"Evelyn...!"
"Evelyn...!"
Beberapa kali Nyonya Irish memanggil Evelyn, tapi wanita itu tak kunjung menjawab.
"Nina. Apa kau tahu di mana Evelyn? Kenapa dia tidak menjawab setelah beberapa kali saya panggil?" tanya Nyonya Irish pada salah satu pelayannya yang tengah berjalan.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Tapi, tadi... Nona Evelyn tengah membersihkan lantai, dan setelahnya naik ke lantai dua menuju kamar," jawab Nina, tampak gugup dan menunduk.
"Maksudmu? Membersihkan lantai bagaimana?!"
"Itu, Nyonya. Tuan Muda yang memerintahkan Nona Evelyn."
"Astaga, Joshi!" geram Nyonya Irish sembari berjalan menaiki anak tangga untuk mencari sang anak.
"Josh...! Joshi...!" panggil Nyonya Irish beberapa kali saat tiba di lantai dua. Ia berjalan menuju kamarnya dan membuka pintu, tapi tidak menemukan anak itu.
"Astaga, kau di mana Josh!"
"Mom!"
Tiba-tiba Josh muncul dari arah balkon.
"Kau dari mana saja Josh? Apa maksudmu dengan menyuruh Evelyn membersihkan semua ruangan? Dan sekarang, di mana dia?" tanya Nyonya Irish dengan menyipitkan matanya penuh curiga.
"Ti-tidak, Mom! Aku tidak menyuruhnya membersihkan ruangan. Aku juga tidak tahu dia di mana," jawab Josh dengan gelagapan.
Kegugupan Josh membuat Nyonya Irish menaruh rasa curiga. Ia menyipitkan matanya melihat gelagat yang tidak beres dari sang anak. "Kau pasti tahu di mana Evelyn, Josh. Katakan pada Mommy, di mana anak itu!"
"Tidak tahu, Mom. Aku benar-benar tidak tahu di mana wanita miskin itu."
"Josh!"
Mata Nyonya Irish melotot. Ia tahu anaknya tengah berbohong, jadi dirinya sedikit marah. "Katakan pada Mommy, sebelum Daddy datang!" tekannya.
Namun, tiba-tiba suara teriakan terdengar mengejutkan dari arah ujung lantai dua. Nyonya Irish yang terkejut sekaligus penasaran pun segera berjalan menghampiri. Josh ikut mengekor di belakang sang ibu.
"Kenapa Nina?! Ada apa?" tanya Nyonya Irish saat mendapati sang pelayan tengah mematung di depan sebuah kamar mandi.
"No-nona Eve...," lirih Nina dengan menunjuk ke dalam kamar mandi.
Melihat itu, Nyonya Irish pun segera memeriksa apa yang sebenarnya dilihat oleh sang pelayan. Lalu, seketika manik matanya membulat sempurna, ketika melihat tubuh Evelyn yang sudah terkulai lemas di dalam sana.
"Evelyn!"
Nyonya Irish segera masuk dengan perasaan khawatirnya. "Nina! Cepat panggilkan Markus! Josh! Bantu angkat tubuh Evelyn!" perintahnya.
Mendengar itu Josh segera mendekat dengan perasaan tak acuh. Ia tahu, setelahnya pasti sang ibu akan menghukumnya jika dilihat dari tatapan marah yang dilayangkan ke arahnya.
"Tunggu apa lagi, Josh! Gendong dia, bawa keluar dari kamar mandi!" bentak Nyonya Irish.
Dengan cepat Josh pun menggendong Evelyn yang belum sadarkan diri itu. Ia merasa risih dan tak suka harus menggendong wanita miskin itu.
"Nina! Cepat! Persiapkan mobilnya, kita akan membawa Evelyn ke rumah sakit!" teriak Nyonya Irish saat sang pelayan tak kunjung datang membawa Markus.
"Mom! Tidak usah khawatir seperti itu, dia tidak apa-apa. Dia hanya pingsan biasa, nanti juga sadar," ucap Josh saat melihat sang ibu begitu mengkhawatirkan wanita yang masih berada dalam gendongannya.
"Tidak apa-apa matamu, Josh! Lihat baik-baik! Dia pingsan, dan itu pasti karena ulahmu!" tegas Nyonya Irish setengah melotot.
"Kau pasti menguncinya kan? Tidak mungkin dia masuk begitu saja ke kamar mandi yang sudah tiga bulan belum di perbaiki!" sambungnya.
Josh menunduk, seolah membenarkan apa yang ibunya tuduhkan. Ya, memang benar dia yang mengurung Evelyn tiga jam lalu di kamar mandi itu.
***
Setelah dua hari lalu Evelyn pingsan karena terkunci di kamar mandi dan Tuan Luise memarahi Josh habis-habisan. Mereka akhirnya mempercepat hari pernikahan.
Besok Josh dan Evelyn akan menikah dan hari ini semuanya tengah dipersiapkan. Kareanya itu, Josh saat ini tengah mengendap untuk keluar dari rumahnya.
"Tuan muda!"
Manik mata Josh membulat kala sebuah suara memergokinya yang tengah berjalan pelan di arah belakang.
"Tuan muda mau ke mana? Kenapa ada di belakang?" tanya Nina yang kebetulan akan mengambil sesuatu di gudang.
"Aku mau ke taman belakang, hanya saja ingin lewat sini. Pergi sana! Mommy mungkin sudah menunggumu, tadi dia sempat mencarimu Nina!"
Mendengar itu Nina segera mengangguk dan menunduk. Lalu dengan cepat mengambil sesuatu dari gudang dan pergi. Sedangkan Josh, ia terus berjalan mengendap hingga sampai di pintu belakang dan berhasil keluar dari halaman rumahnya.
"Akhirnya!"
Dengan cepat Josh menghampiri sebuah mobil yang mungkin sudah lama menunggunya.
"Silakan masuk Tuan," ucap pria itu. Josh pun masuk dengan cepat.
Mobil yang saat ini dikendarai oleh sang asisten bernama Eric itu meluncur menyusuri jalanan sempit daerah terbelakang dari dekat rumah Josh. Hingga mereka sampai di jalan raya.
Kini, mobil yang membawa Josh pun telah tiba di sebuah apartemen yang cukup terkenal di kota Vallenta. Ia bergegas turun dan meninggalkan sang asisten yang hendak memarkirkan mobilnya.
Josh dengan cepat berlari masuk dan naik ke lantai 20. Sampai tiba di depan sebuah pintu berpelakat nomor 2034.
Beberapa kali ia menekan bel, namun tidak kunjung mendapat respon. Hingga beberapa menit kemudian pintu apartemen itu terbuka dan seorang wanita berpakaian minim muncul.
"Hi, sweetie. Kenapa lama sekali membukakan pintu?" tanya Josh dengan merangsek masuk sembari memeluk tubuh wanita yang diketahui adalah kekasihnya selama satu tahun ini.
"Maaf, Josh, aku sedang berganti pakaian," balasnya dengan tersenyum simpul mencoba menggoda sang kekasih.
"Stop, Rose," ucap Josh yang sedikit terengah-engah karena sedikit terangsang. "Ada yang ingin aku bicarakan," sambungnya dengan menuntun wanita itu ke sofa hingga keduanya duduk.
"Apa, honey? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya wanita bernama Rose itu dengan nada menggoda.
"Aku akan menikah."
"Apa? Kau mengajakku menikah secepat itu? Apa keluargamu akan menerimaku?" Rose terlihat bingung sekaligus bahagia mendengarkannya.
"Bukan denganmu, Rose."
Seketika senyum di bibir Rose luntur. Tubuhnya mulai menjauh perlahan dari pria itu.
"Rose, dengarkan aku. Ini hanya sementara, aku harus menikahi wanita itu atas permintaan Daddy. Setelah pernikahan itu berjalan satu tahun dan aku mendapat perusahaan itu, aku akan meninggalkannya lalu menikahimu."
