Mendengar menantunya kejang-kejang dan hampir terenggut nyawanya. Tuan Luise dan Nyonya Irish pun segera kembali ke rumah sakit begitupun dengan Josh.
Sesampainya di sana, Tuan Luise segera bertanya pada Eric, "apa yang terjadi Eric?"
"Saat saya masuk ke dalam kamar ini, saya sudah melihat Nina pingsan di sofa dan Nona Evelyn tengah kejang-kejang, Tuan. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Tuan Luise yang merasa penasaran karena Eric menggantung kalimatnya.
"Tapi, sebelumnya saya berpapasan dengan seorang perawat yang terlihat mencurigakan. Saya sudah memeriksa cctv dan benar ada yang masuk ke kamar ini tapi tidak bisa memastikan dia perawat asli atau palsu," jelas Eric.
Mendengar itu tentu Tuan Luise geram. Ia segera menghampiri dokter yang tengah memeriksa Evelyn. "Aku ingin bertemu dengan direktur rumah sakit ini! Menantuku hampir kehilangan nyawa karena perawat gadungan itu, apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian terlihat diam saja?!"
"Maaf, Tuan Luise. Saya sudah melaporkan peristiwa ini pada direktur rumah sakit. Tapi, mohon tunggu 24 jam karena kami tengah memeriksa semua perawat dan menyelidiki pelaku," jelas dokter wanita itu yang terlihat ketakutan itu.
Tuan Luise menghela napas dan kembali menghampiri anak buahnya, Markus. "Cari siapapun itu, dan bawa ke hadapanku hidup-hidup!" perintahnya dengan penuh penekanan, hingga beberapa perawat dan dokter yang ada di sana merasa ngeri.
Dua hari kemudian, setelah Evelyn sadar dan sudah sedikit pulih. Kedua orang tua Josh membawanya menuju rumah mereka sementara. Karena Nyonya Irish masih tidak percaya dengan Josh dan takut anaknya melukai Evelyn kembali.
Sesampainya di rumah. Evelyn segera dibawa ke lantai dua menuju kamar yang dulu pernah ia tempati sebelum menikah. Sedangkan Josh ia mencoba menenangkan diri dan duduk di balkon sendirian.
Ponselnya berdering, ia pun segera merogoh benda pipih berwarna silver itu dari sakunya. Ia sudah menduga jika Sarah akan menghubunginya meski sudah Josh larang untuk sementara waktu. Pria yang tengah memakai setelan casual itu menghela napas sebelum akhirnya mengangkat telepon.
"Apa Sarah? Sudah kubilang kau jangan menghubungi dulu sementara waktu, karena aku masih dalam pengawasan orang tuaku," bisik Josh sepelan mungkin dengan kepalanya yang celingukan melihat sekitar.
"Aku kangen! Kenapa kau tidak menghubungi? Aku tidak bisa begini terus!" rajuk Sarah dengan nada lembut khas–nya saat merajuk pada Josh.
"Diam lah, Sarah! Dengarkan saja aku, jangan seperti ini terus. Bagaimana jika kita ketahuan? Apa kau siap hidup miskin denganku?!"
Mendengar itu, suara di sebrang sana terdengar hening. Sarah terdiam, ia tidak mungkin hidup miskin dengan Josh karena tujuan utamanya memang ingin menikah dengan pria kaya. Jadi, pilihannya adalah tetap diam dan mengikuti apa kata Josh.
"Baiklah, aku akan mencoba menahan rasa rindu ini," lirihnya.
Setelah itu Josh pun menutup panggilannya tanpa berbicara lagi. Ia segera memasukan ponselnya ke dalam saku dan kembali menatap pemandangan rumah yang terlihat indah di tepi laut.
"Sepertinya aku harus membeli rumah di sana. Ah, bagus juga jika membicarakannya dengan Daddy nanti," gumamnya.
Tidak lama kemudian, Eric menghampiri Josh dan membungkuk memberi salam. Meski saat ini Josh masih merasa kesal pada asistennya, tapi Josh tidak bisa melakukan apa-apa karena sang ayah.
Josh mengangkat sebelah alisnya dengan menatap Eric yang masih menunduk. "Kenapa kau menghampiriku? Bukankah kau lebih baik di samping Daddy dan terus mengekor padanya!" dengus Josh, kesal.
"Maaf Tuan, tapi kemarin Saya memang didesak dan harus mengakui apa yang terjadi," sahut Eric dengan masih dalam keadaan menundukkan kepala.
"Tapi kau bisa berbohong, Eric! Bukannya mengadu, apalagi tentang Sarah! Lihat sekarang, statusku saja belum diketahui menjabat apa di Dexter Corporation setelah Daddy mengancamku!"
Eric menghela napas dan kembali berbicara, "saat ini Anda masih dalam pengawasan Tuan Luise. Jadi, Saya mengharapkan Anda untuk tidak sering berhubungan dengan kekasih Anda."
"Berisik! Kau itu bawahanku! Asistenku, yang hanya mengurus bisnisku bukan malah ikut campur urusan pribadiku!" sentak Josh yang segera berdiri dari duduknya. Ia menatap tajam Eric dan kembali menekankan, "ingat ini, Eric! Jika kau menyentuh Sarah, maka kau akan berhadapan langsung denganku!"
Eric hanya menunduk tanpa menghiraukan ucapan tuan mudanya itu. Ia menegakkan tubuhnya setelah Josh berjalan menelusuri lorong dan berbelok ke sebuah kamar.
