"Nyonya!"
"Nyonya, bangun!"
Nina beberapa kali menepuk pipi Evelyn dengan menggoyangkan tubuhnya. Tapi, wanita itu tak kunjung sadar dari pingsannya.
Eric berlari menghampiri dengan membawa selimut dan minyak angin dan segera menyelimuti tubuh Evelyn juga dibantu Nina untuk mengoleskan minyak angin.
"Bawa saja Nyonya Evelyn ke kamarnya. Biar Saya yang menggantikan bajunya agar tidak masuk angin," ucap Nina.
Mendengar itu, Eric pun mengangguk dan segera menggendong Evelyn untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
Sepasang mata menatap mereka dari arah balkon. Josh menyunggingkan bibirnya melihat Evelyn yang belum sadarkan diri dalam pelukan pria lain.
"Baru saja tercebur di kolam renang, kau sudah pingsan Evelyn. Belum saja kau kupermainkan, ckh!" decaknya.
Ia segera beranjak dari balkon dan berjalan di lorong. Josh berpapasan dengan Eric yang tengah mengendong Evelyn dan menunduk memberi hormat lalu kembali berjalan menuju kamar Evelyn.
Nina terlihat menunduk merasa terintimidasi oleh tatapan Josh yang menatapnya secara tajam. Ia pun dengan cepat menyusul Eric yang sudah lebih dulu masuk ke kamar sang Nyonya.
"Baringkan saja. Anda boleh keluar," kata Nina pada Eric.
Sebelum keluar Eric pun menatap Nina. "Berbicaralah seperti biasa kita dulu, Nina. Kau dan aku bukan baru pertama kali bertemu," ucapnya, lalu berlalu meninggalkan wanita yang masih menunduk itu.
Nina menghela napas dan segera mencoba mengganti pakaian sang nyonya. Setelah selesai, ia pun terus berusaha memberikan minyak angin untuk dihirup oleh Evelyn agar tersadar.
Hingga beberapa menit kemudian. Sayup-sayup mata Evelyn terbuka perlahan. Ia mengedarkan pandangannya menelusuri semua ruangan itu. Baru dirinya tersadar jika ia memang sudah tidak lagi di rumahnya.
Ekor matanya menangkap suatu objek, dengan cepat ia pun menoleh ke samping dan mendapati Nina yang tengah menatapnya. "Nyonya sudah siuman? Apa yang nona rasakan? Apa masih sesak?" tanya Nina khawatir.
Evelyn mengerjapkan matanya. "Tidak. Aku tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?" tanya Evelyn sembari bangkit dari tidurnya dan bersandar pada headboard sembari memegang kepalanya yang agak sedikit pening.
"Nyonya tadi tercebur ke kolam dan tidak sadarkan diri. Jadi Saya sangat khawatir dengan keadaan Anda," jawab Nina dengan raut wajah gelisah.
Evelyn memejamkan matanya. Ia mencoba mengingat sesuatu. Lalu matanya tiba-tiba terbuka dan terkejut. "Tuan Josh mendorongku ke kolam renang," gumamnya.
Seketika napasnya sedikit tercekat, kala mengingat bagaimana dirinya yang berusaha naik ke permukaan agar tidak tenggelam karena tidak bisa berenang.
"Untung saja Eric asisten Tuan Josh menolong Anda, Nyonya. Jika tidak, Saya tidak tahu harus bilang pada pada Nyonya Irish nantinya," ucap Nina dengan mengulum bibirnya.
Evelyn bisa merasakan bagaimana khawatirnya wanita yang ada di hadapannya itu. Tentu ia juga tidak menyangka jika Josh akan mendorongnya ke kolam renang.
"Nina. Di mana Tuan Josh sekarang?" tanya Evelyn memastikan di mana keberadaan suaminya itu.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Tadi, Saya hanya berpapasan di dekat tangga dan setelah itu tidak tahu," jawab Nina tampak meyakinkan.
"Panggil aku Nona saja, Nina. Tidak enak rasanya mendengar kau terus memanggilku Nyonya. Karena ... Apa yang dikatakan Tuan Josh benar, aku tidak akan pernah menjadi Nyonya di rumah ini," paparnya dengan tersenyum tipis. Evelyn segera bangkit dari atas ranjang, meski masih merasa pusing. "Aku harus menyiapkan makanan untuk Tuan Josh. Bantu aku berjalan ke dapur, Nina," sambungnya.
"Tapi, Anda baru siuman, Nona. Saya tidak tega membiarkan Nona memasak dengan keadaan seperti itu."
Evelyn menghela napas, "Nina. Ayo," ucapnya.
Nina yang melihat ekspresi memohon dari Evelyn pun segera mengiyakan ajakannya dan mulai memapah wanita itu.
***
Setelah menyiapkan makanan untuk Josh. Evelyn pun segera membuka celemek yang dirinya kenakan. Lalu, tidak lama kemudian suara mobil terdengar berhenti di halaman rumah. Evelyn dengan cepat berjalan menuju pintu untuk menyambut pria yang sudah menjadi suaminya. Ia ingat, ucapan Nyonya Irish beberapa hari lalu, meski ini adalah pernikahan bukan atas dasar cinta. Tapi, Evelyn harus bisa mengurus Josh dengan baik.
Saat pintu dibuka. Manik mata Evelyn sedikit membulat, saat melihat Josh datang bersama seorang wanita dalam rangkulannya. Wanita seksi, cantik dan tentunya sangat berkarisma. Berbanding terbalik dengan dirinya yang biasa saja dalam berpakaian. Pantas saja Josh selalu menghinanya, ternyata selera dia memang wanita cantik nan seksi.
"Kenapa kau melamun seperti itu, Evelyn! Apa kau terkejut karena aku membawa seorang wanita ke rumah ini?" tanya Josh tampak angkuh dengan menyeringai.
"Tidak," jawabnya dingin. "Aku sudah memasak masakan untuk kau makan, Tuan. Jadi silakan cicipi di ruang makan," sambungnya.
"Ckh! Memangnya sepintar apa kau, sampai berani memasakkan aku makanan," decak Josh dengan menatap sinis. "Oh, kenalkan. Dia kekasihku," sambungnya memperkenalkan wanita itu.
Evelyn tersenyum tipis, sembari mengulurkan tangannya. "Saya Evelyn Aracelly Marshall. Senang bertemu denganmu."
Wanita itu segera menepis tangan Evelyn dengan memutar bola matanya, angkuh. "Sarah Violetta Keil, kekasih Josh," ucapnya sinis.
Lalu, tanpa ragu Josh pun mencium kening Sarah di hadapan Evelyn, berharap jika wanita itu akan cemburu. Namun, sepertinya Josh salah. Evelyn menunduk dingin dan berjalan lebih dulu menuju ruang makan. Melihat itu, Josh pun dengan cepat menuntun Sarah untuk segera berjalan mengikuti Evelyn.
Di ruang makan, Evelyn berusaha mengambilkan makanan untuk sang suami dengan penuh hati-hati karena tatapan Josh yang terlihat tajam.
"Kenapa kau berhenti?!" sentak Josh dengan menatap Evelyn.
"Hah? Maksudnya?" Evelyn terlihat bingung. Apa makanan yang dia sajikan kurang? Pikirnya.
"Layani juga kekasihku!"
Evelyn tidak bergeming. Haruskah ia juga melayani wanita itu?
"Kenapa diam? Ayo!" sentak Josh dengan menggebrak meja makan dan membuat Evelyn terkejut.
Dengan cepat Evelyn pun segera menyajikan makanan untuk Sarah, kekasih suaminya. Meski dia sedikit ragu, takut jika wanita itu tidak menyukai makanan yang dia sajikan.
Setelah merasa sudah selesai. Evelyn pun segera duduk dan bersiap mengambil makanan untuk dirinya. Hingga Josh menggebrak meja sekali lagi dan membuat wanita itu terkejut.
"Kenapa kau duduk di sini?! Tidak bisa kah kau lihat ada siapa di hadapanku, huh?! Aku hanya ingin makan berdua bersama Sarah. Kau seharusnya sadar diri dan pergi dari sini. Lagipula, kau tidak cocok makan di meja mahal ini. Makan saja di dapur, tempat kotor yang sangat cocok dengan pembantu sepertimu!" sentak Josh.
Evelyn menarik napas dan membuangnya perlahan. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan berlalu pergi tanpa berbicara. Sakit memang saat mendengarkan cacian yang terlontar dari mulut Josh. Tapi, dia mencoba untuk tidak mempedulikannya. Toh, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, selama hidup di rumah ini, ia harus bertahan demi bisa hidup dan makan yang layak. Setidaknya, ia tidak perlu memikirkan bagaimana besok akan makan seperti saat dirinya tinggal bersama kedua orang tuanya.
Ah, Evelyn jadi teringat kedua orang tuanya yang kejam itu. Sedang apa mereka? Apa mereka bahagia karena sudah melepaskan seonggok daging hidup yang bagi keduanya tidak berharga selain menjadikannya barang yang bisa ditukarkan dengan uang. Seperti saat ini, ia menjadi alat pelunas hutang dan berakhir terkurung di rumah besar bagai neraka.
...༻𓊈𒆜Visual Tokoh 𒆜𓊉༺...
...⬆︎ Joshi William Dexter ⬆︎...
...⬆︎ Evelyn Aracelly Marshall ⬆︎...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Santai Dyah
Aduh visualnya bkin klepek-klepek
2023-06-28
0
Eky Ramadani10
seruuu banget ceritamu thorr,dan sangatttttttttttt bangussssssssss visualnya❤️❤️
2023-02-01
0