Begitulah kehidupan rumah tangganya, memang perkenalan mereka juga begitu singkat. Hanya berkenalan di Facebook dan beberapa kali bertemu dalam empat bulan satu kali bertemu. Mereka bertemu hanya tiga kali dalam satu tahun.
Mereka berpacaran jarak jauh, hingga tidak begitu saling mengenal. Hanya satu keyakinan mereka saja, yakni saling cinta. Mereka pun pada akhirnya memutuskan untuk segera menikah.
Awal pernikahan memang berjalan lancar, tidak terlihat hal buruk pada sifat suami. Bahkan pada awal pernikahan, suami rela tinggal di kampung bersama istri.
Kebetulan orang tua istri punya rumah yang tidak di tempati yakni rumah warisan peninggalan dari Nenek sang ibu. Hanya saja suami tidak mendapatkan pekerjaan di kampung.
Walaupun ia telah berusaha berkali-kali mencari pekerjaan, tetapi tidak ada yang bersedia menerimanya. Suami selalu saja mendaftarkan diri jika ada lowongan sebagai sopir. Tetapi tidak ada yang mau menerimanya karena yang di utamakan sebagai sopir adalah orang yang benar-benar hapal wilayah kota tersebut.
Sedangkan suami hanya seorang pendatang dan belum hapal. Walaupun dia mengatakan bisa menggunakan aplikasi yang sedang kekinian seperti GPS, tetapi para pencari sopir tidak bersedia menerima dirinya.
Istri tidak tinggal diam, hingga pada akhirnya ia pun berdagang membuat beberapa jenis kue basah seperti yang di lakukan oleh ibu si istri.
"Padahal waktu itu jualanku lumayan laris manis. Banyak yang memesan kue bolu pisang buatanku. Tetapi sayangnya suamiku merasa tidak percaya diri. Dia benar-benar merasa dirinya sebagai suami tidak berguna karena hanya membantu usahaku saja, tanpa dia bekerja sendiri."
"Ah entahlah, aku jadi bingung dengannya. Setelah ia bekerja di Depok tempat kelahirannya, dia malah berubah menjadi orang yang sangat perhitungan atau pelit."
Terus saja sang istri melamun kala ingat awal mula pernikahan dirinya dengan sang suami. Banyak sekali yang dia pikirkan, terutama untuk masa depan sang anak yang saat ini berusia tiga tahun.
Istri berniat akan menyekolahkan anak jika sudah berusia empat tahun. Tetapi melihat kondisi ekonomi yang tidak stabil, ia pun semakin berpikir dan berpikir. Ia benar-benar bingung harus bagaimana caranya supaya suami tergugah jalan pikirannya hingga tidak seperti sekarang ini.
Mereka tinggal di kampung dari awal pernikahan hingga istri dinyatakan hamil dan melahirkan. Bahkan pada saat akan proses melahirkan, mereka sama sekali tidak ada tabungan. Hingga pada akhirnya berhutang pada bank dimana setiap bulan harus di angsur.
Hingga anak umur empat bulan, akhirnya suami memutuskan untuk ke Depok, karena kebetulan ada pekerjaan yang meyakinkan. Awalnya memang teman suami mengatakan gajinya besar. Hingga ia berani mengajak anak dan istri turut serta untuk merantau.
Tetapi setelah sampai di sana tidak sesuai dengan apa yang di rekomendasikan oleh teman suami. Gaji tak sesuai dengan apa yang diinginkan. Di tambah lagi, bari dua bulan hidup di rantau ada suatu tragedi dimana terjadi pandemi.
Drt drt drr drt
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel istri yang ternyata chat pesan dari suami.
[Bun, aku sudah sampai di kontrakan. Jaga anak kita dengan baik ya, aku langsung bekerja. Sampai di kontrakan tadi jam tiga dini hari.]
Setelah sang istri membaca chat pesan tersebut, ia pun lekas membalasnya.
[Ya, ayah. Hati-hati kerjanya, jaga diri baik-baik.]
Sang istri tidak bisa berkata banyak, karena pikiran ia sedang buntu. Ia benar-benar sedabg tidak bisa berpikir sama sekali. Bahkan untuk menulis lanjutan novelnya juga belum bisa.
Jika ia sedang banyak pikiran, pusing, marah, sedih, atau ngantuk. Ia sama sekali tidak bisa berhalu untuk cerita novelnya. Ia ingin cerita pada ibunya nggak tega.
"Ah sudahlah, jalani saja hidup ini seperti aliran air yang mengalir. Jika aku terus saja berpikir yang ada aku tidak bisa up date novelku. Kasihan kara readers yang selalu menunggu kelanjutan cerita novelku."
Istri berusaha melupakan kepedihan hidupnya. Ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, karena merugikan dirinya sendiri. Ia bekerja dengan otaknya, tetapi jika sedang tidak mut tau sedang memikirkan sesuatu hal. Yang ada jalan cerita buntu, otak sama sekali tak bisa di ajak untuk berpikir.
******
Beberapa bulan kemudian, anak sudah berumur tiga tahun. Tetapi kehidupan rumah tangga suami istri ini tidak ada perubahan sama sekali. Masih saja seperti awal pernikahan.
Suami pulang, karena anak ulang tahun. Walaupun hanya sekedar membeli kue ulang tahun saja. Untuk menyenangkan anak yang kerap kali suka berkata ingin membeli kue ulang tahun.
Karena si anak sudah pintar berbicara dan selalu ingin seperti para temannya yang suka mengundang di acar ulang tahun mereka.
"Sayang, nggak apa-apa ya? cuma beli kue saja dan di rayain cuma sama ayah bunda. Yang utama di beri kesehatan."
Sang anak pun mengangguk, dan sudah merasakan senang karena bisa ulang tahun walaupun hanya bersama orang tuanya saja.
Doa yang terbaik, bukan sebuah pesta yang hanya menghabiskan banyak uang saja. Apa lagi kondisi keuangan mereka juga belum stabil. Suami masih saja belum berubah. Istri pun tak ingin memikirkan hal itu.
Selama empat tahun membina rumah tangga, belum juga ada perubahan yang positif dari sang suami.
"Ayah, anak sudah berumur tiga tahun. Lantas apakah tabungan ayah sudah banyak?" tanya sang istri.
"Kok kamu tanya tabungan lagi? berapa kali aku katakan jika tak punya tabungan. Gaji nggak seberapa juga, cuma buat Kirim kamu dan makan aku di rantau."
Istri menjadi heran, karena omongan suami itu selalu saja berganti-ganti. Sekarang A besok B. Lelah rasa hati dan pikiran. Selalu saja istri hanya bisa diam dan diam saja. Hingga suami berkata.
"Bukannya kamu itu menulis novel dan Dalat gaji tiap bulan. Pasti kamu punya banyak tabungan kan?"
Mendengar apa yang dikatakan di katakan oleh suami membuat sang istri naik pitam," Ayah, sudah berapa kali aku katakan juga padamu bukan? jika jatah darimu tiga ratus ribu itu tidak cukup untukku, hingga uang dari hasil menulis selalu aku pakai. Apa perlu aku tunjukkan pembukuannya pada, ayah?"
Istri pun mengambil buku dimana setiap harinya istri selalu menulis pengeluaran dan pemasukan yang diberikan dari suami. Ia memang sekarang tak jujur dengan pendapatan dari menulis. Karena ia tahu sifat suami yang akan semakin mengandalkan dirinya. Jika tahu hasil menulis istri yang lumayan banyak. Pasti suami akan semakin lepas dari tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga.
Suami diam saja pada saat ia melihat pembukuan milik istri. Tak dapat berkata apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments