Setelah sejenak membeli nasi rames bersama dengan Fani, Ana pun mendorong kembali sepeda yang saat ini sedang di tumpangi oleh Fani arah pulang.
Namun pada saat di gang kecil, Ika yakni adik ipar Ana, istri dari Iko menyapanya dari depan pintu rumahnya," Fani, dari mana ya?"
"Ehh...Tete Ika...dali beli lames sama Sule. Te, nanti temanin ke indo malet ya?" ucap Fani dengan sangat antusiasnya.
"Memangnya ke Indomaret mau beli apa?" tanya Ika tersenyum ke Fani.
"Banyaklah... mau beli susu, beli kiyik-kiyik, beli loti," ucapnya dengan cedal.
"Ok, nanti ya kalau tante selesai sobek-sobek daun," ucap Ika.
Ika walaupun cuma menantu, dia yang selalu rajin membantu Ibu Ana yang berjualan kue basah. Setiap jam delapan, Ika selalu rutin menyobeki daun pisang untuk membungkus kue nagasari dan arem-arem.
Rutinitas yang selalu Ika jakdni setiap pagi hari dari hari Senin hingga hari Sabtu, jika hari Minggu ibu Ana libur dalam berdagang.
Setelah sejenak ngobrol dengan Ika, Ana pun mendorong sepedanya untuk segera kembali ke rumah.. Sesampainya di rumah, Fani langsung meraih kantung keresek yang berisi nasi bungkus dan ia seperti biasa pasti berlari terlebih dahulu menuju ke kamar.
Sementara Ana meletakkan kembali sepeda kecil yang barusan di tumpangi oleh Fani ke tempatnya semula. kemudian ia menyusui Fani yang saat ini sudah duduk di kasur kamar.
Seperti biasa, Ana menyalaksn acara televisi yakni serial kartun Upin dan Ipin kesukaan Fani. Acara yang selalu tayang di channel MNCTV, dimana satu channel tersebut tidak boleh di ganti dengan channel yang lain.
Seperti biasa, sebelum sarapan, Ana selalu mengajarkan doa sebelum makan.
Sambil sarapan di suapi oleh Ana, Fani sangat menikmati acara Upin dan Ipin. Sesekali ia tergelak dalam tawanya.
Setiap pagi Fani hanya sarapan sepuluh suap saja. Itupun suapan dengan sendok kecil. Minumnya susu kedelai yang tadi pagi di beli. Satu plastik bisa di tempatkan di dua gelas. Yang satu gelas untuk sarapan dan yang satu gelasnya lagi untuk nanti siang.
Fani tergolong susah dan hal minum air putih. Ia hanya menurut jika lagi saja. Jika siang hingga sore, Ana harus rajin membujuk Fani untuk sesekali minum air putih. Jika tidak seperti itu, Fani tidak akan mau minum air putih.
Acara sarapan selesai, Ana memberikan Fani vitamin untuk data tahan tubuh jika tidak Mboots ya Curcuma plus.
Selesai acara sarapan, Ana meluangkan waktunya sejenak untuk menulis novel kira-kira Ia dapat menulis seribu kata, sedangkan Fani dengan acara Tivinya sembari ia bermain dengan segala mainan yang ia punya.
Tepat jam delapan pagi, Ana mengajak Fani mandi pagi. Setelah itu Fani kembali bermain-main di dalam kamarnya. Sementara Ana memasak. Kadang kala, Fani datang dan mgerecokin aktivitas memasaknya.
"Bunda, lagi apa?" tanya Fani berlari kecil menghampiri Ana yang sedang sibuk memetik kangkung.
"Bunda, mau memasak sayur kangkung," ucap Ana sembari terus saja memetik kangkung.
"Bunda, Fani pangku ya? mau bantuin, Bunda."
Fani duduk di pangkuan Ana, sedangkan Ana tetap memetik kangkung tersebut. Setelah selesai, ia melanjutkan dengan bumbunya. Dan setelah bumbu terkelupas, barulah ia mencucinya.
Ana melakukan itu sembari terus memangku Fani. Hingga ibu Ana pulang dari pasar," Astaga... Ana! sudah berapa kali ibu katakan padamu. Biar ibu saja yang memasak, kamu urus Fani saja."
"Nggak apa-apa kok, Fani anteng nggak nakal."
Ucap Ana sembari memangku Fani sembari memotong bumbu.
"Nenek, Fani kan bantuin bunda memasak. Nggak apa-apa ya, Bun," ucap si kecil Fani.
"Iya, nggak apa-apa."
"Fani, sini sama nenek. Nenek punya jajan mau nggak?"
Fani pun yang sedang ada di dalam pangkuan Ana berlari ke arah neneknya yang sedang kecapean duduk sembari meluruskan kakinya di lantai keramik.
Seperti biasa setiap pagi hari jika nenek dari pasar untuk menarik uang dagangannya pada para pedagang yang ada di pasar, tak lupa ia selalu saja membeli jajanan atau roti di pasar untuk Fani.
Nenek membuat kue basah seperti naga sari, putu tegal, dan arem-arem di titipkan pada seluruh pedagang kue yang ada di pasar dekat rumahnya. Jika jam delapan pagi dan jam sepuluh pagi, nenek ke pasar untuk menarik uangnya.
Karena Nenek juga harus banting tulang bekerja sendiri, sementara si kakek jarang bekerja karena sering sakit-sakitan dan kerjaan dia hanya sebagai kuli bangunan saja, dimana tidak setiap hari ada.
Ana yang selalu berinisiatif membantu memberikan jatah bulanan pada ibunya dari hasil dia menulis.
Fani asik makan roti bersama neneknya sembari bercanda ria, sedangkan Ana sibuk memasak.
Beberapa menit setelah acara memasak selesai. Fani sedang asik di pelataran rumah bersama dengan Ika yang sibuk dengan daun pisangnya.
Fani ngoceh sama kemari sembari melihat si Ika sibuk menyobek daun pisang tersebut. Sementara Ana sibuk dengan cucian bajunya.
"An, punya ayah dan ibu nggak usah kamu cucikan. Biar nanti ibu cuci sendiri bajunya," tegur sang ibu pada saat melihat Ana mencuci.
"Nggak apa-apa, Bu. Toh hanya beberapa baju saja."
Ana bukanlah wanita yang pemalas. Ia sejak kecil sudah di didik untuk mandiri, hingga ia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. Dan ia juga tidak
pernah berkeluh kesah.
Ana mencuci pakaian hingga selesai, sementara Fani diam di pelataran rumah ada di Ika dan kakeknya. Kadang kala si kakek mengajak Fani berkeliling kampung dengan sepeda kecilnya.
Satu jam kemudian...
Barulah Ana dan Fani ke Indo Maret bersama dengan Ika. Ini sudah menjadi rutinitas, dua hari sekali membeli kebutuhan Fani dari susu dan cemilan.
Ana tidak pernah membiasakan Fani untuk jajan ciki atau jajan sembarangan seperti anak seusianya yang ada di kampungnya.
Bahkan Ana juga tidak pernah membiarkan Fani bermain di luaran sendirian. Ana juga tripikal wanita yang tak suka bergosip dengan para tetangga.
Dia lebih suka berdiam diri di dalam kamar dengan Fani. Jika waktu luang, ia melanjutkan menulisnya. Sambil menjaga Fani yang asik sibuk dengan mainannya.
Aktifitas pagi memang padat, hingga Ana hanya bisa menulis sesekali saja di sela kesibukannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Ana selalu rutin mencatat semua pengeluaran setiap harinya. Supaya suami tahu jika sehari itu tak cukup hanya dengan uang lima puluh ribu.
Karena selalu saja suami Ana meminta dirinya untuk irit. Uang tiga ratus ribu harus cukup untuk satu Minggu.
Jika dia memberikan rutin. Yang sering satu bulan henuayduw kali, Ana mendapatkan transferan dari suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments