Datangnya Masa Lalu

Sebenarnya Ika masih belum percaya dengan apa yang di katakan oleh Ana.. Tetapi ia juga tak ingin terus membujuk Ana untuk berkata jujur padanya.

"Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mbak Ana tetapi ia tak ingin orang lain mengetahuinya padahal aku berniat ingin membantunya saja tak mungkinlah aku mengatakan semua yang dikatakan oleh Mbak Ana kepada orang lain," batin Ika.

Ika menepis rasa kecewa karena tak bisa memberikan penghiburan pada, kakak iparnya. Ia pun mengajak Ana pulang. Karena tak ingin terjadi hal buruk lagi padanya.

Selama dalam perjalanan pulang, tidak ada satu kata pun yang di lontarkan oleh Ana, tidak seperti biasanya. Ana yang suka bicara dan banyak bercanda kini tiba-tiba diam saja.

Hingga sampai di rumah pun, ia hanya tersenyum kecut seraya mengucapkan terima kasih pada, Ika. Tanpa ia lupa terlebih dahulu mengingatkan Ika supaya tidak mengatakan pada anggota keluarga jika tadi di alun-alun, dirinya sempat sesak napas.

******

Esok harinya, Ana berusaha untuk bersikap ceria tanpa ada rasa sedih lagi. Karena ia tak ingin orang tuanya curiga. Selagi asik menulis seraya rebahan dan menemani Fani bermain di kamar. Tiba-tiba ayahnya bertanya," An, kamu selalu komunikasi kan dengan suamimu?"

"Iya ayah, memangnya kenapa?" tanya Ana heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh ayahnya.

"Nggak apa-apa sih, Ayah hanya ingin tahu saja. Syukurlah kalau kalian selalu berkomunikasi. Sebenarnya ada rasa kurang suka jika kalian hidup terpisah, kamu di sini sedangkan suamimu ada di rantau. Coba saja di kampung ini ada kerjaan untuk suamimu, kan Ayah lebih tenang pikirannya, tidak berpikiran yang macam-macam," ucapnya seraya menghela napas panjang.

"Ya mau bagaimana lagi, ayah. Dulu saja kan sudah pernah di sini, berusaha mencari pekerjaan. Aku temani ke sana kemarin tetapi, tidak ada satupun yang mau menerimanya. Mungkin sudah menjadi rezeki dapatnya di rantau ya mau tidak mau harus dijalani dan ditekuni," ucap Ana.

"Apa kamu tidak berniat untuk ikut merantau lagi dengan suamimu? kamu sudah berada di kampung begitu lamanya, apakah suamimu tidak merasa tersinggung atau marah?" tanya sang ayah menyelidik.

"Nggak sih ayah, justru dia yang memintaku untuk berada di sini dulu. Sebelum ia menemukan kontrakan yang lebih luas. Karena kontrakan yang sekarang cuma satu petak saja," ucap Ana.

"Oh begitu, ya sudah. Kamu jangan tersinggung dengan perkataan ayah ya? bukannya ayah tak suka kamu tinggal di sini, hanya saja alangkah baiknya jika suami istri itu tinggal satu atap. Karena rawan dengan permasalahan jika kalian hidup terpisah. Tetapi jika memang alasannya seperti itu ya sudah nggak apa-apa. Ayah malah suka jika Fani terus tinggal di sini, jadi ayah nggak kesepian karena ada anak kecil. Dan juga bisa buat hiburan," ucap sang ayah panjang lebar.

Ana hanya tersenyum kecil, ia pun tak mengatakan apa-apa lagi. Ayahnya juga lekas keluar dari depan pintu kamar, Ana.

Ana merasa lelah, dan ia pun sejenak menghentikan aktifitasnya menulis. Ia iseng sejenak membuka akun sosial medianya. Ada satu inbox, dan ia pun membukanya yang ternyata dari Hendy.

[Bun, kuota aku habis jadi nggak bisa chat wattshap atau video call. Ini pun hanya data gratisan aja.]

Ana hanya membacanya saja, ia sama sekali tidak membalas inbox tersebut. Justru ia menon aktifkan kembali akun Facebooknya.

"Hem, ada saja alasannya. Tapi biarlah, aku nggak mau pusing memikirkan yang sepele seperti itu. Terserah mau sampai kapan whatsapp-nya tidak aktif. Aku mau fokus saja dengan merawat anakku dan mencari uang dari hasil menulis. Semoga saja memberiku banyak ide, supaya aku selalu bisa memberikan yang terbaik untuk Fani."

Ana kembali melanjutkan menulis novel. Ia selalu berusaha mengesampingkan segala permasalahan di dalam rumah tangganya supaya bisa memberikan suatu tulisan yang indah.

Ia selalu semangat dan semangat demi impiannya untuk bisa membahagiakan Fani, dan bisa menyekolahkannya setinggi-tingginya. wyalaupun rutinitasnya menjadi seorang ibu rumah tangga juga padat tetapi ia tetap bisa sesekali menyempatkan waktunya untuk menulis novel.

Ana pintar mengatur waktunya, bahkan ia rela setiap hari di tengah malam di mana orang lain nyenyak dalam tidurnya dan sedang bermimpi, tapi tidak dengan Ana ia justru di tengah malam bangun untuk menulis karya-karyanya.

Semua itu ia lakukan karena suaminya tidak bisa diandalkan hingga ia harus bersusah payah mencari yg di katakan oleh Bima sakti yang telah terjadi pada arti rezeki dengan jalan menulis di dua aplikasi berbayar. Karena hanya itu yang ia bisa saat ini. Fani masih kecil, ia tak tega jika meninggalkan anaknya untuk bekerja.

Masalah yang satu belum selesai, datang lagi masalah yang baru. Tiba-tiba datang mantan mertuanya bersama dengan anak sulung Ana dari suami pertamanya yang kini sudah dewasa berumur dua puluh tahun.

"Ada apa datang kemari?" tanya Ana ketus.

"Ana, anakmu ini sedang butuh uang untuk masuk kuliahnya .Dan jika ketahuan uang di pakai untuk kebutuhan sendiri. Aku akan memberikan sanksi yang memberatkannya," ucap sang mantan mertua.

"Uang? katanya kalia tidak perlu uangku, dan setiap aku ingin bertemu dengan anakku, kalian selalu menghalangi. Kini kamu datang untuk meminta uang? sama saja sudah meludah di jilat lagi," ucap Ana kes ingat pada saat si anak sulung tersebut baru beberapa tahun, ia di larang untuk bertemu dan segala yang ia berikan juga tak di terima.

Sejenak mantan ayah mertua, hanya diam saja. Ia tak bisa berkata lagi, karena memang dirinya yang telah berbuat seperti itu.

"Yunuz, kamu ingin sudah bukan anak kecil lagi. Seharusnya kamu sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan seharusnya kamu bisa datang kesini sendiri bukan? tak perlu kamu mengajaknya," ucak Ana meliri sinis pada mantan ayah mertuanya.

Yunuz tertunduk," maaf ya Bu."

"Baiklah, ingat baik-baik pesan dari ibu ya? dan ibu juga tidak akan memberikan uang padamu jika ternyata hanya untuk hal yang tidak benar atau kamu berbohong pada, ibu," ucap Ana.

Yunus masih saja menunduk seraya menganggukkan kepalanya pada saat mendengar teguran dari Ana. Ia memang sudah dewasa, tetapi ia penurut dan penakut. Ia tidak punya prinsip sendiri.

Padahal Ana benar-benar tulus ikhlas sayang padanya. Apalagi ia sudah lama baru bisa bertemu dengan anak kandungnya, tetapi kali ini kesannya hanya di manfaatkan uangnya saja.

Ini terlihat jelas dari sikap mantan ayah mertua yang selalu mengajak pulang Yunus, jika sudah mendapatkan uang. Dan tidak membiarkan Yunus hanya berdua dengan Ana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!