Rose masih mematung. Tidak memberi respon apapun pada sang kekasih.
"Aku serius Rose. Itu janjiku, kau harus bertahan selama satu tahun, oke? Demi masa depan kita?"
***
Evelyn berjalan gontai dengan gaun pengantin yang belum sempat dirinya lepas setelah melakukan janji suci pernikahan satu jam lalu.
Kini, dirinya dan Josh telah sampai di rumah yang telah dihadiahkan oleh Tuan Luise dan Nyonya Irish. Nina, sang pelayan kesayangan Nyonya Irish diperintahkan ikut ke rumah ini untuk menjaga Evelyn juga Josh.
Dengan perasaan kosong dan hampa, Evelyn masuk ke dalam kamar diikuti dengan Nina dibelakangnya yang membawa koper juga barang-barang miliknya.
"Nona, mari, saya bantu untuk membuka gaunnya," ucap Nina.
Evelyn hanya menurut tanpa mengelak. Ia benar-benar merasa kosong, seolah dirinya telah mati beberapa hari lalu setelah kepergiannya dari rumah.
Jiwa yang kosong, itulah Evelyn sekarang. Tidak ada ekspresi senyum dan sedih yang dirinya tampakkan.
Ketukan pintu mengejutkan Nina, juga Evelyn yang tengah melamun. Nina pun dengan cepat segera membuka pintu.
"Nona Evelyn, Tuan Josh memanggil Anda. Dia ada di kolam renang di halaman belakang," ucap Eric sang asisten Josh.
Mendengar itu, Evelyn pun segera berjalan tanpa ragu menemui pria yang baru satu jam lalu menjadi suaminya.
Tempatnya hanya suami palsu dan ini bukan pernikahan impiannya. Ia diperlakukan seperti barang, sebuah objek alat tukar untuk melunasi hutang sang ayah. Jadi, masuk akal jika dirinya saat ini memilih menjadi mayat hidup tanpa perasaan.
Sesampainya di belakang. Evelyn melihat Josh yang tengah duduk bersantai di kursi pinggir kolam.
"Ada apa, Tuan? Kenapa Anda memanggil saya?" tanya Evelyn tampak dingin. Seolah tidak ada gairah untuk berinteraksi dengan pria yang ada di hadapannya.
"Kau mungkin sudah menjadi istriku di atas kertas juga di hadapan kedua orang tuaku. Tapi, jauh di dalam hatiku kau hanya seorang wanita miskin yang tidak layak dicintai! Jadi, kau tidak perlu berlagak menjadi seorang istri di depanku. Karena aku akan membawa seseorang yang sangat aku cintai masuk ke dalam rumah ini," tegas Josh kemudian bangkit dari duduknya.
"Aku mempunyai standar yang layak untuk siapa yang akan aku masukan ke dalam hidupku! Dan kau! Kau tidak layak untuk itu!"
Byuurr!
Josh mendorong tubuh Evelyn ke dalam kolam, lalu berjalan pergi meninggalkannya tanpa menoleh kembali ke belakang.
Nina yang melihat kejadian itu seketika terkejut. Sang tuan muda yang melewatinya pun terlihat menatap tajam.
Lalu, dengan cepat Nina berlari menghampiri Evelyn yang hampir tenggelam. Ya, Evelyn tidak bisa berenang. Nina dengan kepanikannya seketika langsung berteriak, hingga Eric berlari menghampiri mereka.
Dengan cepat Eric pun melompat masuk ke dalam kolam untuk menyelamatkan sang nona muda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Santai Dyah
astaga josh tega bener lo nyemplungin Eve ke kolam
2023-06-28
0
Dewi Ansyari
Josh awas saja kamu pasti akan menyesal dasar tidak punya hati😡😡😡😡
2023-01-29
0
Sri Lestari
lawan joshi suami yg g ada ahklak itu eve jangan lemah dan takut
2023-01-29
0