Semakin Keterlaluan

Esok menjelang, suami sudah berencana akan pulang. Memang seperti itu dirinya, jika pulang ke rumah hanya satu hari saja. Dengan alasan dirinya tidak bisa berlama-lama karena bisa di pecat oleh Bosnya.

Ayah mertua meminta pada sang istri untuk memberikan bekal makanan untuk sang suami. Kesukaan apa hendaknya di belikan.

"Pulang nggak kasih duit, malah aku tekor. Selalu saja begini, aku harus beli bekal banyak untuk suami. Belum juga nantinya beli tiket bis pake uangku. Astaga...mau sampai kapan sih aku hidup seperti ini?" batin istri terus saja menggerutu sendiri.

Diantara iklhas atau tidak ikhlas dia melakukan itu semua. Karena suami selalu saja mengatakan dirinya itu boros dan tidak irit. Padahal yang membuat tidak irit yakni dirinya sendiri.

"Bun, minta uang seratus lima puluh ribu ya? karena tiket bis sedang mahal. Waktu dari Depok kemari saja, habis seratus empat puluh ribu."

Dengan tanpa ada rasa malu, suami menengadahkan tangannya meminta uang pada istri.

"Ayah ini bagaimana sih? pulang bukannya memberi uang, malah minta uang. Kapan kamu berubah sih, ayah? pakailah uang simpanan ayah. Katanya aku di suruh irit? jika seperti ini trus bagaimana bisa irit? ayah memberi aku seminggu jatah tiga ratus ribu. Itupun tidak setiap Minggu loh, ayah."

"Ayah hanya memberikan uang padaku yakni Minggu pertama dan kedua saja. Minggu ketiga tidak memberikan uang dengan alasan untuk bayar uang kontrakan. Minggu ke empat dengan alasan untuk perjalanan pulang kemari."

"Pastinya kan masih ada sisa uang untuk membeli tiket ke Depok. Masa iya uang sudah habis? sepertinya itu nggak mungkin dech."

Sang suami tak lantas membalas apa yang dikatakan oleh sang istri. Karena saat ini ia sedang ada di rumah mertuanya. Ia tak ingin mertuanya mendengarnya. Hingga ia menahan rasa marahnya dengan berkata lirih.

"Bun, tadi uang sudah ayah pake. Katanya ayahmu itu badannya pada pegal-pegal dan nggak sembuh-sembuh jadi ayah membelikan obat nyeri badan yang biasa ayah beli jika ada di Depok. Ayah juga membelikan burung untuk ayahmu karena tadi pagi kami sempat ke pasar burung dan ayah ingin membeli dengan uang sendiri, tapi nggak boleh sama aku."

Jika sudah seperti ini, sang istri hanya bisa mengusap dada seraya menarik napas panjang. Ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dan pada akhirnya memberikan uang pada suami sejumlah yang ia mau.

Di dalam hatinya, ia selalu saja berdoa supaya yang kuasa memberikannya bukan cuma kesabaran tetapi keihklasan dalam menghadapi sifat suaminya. Setelah mendapatkan uang dari istri, suami segera beranjak pergi ke terminal bis untuk membeli tiket ke Depok.

Selagi suami sedang ke terminal bis, sang ayah menghampirinya.

"Sayang banget ya, suamimu itu kalau pulang cuma satu hari satu malam di rumah. Padahal ayah senang loh kalau melihat ada suamimu di rumah. Jarang loh, ada seorang suami yang mau mencuci pakaian anak dan istrinya. Hanya suamimu saja yang seperti itu."

"Tadi ayah di belikan dua burung dan juga jamu untuk badan pegal linu. Jamu tapi berbentuk kapsul. Tadi ayah mencoba meminum satu kapsul, dan mujarab tuh."

"Coba saja di kampung ini ada kerjaan untuk suamimu ya? jadi dia tak usah kembali lagi ke Depok. Kalian tak usah lagi hidup terpisah seperti ini. Ayah selalu memikirkan kalian."

Sang istri hanya iya iya saja dalam merespon atau menanggapi apa yang Ayahnya katakan. Ia sama sekali tidak pernah cerita tentang keburukan suaminya, selama ini ia pendam sendiri di dalam hatinya.

Kadang kala malah suami yang suka mengadu mencari pembenaran diri. Mengatakan bahwa istri galak suka marah-marah. Hingga kerap kali sang ayah pun menasehatinya untuk berubah.

******

Sore menjelang, suami berpamitan kembali ke Depok untuk bekerja lagi. Ayah mertua terlihat sangat sedih melepaskan sang menantu kesayangan kembali merantau. Bahkan ia yang mengantarkan sang menantu ke terminal bus.

Sang mertua dengan sangat sabar menemani menantunya menunggu bis yang akan di tumpanginya datang. Hingga satu jam lamanya, barulah bus tersebut datang dan sang menantu langsung mencium punggung tangan ayah mertuanya.

Setelah itu ia langsung masuk ke dalam bus tersebut. Di dalam bus, sang menantu berdadah ria pada ayah mertuanya seraya menyunggingkankan senyuman. Barulah sang ayah mertua meninggalkan terminal bus tersebut dan segera melangkah ke tempat parkir motor dan melajukan motornya arah pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, ayah terus saja mengatakan jika dirinya iba melihat menantunya yang sangat baik tapi sudah tidak punya orang tua. Dan dua saudaranya yakni satu kakak dan satu adiknya terpisah jauh. Mereka berada di Kota Indramayu.

Baik sang ibu atau anak, hanya diam saja mendengar ocehan sang ayah. Hanya di dalam hatinya saja sang anak berani menggerutu.

"Jika ayah tahu bagaimana sifat asli suamiku, pasti ia akan sangat kecewa pada suamiku. Biarlah aku tutup ratap keburukan suamiku. Aku hanya berharap jika suatu saat nanti ada suati keajaiban yakni suamiku benar-benar bisa berubah dan selalu jujur padaku," batin sang istri.

Diantara senang atau tidak senang jika suami pulang. Karena ia senang, jika pulang suami bisa bercanda ria dengan anak. Nggak senangnya yah itu tadi, selalu saja minta uang untuk ongkos kembali ke tempat kerjanya.

Selama ini istri percaya jika suami itu tidak bertingkah yang macam-macam. Hanya saja ia tak bisa jujur pada istri tentang gajinya dan tabungannya.

Hingga kini, istri pun kerap kali berbohong dengan gaji menulisnya. Supaya sang suami tidak lagi mengandalkan dirinya dalam segaka hal.

Selama dalam bus, sang suami sengaja mematikan ponselnya. Ia memilih untuk tidur di dalam bus tersebut. Ia akan menghubungi istri jika sudah sampai di kontrakannya.

Perjalanan dari kampung istri ke Depok yang sering memakan waktu satu hari perjalanan. Hingga istri malas jika harus kembali ke Depok tinggal di kontrakan sempit yang hanya satu petak saja.

Istri bersedia ikut merantau lagi jika suami sudah mendapatkan kontrakan yang dua atau tiga petak. Supaya tidak terlalu pengap dan sempit.

Karena istri merasa kurang nyaman tinggal di kontrakan yang satu petak. Dimana cuma satu ruangan saja, untuk segala barang. Rasanya sempit sekali.

Sampai memasak pun di ruangan yang sama. Satu ruangan untuk tidur, memasak, dan meletakkan barang-barang seperti TV, almari pakaian, almari makan, kompor, mejikom.

Semua barang di tempatkan disatu ruangan tersebut, tidak di tempatkan di ruang terpisah. Karena memang ruangan hanya ada satu saja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!