Josh masuk ke dalam kamarnya yang berbeda dengan kamar Evelyn. Ia merebahkan tubuhnya dengan menatap langit-langit kamar. Ponsel yang ada di sakunya kembali berdering.
Ia sudah tahu jika itu Sarah, dan mencoba tidak mengangkatnya lagi. Hingga beberapa jam kemudian, ponselnya tetap berdering meski pria itu bersikukuh tetap tidak mengangkatnya.
"Sialan! Kenapa dia menyebalkan sekali setiap menit menelpon. Entah sudah berapa ratus kali dia menghubungi, apa dia tidak mendengarkan ucapanku?!" gerutu Josh dengan segera mematikan ponselnya. "Seharusnya sedari tadi aku matikan saja," sambungnya.
Sedangkan di tempat lain, Sarah tengah berada di rumah orang tua Evelyn lagi. Setelah Maria gagal melakukan rencananya, Sarah memarahi wanita paruh baya itu dan mengancam tidak akan membayarnya lagi.
Maria tentu kesal karena hanya mendapatkan 5000 dolar, karena usahanya untuk masuk ke dalam ruangan VIP itu susah. Ia tidak terima dan menuntut sisanya. "Ayolah, Sarah! Kau harus membayarku karena aku sudah susah payah masuk ke rumah sakit itu!"
"Kau meminta bayaran? Ckh! Rencanaku gagal karena kau terlambat memberikan cairan itu hingga Eric datang lebih cepat!"
"Aku akan melakukannya sekali lagi, dan kali ini pasti akan berhasil!" tekan Maria berusaha meyakinkan Sarah.
"Bagaimana kau bisa melakukannya? Apa kau bisa masuk ke rumah keluarga Dexter yang ketat dan penuh penjagaan itu? Bisa-bisa kau yang jadi sasaran empuk!" jelas Sarah dengan mendengus kesal. Ia harus bisa memutar otak dan memikirkan bagaimana caranya untuk kembali menyingkirkan Evelyn.
Lalu, Sarah pun segera beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan wanita itu tanpa berpamitan.
Setelah masuk ke dalam mobil dan sebelum menghidupkannya, Sarah berusaha menghubungi Josh tapi nomornya tidak aktif.
Hingga dirinya sampai di apartemen pun nomor Josh masih belum juga aktif. Sarah frustasi dan merasa dirinya akan kehilangan Josh, ia kembali meraih barang-barang dan membanting kan sesuka hatinya.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering dan terlihat di layar ponselnya tertera sebuah nama "Baby".
"Halo, sayang. Kenapa kau tidak mengaktifkan ponsel? Aku hampir kehilangan akal karena takut kehilanganmu, Josh!" racau Sarah yang segera duduk di tepi ranjang.
"Sudah aku katakan jangan menghubungiku lebih dulu! Kenapa kau meneleponku hampir setiap menit? Apa kau mau aku ketahuan dan membuatku lebih cepat di depak dari perusahaan? Kau benar-benar sudah siap hidup miskin denganku?!"
Sarah mengulum bibirnya dengan memejamkan mata. Ya, dia merasa bersalah karena telah menelepon Josh sesering tadi, karena merasa khawatir dengan pria itu. Bagaimana jika Josh berubah pikiran atau mulai melirik Evelyn? Bagaimana jika Josh meninggalkannya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang Sarah pikirkan.
"Maaf, Sayang. Tapi, aku sangat mengkhawatirkan hubungan kita. Aku takut kau berpaling pada wanita itu," ucap Sarah.
"Sudahlah, kau tidak perlu ikut campur dengan urusan wanita itu. Apalagi dua hari lalu dia hampir mati karena seseorang menyuntikan sesuatu pada infusan–nya. Daddy tengah berusaha mencari pelakunya, dan aku harap kau tidak ada hubungannya dengan itu semua. Iya kan Sarah?"
Sarah terdiam, ia tidak bergeming. Apa yang diucapkan Josh membuatnya sedikit gelisah, apalagi mendengar Tuan Luise tengah mencari pelaku perawat gadungan itu.
"Sarah? Apa kau masih di sana?" tanya Josh kembali memastikan kekasih masih ada di ujung telepon atau tidak karena tidak ada jawaban.
"Sarah!"
"Ah, iya. Kenapa?" tanya Sarah gelagapan.
"Kau kenapa? Aku bertanya barusan, apa kau tidak ada hubungannya dengan kejadian di rumah sakit itu? Apa kau benar-benar tidak ada hubungannya dengan kejadian Evelyn yang hampir mati?"
Sarah menelan paksa saliva–nya, ia pun segera menjawab meski dengan keadaan gugup, "tidak, Sayang! Mana mungkin aku tega melakukan itu pada Evelyn, apalagi bisa membuatmu semakin kesulitan karena orang tuamu. Aku tidak tahu sama sekali tentang kejadian itu. Karena dua hari lalu, aku sedang syuting iklan."
"Syukurlah. Aku tidak akan mencurigai–mu, lagi," ucap Josh.
"Josh!"
Manik mata Josh membulat kala seseorang memanggil namanya dari ambang pintu. Ia segera menutup panggilannya dengan Sarah dan menyembunyikan ponsel itu ke bawah bantal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Santai Dyah
hadir thor lnjut
2023-01-31
0
Novianti Ratnasari
udah biarkan Josh am Sarah trus jangan di kasih harta.biar tau rasa.
2023-01-28
0
Allan
masa udah habis,
2023-01-28
0