Selama ini, Ana memang selalu saja menjaga perasaan kedua orang tuanya. Ia mengalah, lebih baik perasaan dirinya yang kalah. Ia tak ingin jika orang tuanya tahu tentang kehidupan rumah tangganya bersama dengan Hendy tidak seindah yang mereka pikirkan selama ini, pasti akan merasa sedih.
Hampir setiap hari, ayahnya terus saja memuni Hendy. Selama Hendy beberapa hari berada di rumah. Selama itu juga, Ana hanya tersenyum kecut jika mendengar kata-kata pujian dari ayahnya untuk suaminya.
"Bagaimana ya, reaksi ayah dan ibu jika tahu bahwa menantu mereka tidak sebaik yang mereka pikir selama ini? aku sana sekali tak bisa membayangkan akan yang terjadi. Karena aku tahu jika syeh telah benci dengan seseorang, ia akan selamanya benci dan tak bisa bersikap baik lagi pada orang yang telah ia benci."
"Bagaimana pun, Mas Hendy adakah ayah dari Fani. Aku juga nggak mau orang tuaku berubah membenci dirinya. Biar saja rasa kecewa ini aku simpan sendiri di dalam hatiku."
"Karena aku tak ingin merusak kepercayaan orang tuaku pada Mas Hendy. Yang aku harapkan selama ini hanyalah suatu saat nanti Mas Hendy berubah."
"Supaya tidak masa bodoh lagi pada istri dan anaknya. Aku sangat yakin Yang Kuasa akan buat suatu keajaiban. Walaupun aku sendiri tak tahu mau sampai kapan suamiku bersikap seperti ini."
"Satu pintaku pada Yang Maha Kuasa, supaya aku ini selalu diberikan kesehatan dan umur panjang. Dan di berikan ide-ide cerita yang bagus hingga aku tetap tes bisa berkarya selamanya supaya aku bisa menopang kebutuhan ekonomi keluargaku dan membantu ekonomi Mamah."
"Semoga Yang Maha Kuasa juga selalu memberikan kesehatan dan panjang umur untuk Fani. Karena hanya Fani yang membuat hidupku berarti dan lebih berwarna."
Terus saja Ana berdoa di dalam hatinya, untuk menguatkan dirinya sendiri. Karena siapa lagi yang mampu memberikan support jikabuksn diri sendiri. Karena cerita ke orang lain pun belum tentu akan mendapatkan saran yang positif. Padto semua orang menyudutkan dengan memberikan saran sebuah perceraian atau perpisahan.
Di waktu santai, Ana penasaran dengan gaji suami yang katanya sudah naik. Hingga ia pun bertanya pada suaminya.
"Ayah, katamu gaji sudah naik? dulu kan cuma delapan puluh ribu. Lantas sekarang berapa?" tanya.Ana menyelidik.
"Sekarang perharinya seratus lima ribu rupiah. Dan kirim barang seratus ribu, total gaji satu Minggu tujuh ratus tiga puluh ribu. Memang kenapa, Bun? tumben tanya sial gaji?" tanya Hendy memicingkan alisnya.
"Memangnya aku salah ya, ingin tahu gaji suami? jika seminggu tujuh ratus Tyga puluh ribu, satu bulan sudah jelas dua juta sembulsn ratus dua puluh ribu. Lantas kenapa yang di kirimkan ke aku nggak ada separuhnya sama sekali?" sindir Ana.
Ana paling pintar jika berhitung, sudah jelas tiga ratus ribu di kali empat totalnya menjadi satu juta dua ratus. Jika uang dua juta sembilan ratus dua puluh di kurangi uang satu juta dua ratus. Sisa gaji masih banyak satu juta tujuh ratus dua puluh ribu.
Uang sebesar satu juta tujuh ratus dua puluh ribu jika di ambil untuk kontrakan dua ratus lima puluh ribu, sisa juga masih banyak. Tinggal satu juta lima ratus dua puluh ribu.
"Ayah, berarti tabunganmu banyak kan? masa iya kamu nggak punya tabungan sama sekali? dulu saja waktu gaji kamu cuma delapan puluh ribu per harinya, kamu bisa menyisihkan uang yang kamu sembunyikan di dalam panci bocor," ucap Ana mulai menyelidik.
"Tabungan apa sih, Bun? aku sama sekali nggak ada tabungan. Semua habis untuk makan dan buat kirim kamu setiap minggunya," elak Hendy.
Ana sudah mengira, jika suaminya itu tak akan berkata jujur padanya. Padahal Ana tidak akan meminta hanya ingin tahu saja kejujuran suaminya. Tetapi ia malah gigit jari karena suaminya masih saja tak bisa berkata jujur.
"Sudah aku duga, jika suamiku nggak akan berkata jujur padaku. Padahal dari awal aku mendapatkan gaji dari menulis, aku selalu jujur dengan gaji. Makanya sekarang aku tak pernah lagi bercerita berapa gaji aku. Karena ini yang menyebabkan dia pelit dan mengandalkan aku," batin Ana menahan rasa kekesalannya.
"Bun, kenapa kamu diam saja setelah mengetahui berapa gaji aku yang sekarang? aku tidak pernah berbohong padamu, gajiku dikirimkan kepadamu dan sisanya buat makan aku di Depok serta buat bayar kontrakan. Aku sama sekali tidak memiliki tabungan, kamu masih juga tidak percaya padaku?" ucap Hendy mengagetkan lamunan Ana.
"Jelasnya yang tahu kamu berbohong atau tidaknya itu hanya dirimu dan Yang Maha Kuasa saja. Sejujurnya aku memang tidak percaya dengan apa yang kamu katakan padaku, karena pada saat gaji kamu delapan puluh ribu saja kamu masih bisa menyisihkan secara diam-diam."
"Apalagi gaji kamu sekarang ini sudah naik. Tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi. Walaupun aku ngomong panjang lebar kamu pasti akan tetap mengatakan hal yang serupa."
"Hanya yang Kuasa saja yang tahu dirimu berbohong padaku atau tidak. Jika iya terbukti berbohong pasti suatu saat nanti kebohonganmu juga akan terbongkar lagi seperti pada saat kamu menyimpan uang di dalam panci bocor tiba-tiba uang itu jatuh di kepalaku."
Hendy masih bisa mengelak," uang itu kan buat peganganku, simpanan jika tiba-tiba aku sakit."
Setelah beralasan seperti itu, Hendy berlalu pergi dari kamar. Ia lebih memilih melangkah keluar rumah dan bermain ke rumah paman Ana yang kebetulan rumahnya di samping rumah Ana.
Hidup rumah tangga jika salah satu selalu berbohong dan tidak pernah bisa mengaku dengan jujur itu tidak akan pernah membuat pasangannya akan kembali percaya kepadanya. Seperti halnya Ana yang pernah dibohongi oleh Hendy pada saat mereka sama-sama hidup merantau di Depok. Di mana Hendy selalu mengatakan tidak memiliki uang, pada saat Ana kehabisan uang.
Tetapi tanpa sengaja Ana menemuksn simpanan uang milik Hendy yang jumlahnya tidaklah sedikit. Ana menemukan uang yang jatuh tepat di atas kepalanya.
Uang lembaran ratusan ribu yang di ikat dengan karet. Karena rasa penasaran Ana menghitung uang tersebut jumlahnya ada dua juta rupiah.
Sejak saat itu, Ana tak percaya dengan kata-kata suaminya lagi. Dibdepan banyak orang, memsng rumah tangga Ana terlihat baik-baik saja. Karena Ana memang pintar merahasiakan permasalahan yang sedang di hadapi olehnya.
Ana sampai sekarang masih penasaran untuk apa uang Hendy. Jika memang gaji naik tetapi transfer cuma tiga ratus ribu rupiah. Dan ia tidak punya tabungan sama sekali. Kerap kali Ana merasa curiga apakah Hendy punya wanita idaman lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments