"Mommy? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" tanya Josh yang terlihat gelagapan karena sang ibu baru saja masuk ke kamarnya.
Nyonya Irish mengangkat sebelah alisnya bingung, kenapa ekspresi Josh seperti itu. "Mommy sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi kau tidak menjawabnya. Memangnya kenapa? Kau sepertinya terkejut dengan kedatangan Mommy?"
Josh segera mencari alasan. "Ya, bisa saja aku sedang mengganti pakaian. Kan malu kalau Mommy tiba-tiba masuk," jawab Josh sekenanya.
"Sudahlah. Mommy hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu, ini tentang wanita sialan itu."
Josh mengerutkan keningnya. Siapa yang ibunya maksud wanita sialan? Sarah atau Evelyn? Tapi tidak mungkin Evelyn, itu pasti Sarah! Pikirnya. Josh pun segera bertanya dengan penasaran, "siapa yang Mommy maksud? Apa itu Sarah? Kenapa dengannya? Mommy tidak melakukan apa-apa 'kan, padanya?"
Nyonya Irish mendekati, sebelum berbicara ia kembali menghela napas. "Eric bilang jika Sarah membayar seseorang untuk membayar perawat palsu itu. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Sebelum Eric memberitahu pada Daddy–mu, lebih baik kau pergi temui Sarah dan putuskan hubungan kalian. Mommy akan memberimu kesempatan untuk menemui wanita itu agar kau bisa mengakhiri hubungan dengannya. Jika tidak? Kau sudah tahu konsekuensinya bukan?"
Josh mengepalkan tangannya, giginya gemeretakan, darahnya terasa mengalir lebih cepat dan naik ke ubun-ubunnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Sarah, kenapa bisa berbohong dan mengatakan tidak menyakiti Evelyn. Rencananya bisa hancur jika wanita itu terus ikut campur.
"Baik, Mom," sahut Josh dengan menunduk mencoba menahan amarahnya.
Setelah itu, Nyonya Irish keluar meninggalkan Josh yang terlihat mulai menggerutu kesal. Pria itu segera bangkit dan meraih kunci mobil yang ada di atas nakas.
Ia berjalan keluar dengan tergesa menuruni anak tangga. Melihat Eric yang tengah berdiri di ambang pintu itu, Josh segera memberi isyarat padanya untuk minggir.
"Anda akan menemui wanita itu, Tuan?" tanya Eric berusaha menghalau langkah kaki Josh.
Josh menoleh dengan tatapan tajamnya dan segera mendorong tubuh Eric. "Minggir! Kau sendiri kan yang mengadu pada Mommy tentang Sarah? Jadi aku harus segera ke sana sekarang!"
Tanpa menghalangi lagi sang tuan, Eric pun melepas Josh dan membiarkan pria itu masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
Josh mengendarai mobilnya menelusuri jalanan lengang. Sesekali ia memukul stir–nya dengan kesal, mengingat jika sang ayah tahu, mungkin dirinya akan kehilangan semua aset kekayaan sang ayah. Apalagi sudah lama ia menginginkan kelima kasino itu.
Dua puluh menit kemudian, Josh pun sampai di depan sebuah apartemen. Ia berjalan tergesa masuk dan naik ke lantai 20 tempat di mana Sarah tinggal.
Sesampai di depan kamar apartemen. Ia berulang kali menekan tombol bel karena teleponnya tak kunjung wanita itu angkat.
"Sayang?" Sarah terkejut saat membuka pintu dan mendapati kekasihnya tiba-tiba datang ke apartemen. Untung saja, ia telah sampai di sini sebelum pria itu mengunjunginya.
"Masuk!" sentak Josh merangsek masuk ke dalam dengan menarik tangan kekasihnya itu.
"Duduk!" titah Josh dengan mendorong tubuh Sarah hingga terduduk di tepi ranjang.
Sarah yang merasa bingung dengan sikap Josh pun segera bertanya, "ada apa, Sayang? Kenapa kau seperti ini?"
"Kau tanya ada apa, Sarah?! Kau kan yang membayar perawat palsu untuk mencelakakan Evelyn! Mengaku saja!" sergah Josh dengan tatapan tajam.
Manik mata Sarah membulat. Ia terkejut mendengarnya. Bagaimana Josh bisa tahu jika dirinya membayar seseorang dan seseorang itu adalah Ibu Evelyn sendiri?
"Tidak, Sayang. Aku sudah bilang kan tidak mungkin menyakiti Evelyn apalagi membahayakan posisimu," elak Sarah dengan memegang tangan Josh.
Josh segera menepis tangan Sarah. Kini telunjuknya sudah ia tempelkan di dahi wanita itu. "Kau seharusnya tidak usah ikut campur urusanku dengan Evelyn, Sarah! Karena bagaimana pun aku tidak mungkin membelamu dan kehilangan harta keluargaku! Aku harus bermain peran saat ini, tapi kau dengan sikap cerobohmu itu, malah menyuruh seseorang untuk membunuhnya!"
Josh mencengkeram dagu Sarah. Untuk pertama kalinya pria itu memperlakukan sang kekasih dengan kasar. "Aku tidak mau kehilangan hartaku demi, kau! Jadi kedatanganku ke sini adalah untuk memperingatimu!" tekannya.
Sarah menepis tangan Josh, ia meringis kesakitan karena dagunya terasa sakit akibat cengkeraman kuat tangan pria itu. "Kenapa kau terkesan membela wanita itu, Josh?! Bukankah kau sendiri setuju untuk menyingkirkannya saat meminta dia datang ke tempat berbahaya itu?!"
"Itu karena aku mengikuti rencana sialanmu! Rencana bodoh yang membuatku ada diposisi seperti ini! Kau tahu, bagaimana Daddy mengancamku?! Dia tidak akan memberikan 5 kasino miliknya! Begitupun dengan Dexter Corporation!" tegas Josh, ia mengacak rambutnya frustasi dan mencoba menahan amarahnya.
Sarah tidak mengerti, kenapa orang tua Josh sampai sepeduli itu pada Evelyn hingga bersedia mengorbankan anaknya dan memilih menelantarkan Josh jika tidak menuruti perintah mereka. "Kenapa orang tuamu membela wanita itu? Apa kau tidak curiga dengan identitas Evelyn? Kenapa kau tidak menemui orang tuanya saja!"
Josh menoleh dan menatap Sarah. Ia kembali berpikir, apa yang diucapkan Sarah ada benarnya juga. Ia harus mencaritahu tentang wanita itu dan kenapa orang tuanya sampai peduli dengan wanita miskin yang bahkan mereka rampas dari kedua orang tua Evelyn untuk melunasi hutang.
"Aku sudah tahu di mana rumah Evelyn," kata Sarah, berharap Josh akan setuju dengan rencananya nanti.
"Untuk apa kau mengetahui rumahnya? Apa kau mencoba untuk menggali informasi tentang wanita itu dari orang tuanya, huh?!"
"Aku hanya ingin hubungan kita bisa mendapat persetujuan orang tuamu, Josh! Aku ingin menyingkirkan wanita itu!"
Josh murka dan kembali mendekati Sarah. "Sudah aku katakan, kau tidak perlu ikut campur urusanku dengan Evelyn! Wanita itu biar aku yang mengurus! Dan satu lagi, kau jangan terlalu sering menghubungiku!"
Kening Sarah mengerut, tidak terima jika harus memutus komunikasi dengan kekasihnya. "Tidak! Aku akan terus menghubungimu, Josh! Aku tidak mau kau berpaling pada wanita itu."
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu!" Josh pun segera berjalan menuju pintu.
Melihat itu, Sarah tidak terima dan segera berlari memeluknya dari belakang. "Jangan pergi, Sayang. Maafkan aku, aku janji. Aku tidak akan menghubungimu sesering itu lagi," ucapnya.
"Lepaskan! Aku harus pergi!"
***
"Nona, bagaimana kondisi Anda? Apa sudah mendingan?"
Nina bertanya dengan membawa nampan ber–isikan bubur dan air putih untuk Evelyn yang masih belum boleh makan sembarangan. Ia segera menyimpan nampan itu di atas meja, dan dirinya mengambil posisi duduk di tepi ranjang.
"Jangan terlalu dipikirkan, Nona. Kehidupan orang kaya memang seperti ini, mereka sudah terbiasa berdebat. Yang harus Anda pikirkan adalah kembali pulih dan melakukan aktivitas seperti biasa," kata Nina dengan lembut dan tersenyum.
"Bagaimana dengan Tuan Josh, Nina? Apa dia masih mendapatkan hukuman dari Tuan Luise?"
Meskipun Josh memperlakukannya seperti seorang pembantu dan mengakibatkannya harus masuk rumah sakit. Tapi, Evelyn tidak tega saat melihat sorot mata putus asa Josh ketika pria itu dimarahi oleh sang ayah.
Nina menghela napas dan mengusap tangan Evelyn, lembut. Lalu menjawab, "Nona tenang saja. Tuan Josh sekarang sudah bekerja kembali di perusahaan, meskipun Tuan Luise tetap mengawasinya. Eric juga sekarang tidak lepas dari Tuan Josh, dia terus mengekor sesuai perintah Tuan Luise."
Mendengar itu, Evelyn tidak tahu harus merasa tenang atau gelisah. Karena mungkin pria itu akan semakin membencinya saat ini, apalagi Josh dipisahkan dari Sarah orang yang paling dicintainya.
Sejujurnya Evelyn merasa menyesal, kenapa dirinya harus pingsan saat itu. Kalau saja dirinya makan lebih dulu sebelum berangkat berjalan kaki ke daerah itu, tidak mungkin dirinya akan pingsan karena kedinginan.
"Kapan kita akan pulang ke rumah itu, Nina? Aku tidak enak terus berlama-lama di sini. Apalagi Tuan Josh, pasti dia sudah sangat suntuk karena diawasi terus di rumah ini."
Nina berusaha mencari jawaban untuk dirinya katakan. Tapi, ia mengingat ucapan Nyonya Irish jika nona mudanya ini akan sedikit lebih lama tinggal di sini karena khawatir dengan kejadian di rumah sakit itu.
"Saya tidak tahu, Nona. Nanti akan Saya tanyakan pada Nyonya Irish," jawab Nina sekenanya.
"Bantu aku bangun, Nina," ucap Evelyn.
Terus merebahkan diri di atas kasur rasanya sangat pegal. Jadi, ia ingin berjalan-jalan meski hanya berkeliling di rumah ini atau di halaman belakangnya.
Nina pun segera membantu Evelyn untuk berdiri. Ia mulai menuntunnya dan keluar dari kamar. Perlahan, mereka berdua menuruni anak tangga dan sampai di lantai satu.
"Mau ke mana, Nona?" tanya Nina memastikan.
"Sepertinya menghirup udara segar di taman belakang lebih baik. Antar aku ke sana, Nina," jawabnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Novianti Ratnasari
Evelyn harus tegas am Joush. atw ga buat kesepakatan buat pisah di waktu yg di tentukan.
2023-01-29
0
Lily
baik dan bodoh itu bedanya hanya setipis kulit bawang. begitulah Evelyn. baik atau bodoh entahlah... manusia pun punya ketegasan. setiap perbuatan ada konsekuensi yang di dapat. begitu pula Josh dan sarah, mereka harus di hukum sesuai perbuatannya
2023-01-29
0