Sejak saat itu, suami malah mengandalkan istrinya. Tetapi jika ada seorang teman yang datang bermain, pasti suami mengajak makan enak dan lain sebagainya. Sendiri tidak merokok, tetapi rela membelikan rokok untuk temannya.
Istri merasa kesal sekali, ia pun memutuskan untuk menegurnya lagi," ayah, bunda nggak suka jika ayah loyal terhadap teman-teman ayah. Bisa di hitung, jika empat orang yang datang lantas ayah belikan makanan enak dan masing-masing rokok satu bungkus. Habislah, gaji ayah satu Minggu."
"Bun, ini kan nggak setiap hari. Mereka teman baik ayah dari saat masih duduk di bangku SLTP. Apa salahnya berbagi sih, kamu nggak usah perhitungan seperti itu! toh aku pakai uangku sendiri, bukan uangmu. Mentang-mentang kamu sudah pintar cari yang sendiri, jadi sombong dan berani pada suami!" bentak sang suami.
Istri menarik napas panjang, ia berusaha menjelaskan pada suaminya jika ingin berbagi itu lihat situasi dan kondisi. Apa lagi selama ini jika untuk kebutuhan sehari-hari pelit, tetapi untuk kebutuhan teman-temannya gampang sekali.
Tetap saja suami tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh istrinya. Ia terus saja masa bodoh dengan segala kebutuhan rumah tangganya. Kini ia bekerja, uangnya sama sekali tidak diberikan pada istrinya. Tetapi untuk kesenangan sendiri.
Hingga pada suatu hari, dari kampung memberi kabar, jika anda salah satu saudara dekat akan hajatan. Dan meminta sang istri untuk pulang. Mau tidak mau, suami mengizinkan bahkan dia juga ikut pulang ke kampung istri.
Istri sangat menjaga nama baik suaminya, ia tak pernah mengatakan hal buruk pada orang tuanya tentang apa yang di lakukan oleh suaminya selama ada di rantau terhadapnya. Bahkan ia mengatakan jika hidupnya selalu bahagia, walaupun sebenarnya jauh dari kata bahagia.
Beberapa hari setelah acara hajatan selesai, istri enggan pulang ke rantau lagi. Apa lagi orang tuanya juga masih sangat rindu dengan cucu.
Dimana pada saat pergi dari kampung masih sangat kecil yakni baru berusia empat bulan. Kini cucu sudah berumur dua tahun.
Hingga terpaksa, suami pulang ke rantau seorang diri. Kini mereka jalani hubungan long distance, atau hubungan jarak jauh. Suami berjanji di hadapan kedua mertuanya, bahwa ia akan kirim uang setiap minggunya untuk keperluan istri dan anaknya.
Selepas kepergian suaminya kembali ke kota Depok. Ayahnya selalu saja memuji sang menantu.
"Suamimu benar-benar tanggung jawab ya? ayah bangga dan bahagia kamu tidak salah dalam memilih pasangan. Semoga kehidupan kalian langgeng selamanya,' ucap sang ayah.
Anak hanya mengucap kata amin, walaupun di dalam hatinya penuh dengan gerutuan.
"Baik, itu hanya pencitraan di depan ayah dan ibu. Aku nggak tahu apakah kelak suamiku akan menepati janjinya dengan transfer setiap bulannya untuk kebutuhanku dan anak? ataukah akan bertindak seperti pada saat ada di Depok bersama, intinya hanya Allah yang tahu sifatnya," batinnya terus saja mengerutu.
Awal tinggal di kampung, suami kirim yah walaupun cuma satu Minggu tiga ratus ribu. Tetapi sang istri masih bisa bersyukur karena, suami masih ada itikad baik dan tanggung jawab. Walaupun uang tiga ratus ribu untuk satu Minggu itu tidaklah cukup.
Beberapa bulan kemudian, satu Minggu hanya kirim dua kali saja. Alasan untuk bayar kontrakan. Padahal istri tahu, jika kontrakan, suami tidak bayar sepenuhnya. Ia hanya bayar separuh saja, dan separuhnya di bayar oleh Bos dimana saat ini suaminya bekerja.
Pada saat suami menghubungi lewat panggilan telepon. Istri pun memberanikan diri mengatakan keluh kesahnya.
"Ayah, kenapa kok sekarang kirimnya jarang? padahal seminggu cuma tiga ratus ribu itu juga nggak cukup. Malah kini sebulan cuma enam ratus ribu? lantas sisa gaji ayah kemana?"
"Bukankah aku sudah sering katakan Jika tempat kerjaku sedang sepi pabriknya. Jadi garapan di pabrik nggak banyak. Gaji juga sedikit, marih untung aku kirim. Kamu pikir aku di sini hidup enak? aku makan seadanya saja. Aku belain kirim untukmu!"
Di dalam percakapan telpon suami terus saja berkilah dan membela diri jika gajinya sekarang nggak seperti dulu lagi. Istri pun berusaha positif tinking, walaupun kerap kali di dalam hatinya kurang percaya dengan apa yang dikatakan oleh, suaminya.
Dia pun kini tak mengandalkan suaminya sama sekali. Dia fokus dengan kerjanya sebagai seorang penulis. Bahkan ia rela tiap malam lembur dini hari dari jam satu malam hingga jam empat pagi.
Dia ingin mendapatkan gaji yang lumayan besar dari menulis novel. Di samping untuk kebutuhan sendiri, juga untuk kebutuhan ibunya. Ia ingin sekali bantu ekonomi orang tuanya.
Karena kebetulan kondisi ekonomi kurang mampu. Sang ayah hanya butuh bangunan, dan sang ibu seorang pedagang. Ibunya setiap hari membuat tiga macam jenis kue basah untuk di jual di pasar. Karena kebetulan, rumah dekat dengan pasar besar.
Satu platfrom untuk menulis sedang ada kendala. Yakni yang menghasilkan dolar. Karena tiba-tiba peraturan lama berubah dengan peraturan baru. Hingga ia terpaksa berhenti menulis di sana, karena hanya memakan waktu saja. Selama empat bulan di sana hanya dapat dua juta saja.
Berbeda pada saat platform masih dengan aturan lama. Selama tiga bulan bisa mendapatkan uang dua puluh juta rupiah.
"Sayang sekali, gaji dari aku menulis harus terkuras habis untuk kebutuhan sehari-hari. Coba saja, suamiku bisa untuk bekerja sama. Pasti pendapatan aku bisa digunakan untuk tabungan anak sekolah."
"Nggak apa-apa dech, yang terpenting saat ini aku san anakku selalu di beri kesehatan. Dan aku bisa sedikit membantu ekonomi ibu. Nggak tega juga, ibu punya angsuran dua bank,
sementara ia hanya berjuang sendiri. Belum untuk kebutuhan sehari-hari. Aku masih bisa bersyukur, walaupun suamiku seperti itu. Setidaknya aku masih diberi jalan sama Yang Kuasa, lewat menulis novel."
Istri terus saja berjuang dan berjuang demi kehidupan sendiri dan anak serta untuk membantu ibunya.
Tetapi selagi ia bersemangat menulis, satu platfrom yang ia tekuni kini juga sedang alami kendala. Dimana poinst menulis yang ia kumpulkan dengan susah payah, tiba-tiba berkurang.
Setiap harinya terus saja berkurang dan berkurang, istri mulai resah. Apakah pengurangan poinst ini akan mempengaruhi level lencana nya yang sudah lumayan tinggi.
Istri berpikir semakin berpikir, hingga sesak napasnya kambuh. Dadanya sakit selama beberapa hari. Ia pun menghubungi suaminya, dan menceritakan keluh kesahnya.
Istri meminta supaya suami tidak lagi mengandalkan dirinya. Karena kondisinya menulis sedang kacau. Tetapi malah suami menganjurkan supaya istri jangan boros dan harus lebih irit. Hal ini sangat menyakiti hati istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments