Tak terasa anak sudah berumur dua tahun, tapi kehidupan sepasang suami istri ini masih saja sulit, bahkan tidak bisa menabung sama sekali.
Walaupun suami mengatakan dirinya selalu menabung kala satu tahun yang lalu. Tetapi setiap istri bertanya tentang jumlah tabungan yang ia kumpulkan sudah mencapai berapa, yang ada pasti bukan suatu jawaban tapi hanyalah kemarahan saja.
"Ayah, nggak terasa putri kita sudah berumur dua tahun ya? aku sudah lama nggak pulang kampung, bagaimana kalau kita pulang kampung? toh kondisi sudah lumayan tidak gawat seperti waktu itu, jadi aku bisa pulang kampung," ucap sang istri kala sore hari.
Tetapi jawaban dari suami justru membuat sang istri sedih," pulang kan harus pakai duit, lah kita bisa makan saja itu sudah untung."
Sang istri semakin tak mengerti kenapa bisa suaminya mengatakan hal seperti itu, padahal yang ia tahu suami punya tabungan," loh setahun lalu kamu mengatakan setiap Minggu menyisihkan uang untuk menabung. Apa salahnya jika kita pakai sedikit saja untuk biaya transportasi ke kampungku?"
Sang suami menjadi naik pitam pada saat mendengar istrinya berkata seperti itu," tabungan dari Hongkong? apa kamu sudah amnesia, jika setiap hari rabu atau kamis selalu minta uang lagi dengan alasan uang sudah habis? itu yang aku kasih kan uang untuk tabungan!"
Padahal sang istri tidak meminta setiap minggunya, hanya sesekali saja. Istri lebih suka berhutang di warung karena setiap minta uang lagi, suami marah besar. Kembali lagi istri yang di salahkan. Hingga ia pun mengurungkan dirinya untuk meminta pulang kampung, walaupun sebenarnya ia sudah ingin sekali kembali ke kampung halaman.
Selama tinggal di rantau di sebuah kontrakan yang hanya satu petak saja. Istri tidak pernah keluyuran kemana-mana, apa lagi waktu itu di terpa pandemi. Hingga ia lebih suka berdiam diri di dalam kontrakan sempit saja.
Untuk mengisi waktu luang di saat si anak tidur siang, sang istri mulai berpikir mencari kesibukan apa. Hingga ia menemukan suatu aplikasi menulis di sebuah ponselnya.
"Wah aku baru tahu jika di ponsel ada istilah novel on line. Yang aku tahu novel hanya bisa di sewa saja. Kebetulan sekali, aku kan dulu pada saat sekolah suka sekali baca novel. Hem, dari pada suntuk mending aku baca-baca novel saja dech."
Sang istri menemukan satu aplikasi on line khusus untuk novel. Ia awalnya tertarik dengan aplikasi ini pada saat tak sengaja melihatnta melintas di beranda akun sosial medianya.
Dan ia tertarik hingga pada akhirnya menginstal satu aplikasi ini. Awalnya ia hanya tahu membsca saja, tetapi lambat laun ia tahu jika aplikasi ini bisa juga untuk menulis sebuah novel on line.
Dengan perlahan tapi pasti, ia menulis sebuah cerita yang ada di otaknya. Karangan indahnya tentang sekarang gadis miskin yang bertemu dengan seorang jodoh pria kaya raya yang awalnya mereka saling benci dan pada akhirnya jatuh cinta.
Setelah beberapa hari ia menulis dan mendapatkan beberapa ribu kata, ia iseng ingin mengajukan kontrak untuk novel pertamanya. Dan alhasil, novelnya pun di terima kontrak.
Satu bulan kemudian, istri mendapatkan hasil dari menulis. Tetapi hasil ini belum begitu banyak, karena pembaca baru sedikit. Sempat istri patah semangat, tetapi ia tak lantas mundur.
Satu aplikasi baru ia rambah, dan ia pun menulis di sana juga. Tetapi waktu itu istri sempat putus asa karena aturannya begitu ruwet. Puebi harus benar, typo tidak boleh ada dan kata-kata juga harus begitu menarik.
Sementara istri tidak pernah bersekolah di bidang sastra. Ia hanya autodidak dalam menulis saja. Karena hobby membacanya yang membuat dirinya ingin bisa menulis juga.
Karena dukungan dan arahan dari salah satu recommendernya. Akhirnya pengajuan novel istri di platform berbayar ini berhasil.
Istri begitu senang, apa lagi platform ini berbayar dengan memakai dolar. Satu bulan mendapatkan uang empat juta rupiah jika di rupiahkan.
Dan pada saat bulan ke dua ia mendapatkan tiga juta rupiah, dan pada saat bulan ketiga ia mendapatkan dua belas juta rupiah. Selama tiga bulan dia menulis di platform ini mendapatkan ada dua puluh juta.
Awalnya istri tidak akan bicara pada suami, tapi ia merasa itu tidak etis. Hingga ia cerita jika dirinya kini mempunyai uang dua puluh juta rupiah dari hasil menulis.
"Serius, bun? kamu tidak bercanda bukan? setahu ayah kamu hanya mainan ponsel saja, ternyata kamu mencari uang?"
Untuk meyakinkan suaminya, istri menunjukkan M-bankingnya dan hal ini membuat sang suami terperangah. Tetapi ia masih tidak percaya juga dan mengajaknya ke bank untuk mengecek kebenarannya.
Setelah tahu jika memang saat ini istri benar-benar mempunyai saldo rekening yang cukup banyak. Suami sudah tidak marah-marah lagi, tetapi sudah baik dan manis pada istri.
"Bun, ternyata kamu ini jenius pintar ya? kamu bilang menulis novel di dua platfrom? lantas mana hasil menulis kamu dari platform berbayar satunya?" tanya suami.
Istri memang awalnya menulis di platform yang berbayar rupiah, tetapi untuk sejenak berhenti karena banyak yang baca terapi belum begitu banyak sekali. Hingga hasil belum banyak.
Namun pada bulan berikutnya, istri melanjutkan lagi menulis di platform yang pertama, ia memberanikan diri untuk ikut perlombaan dengan tema berbagi cinta.
Dan sejak saat itu barulah istri mendapatkan uang dari platform berbayar yang pertama.
Suami bertambah senang, tetapi ia bukannya lebih semangat dalam bekerja tetapi malas-malasan. Ia malah sering kali minta uang ke istri untuk ini dan itu
Bukan hanya sekali dua kali ia meminta uang, bahkan berkali-kali.
"Bun, kamu kan punya uang ya. Bayar gih kontrakannya. Dan sesekali masak yang enak-enak. Dari awal kita kontrak, kamu nggak pernah masak enak buatku."
Istri menuruti kemauan suaminya. Tetapi lambat laun suami melonjak dan bahkan semakin ketergantungan padanya. Jika diminta jatah mingguan paling istri hanya gigit jari saja.
"Ayah, sudah beberapa minggu kamu nggak pernah loh kasih jatah mingguan? kenapa malah seolah lari dari tanggung jawab?"
Perkataan istri membuat suami naik pitam," kamu kan punya uang! katanya kamu menulis itu untuk bantu ekonomi suami, lantas setelah menghasilkan kenapa pelit? seolah uangmu uangmu dan uangku uangmu, kamu kok jadi serakah!"
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, istri pun menjelaskan. Jika uang yang ia hasilkan jika terus menerus di pakai akan habis. Istri ingin sekali punya usaha dan uang ingin di tabung untuk modal usaha di kampung. Tetapi Suami tak mau tak dengan penjelasan dari istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments