tanpa terganggu. Hingga suara menggelegar dari lantai satu membuat Josh terperanjat.
"Josh!"
Lagi-lagi suara itu terdengar lantang. Dengan cepat Josh segera bangkit dari atas ranjang dan membangunkan Sarah yang terlihat masih mengantuk.
"Mommy datang, Sarah! Aku tidak mungkin membiarkanmu tertidur terus di atas ranjang! Evelyn harus segera pindah ke sini, kau bersembunyi di kamar mandi, cepat!" perintah Josh dengan suara sepelan mungkin.
Dengan langkah gontai dan masih terlihat lesu, Sarah pun berjalan menuju kamar mandi dan bersembunyi di sana.
Sedangkan Josh, ia dengan cepat berjalan menyelinap ke luar kamar dan menuju kamar Evelyn di ujung lorong. Ia berusaha mengetuk pintu kamar wanita itu beberapa kali, hingga Evelyn pun muncul dari balik pintu.
Dengan cepat, Josh pun menarik tangan Evelyn tanpa berbicara terlebih dulu, hingga membuat wanita itu terkejut. "Mau ke mana? Ini masih pagi, Tuan."
"Kedua orang tuaku ada di bawah! Setidaknya kau harus berada di kamar utama hari ini!" jawab Josh seadanya.
"Joshi? Evelyn?"
Nyonya Irish mulai menaiki anak tangga untuk memastikan di mana sang anak dan menantunya sepagi ini belum menyahut. Apakah mereka masih tertidur? Pikirnya.
Hingga Nyonya Irish pun tiba di depan sebuah pintu kamar dan mengetuknya beberapa kali.
"Josh? Evelyn? Apa kalian ada di dalam?" tanya Nyonya Irish memastikan.
Perlahan pintu kamar pun terbuka. Josh pun berpura-pura seperti orang baru bangun dengan menguap. "Hoaam... Mommy? Kenapa ada di sini?"
Nyonya Irish memicingkan matanya mengamati sang anak dengan penuh ragu. "Di mana Evelyn?"
"Dia ada di dalam. Kami baru saja bangun," jawab Josh sembari mengisyaratkan sang ibu.
Nyonya Irish pun memanjangkan lehernya memeriksa Evelyn apakah benar-benar ada di dalam atau tidak. Setelah melihat menantunya yang ada di dalam, Nyonya Irish pun merangsek masuk ke dalam kamar itu.
Ia mengedarkan pandangannya mengamati isi kamar itu. Yang bisa dikatakan tidak seromantis kamar pasangan pengantin baru. Hingga matanya tertuju pada sebuah benda yang tidak asing baginya.
Nyonya Irish pun mendekat dan melihat benda itu. Sebuah alat pelurus rambut yang sering digunakan wanita untuk mempercantik rambutnya.
"Ini punya siapa? Apa kau sudah pandai menggunakan ini, Evelyn?" tanya Nyonya Irish dengan mengerutkan keningnya dan mengamati benda itu. "New York? Kapan kau membeli catokan rambut ini?" sambungnya penasaran.
Josh dan Evelyn tentu terkejut. Keduanya saling bertatapan, seolah tengah memberi isyarat siapa yang akan menjawab pertanyaan wanita itu.
"I–iya, Mom. Aku membelikannya untuk Evelyn beberapa hari lalu," jawab Josh sedikit gugup. "Iya 'kan, Evelyn?"
Evelyn mengangguk dengan cepat. "Iya, Iya."
Melihat keduanya tampak gugup, semakin menambah tingkat kecurigaan Nyonya Irish terhadap kedua orang itu. "Apa kalian tidak menyembunyikan sesuatu?" tanyanya dengan menyipitkan matanya.
"Tidak!" jawab Josh dan Evelyn serentak.
Nyonya Irish pun akhirnya percaya, meski sedikit mencurigakan. Hingga tiba-tiba suara benda jatuh dari dalam kamar mandi, mengalihkan atensi wanita paruh baya itu. Ia mulai berjalan untuk memastikan ada apa di dalam sana.
"Tidak ada apa-apa, Mom. Itu mungkin benda yang hanya tertiup angin dan jatuh," sela Josh mencegah sang ibu.
"Apa-apaan kau, Josh! Minggir, ibu ingin tahu ada apa di dalam sana!" tegas wanita itu sembari menggeser kan tubuh sang anak yang menghalangi.
Hingga pintu pun segera dibuka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Santai Dyah
nyicil ya thor smngt
2023-06-28
0
Santai Dyah
mommy nya josh padahal baik ya
2023-06-28
0
Sri Lestari
mamvus kau josh, nyonya irish ikuti anakmu kemanapun dia pergi
2023-01-29
0