Tak terasa sudah satu Minggu berlalu, dan kini saatnya Hendy kembali ke Depok lagi. Ia pun lekas berpamitan pada orang tua Ana dan juga saudara Ana yang rumahnya di samping rumah Ana.
Selepas itu, seperti biasa ia dia antar oleh ayah Ana ke terminal bus.
"Hendy, sepertinya baru kemarin kamu pulang ya? kok tahu-tahu sudah kembali ke Depok lagi. Sebenarnya ayah sangat kehilangan setiap kamu kembali ke Depok. Sayangnya, di sini nggak ada pekerjaan untukmu ya."
Ayah Ana mengajak ngobrol Hendy selama perjalanan menuju ke terminal bus.
"Iya juga sih, ayah. Aku juga kepinginnya seperti itu, jadi nggak pisahan hidupnya dengan istri dan anak. Tetapi mau bagaimana lagi, Ayah. Aku juga sudah beberapa kali usaha mencari pekerjaan di Jawa waktu itu, tidak ada satupun yang mau menerimaku untuk bekerja. Hingga pada akhirnya aku harus bekerja di Depok. Mungkin rezekinya aku di kota lain, ayah. Ayah nggak perlu khawatir, yang penting aku tiap bulan pulang dan setiap Minggu juga transfer untuk kebutuhan Ana dan Fani," ucap Hendy.
"Ya, Hen. Ayah percaya kok sama kamu. Ayah yakin sekali kamu itu lelaki yang baik dan suami yang bertanggung jawab. Nggak perlu kamu katakan apa pun, ayah sudah tahu." Ucap Ayah Ana seraya mengemudikan motornya.
Sembari terus bercengkrama hingga membuat perjalanan ke terminal bus tak terasa. Mereka kini telah sampai di tempat pembelian tiket bus.
"Hendy, kamu sekalian beli tiket langsung pulang atau mau ke rumah dulu?" tanya Ayahnya Ana.
"Aku langsung pulang saja, ayah. Karena tunggu bus hanya tiga puluh menit," ucapnya seraya tersenyum kepada syeh mertuanya.
"Ya sudah, tapi ayah nggak bisa menemani. Maaf ya, karena ada pekerjaan di rumah yang harus di selesaikan. Nggak apa-apa kan, kalau ayah pulang sekarang juga?"
Hendy tersenyum pada syeh mertuanya," ya nggak apa kok ayah. Ayah hati-hati di jalan ya. Maaf aku merepotkan ayah yang harus antar ke terminal seperti ini "
"Ya Hen, terima kasih. Kamu juga yang hati-hati di jalan dan juga jika sudah sampai jangan lupa kirim kabar. Dan yan penting selalu jaga kesehatan ya,' pesan ayah mertuanya.
Setelah cukup lama ayah mertua dan menantu sejenak bercengkrama. Akhirnya saat itu juga ayah mertua pergi dari terminal bus. Ia pun segera kembali ke rumah karena kebetulan di rumah sedang ada pekerjaan yakni ada sebuah pesanan untuk membuat patung harimau.
[Bun, jaga anak kita baik-baik ya. Maaf jika ayah belum bisa buat bahagia bunda dan juga Fani.]
Hendy mengirim chat pesan pada nomor ponsel milik Ana. Dan Ana pun lekas membuka satu notifikasi chat pesan yang telah di kirim oleh Hendy.
Drt drt drt drt
Ana membacanya dan lekas membalasnya.
[Ya ayah, hati-hati ya.]
Singkat padat dan jelas, balasan chat pesan dari Ana untuk Hendy. Setelah itu Ana sama sekali tak mengirimkan pesan lagi. Karena menurut dirinya itu tidaklah penting.
Dia asik dengan melanjutkan menulis seribu kata untuk lanjutan dari novelnya.
"Kenapa ya, sejak istriku bisa mendapatkan uang sendiri. Sikapnya ke aku KK dingin banget. Nggak kaya waktu dulu, sering bercanda ria padaku. Dan juga sekarang waktunya seldku habis hanya untuk mengerjakan novel-novel dia saja."
"Sekarang juga Ana nggak pernah bercerita tentang gaji dari hasil menulis dia. Nggak seperti awal baru menulis, ia selalu saja mengatakan padaku tentang gaji dan lain sebagainya."
'Kadang aku penasaran juga, tetapi jika aku bertanya yang ada Ana malah marah padaku."
Terus saja Hendy melamun memikirkan Ana sembari menunggu bus yang akan xi tumpanginya datang. Ia sama sekali tidak mengoreksi dirinya sendiri. Tetapi malah mencari kesalahan istrinya.
Ia terus saja menggerutu di dalam hatinya, karena rasa penasaran dengan gaji menulis yang di hasilkan oleh Ana.
Beberapa menit kemudian..
Bus yang. ditunggu telah datang, Hendy lekas masuk dan mengambil tempat duduk sesuai dengan nomor urut yang ada di karcis yang telah ia beli.
Selama berada di dalam bus, Hendy memejamkan matanya. Sekejap saja ia sudah tertidur pulas di dalam bus. Lain halnya dengan Ana yang masih aktif dengan hayalannya untuk salah satu novel karyanya.
Setiap ia membuat salah satu novel, ia selalu merasa dirinya adalah tokoh utama di dalam novel tersebut..Hingga ia benar-benar meresali dan fokus dalam menulis.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya, kini sudah jam tujuh malam. Hendy memberikan kabar pada Ana jika dirinya saat ini sedang berada di pemberhentian bus. Dan sejenak ia sedang makan di sebuah tempat makan di terminal tersebut.
Ana juga hanya menanggapi dengan imotikon tanda ibu jari saja. Lagi-lagi ia tak mengatakan apa pun di dalam membalas chat pesan dari Hendy. Karena menurutnya tidak penting.Yang ada ujung-ujungnya ribut permasalahan uang.
****
Dini hari jam dua pagi di saat Ana Edang fokus nulis. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
[Bun, aku sudah sampai di tempat kontrakan. Aku ngantuk banget, mau tidur ya?"
[Ya syukurlah, ya sudah jika begitu sekarang istirahat saja. Tidurlah , ayah.. Jangan lupa selalu jaga kesehatan dan jaga dirimu baik-baik di rantau.]
Drt drt drt drt
Saru notifikasi chat pesan dari Ana masuk ke dalam nomor ponsel Hendy. Dan ia langsung membacanya saat itu juga. Lalu ia benar-benar tidur nyenyak di dalam rumah kontrakannya.
Hingga menjelang pukul enam tiga puluh menit atau jam setengah tujuh pagi. Hendy bangun dan lekas membeli sarapan. Karena ia akan langsung berangkat kerja.
Hendy berangkat ke pabrik jam delapan pagi, dimana pabrik tersebut begitu dekatnya dengan rumah kontrakannya. Dia memang rajin dalam bekerja tetapi ia terlalu pelit dengan istrinya sendiri.
Padahal dulu pada saat masih berpacaran dengan Ana, Hendy begitu baik, loyal dan selalu memberikan apa yang Ana butuhkan tanpa harus Ana memintanya.
Hendy sama sekali tidak perhitungan dengan Ana, tetapi setelah mereka menikah lambat laun terlihatlah watak asli dari Hendy.
Namun Ana selalu saja menahan rasa kecewanya, rasa kekesalannya di dalam hatinya. Ia tak pernah berkeluh kesah ataupun mengadu kepada orang tuanya. Karena itu akan membuat orang tuanya menjadi terbebani oleh permasalahan yang dialami oleh, Ana.
Permasalahan yang dialami oleh, Ana. Tentang sifat Hendy yang sekarang berubah menjadi sangat perhitungan hanya Ana saja yang mengetahuinya. Tidak ada satu orang pun yang tahu akan keburukan dari suaminya tersebut.
Dia benar-benar bisa menutup rapat-rapat aib suaminya tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments