Memang sudah menjadi kebiasaan Hendy seperti ini. Walaupun Ana tak pernah memerintahkan dirinya untuk mencuci, pasti ia mencuci pakaian tersebut.
"Heran, waktu di Depok tidak seperti ini. Jika aku minta tolong untuk mencuci saja nggak mau. Lebih baik tidur dari pada menolong istri yang sedang kerepotan."
"Bahkan setiap aku sedang sakit juga tak pernah bisa untuk sejenak istirahat. Sesakit apapun pasti aku harus tetap sehat, karena jika tidak pekerjaan rumah terbengkalai dan pastinya aku rugi sendiri."
"Karena aku akan kerepotan sendiri, tidak ada yang membantuku. Walaupun ada suami di sisiku, ia lebih suka tidur jika tidak sedang bekerja."
"Ia tidak pernah mau di ganggu jika sedang ada di kontrakan. Semdna dua tahun aku menahan lara di kontrakan. Karena semua aku lakukan sendiri."
Selama suami mencuci, Ana mengajak Fani mencari sarapan seperti biasa. Fani naik sepeda dan Ana mendorongnya.
Beberapa menit kemudian, barulah Ana pulang ke rumah dan menenteng keresek berisikan sarapan dan cemilan untuk Fani dan juga Hendy.
Sementara Hendy sedang duduk di teras halaman bersama dengan ayah, Ana.
"Mas, sarapan dulu."
Hendy mengikuti langkah kaki Ana masuk ke dalam rumah. Sementara orang dapat menyiapkan sarapan, Hendy bermain sejenak dengan Fani. Barulah setelah Ana selesai menyiapkan sarapan tersebut, mereka sarapan bersama-sama.
Tidak susah bagi Ana untuk mengurus Fani yang sangat penurut karena makan apa pun mau. Umur baru tiga tahun, tetapi sudah terbiasa makan nasi rames dengan lauk sayur pedas.
Ana tidak pernah merasakan repot dalam mengurus Fani. Karena benar-benar anak yang baik. Fani tak pernah membuat Ana marah-marah.
"Bun, Fani suka loh sayul kangkungnya. Pides tapi enak (Bun, Fani suka sayur kangkungnya, pedes tapi enak)."
Sambil mulutnya sesekali suam suam karena kepedesan.
"Minum dulu, nanti pedasnya hilang."
Ana memberikan satu gelas susu kedelai.
Sudah menjadi rutinitas setiap paginya, Fani selalu minum susu kedelai hangat. Hampir setiap pagi, tidak pernah berhenti mengkonsumsi minuman tersebut.
Setelah selesai sarapan, Fai sejenak bermain dengan Hendy. Sementara Ana memasak dan menanak nasi. Karena ibunya sedang sibuk di pasar dengan dagangan kue basahnya.
Tak lupa Ana juga mencuci pakaian orang tuanya. Juga merapikan rumah dengan menyapu serta mengepel lantainya. Rutinitas pagi Ana memang seperti ini. Ia selalu membantu pekerjaan ibunya, karena ia tak mau ibunya kelelahan setelah sibuk mengurus dagangan kuenya.
Ayah Ana tak pernah suka dengan sarapan yang lain. Ia lebih suka sarapan makanan di rumah sendiri. Ia sabar menunggu masakan matang.
Satu jam berlalu...
Nai sudah matang, sayur dan lauk juga sudah matang. Rumah sudah bersih. Kini waktunya Ana memandikan Fani. Sambil memandikan Fani, sambil bercanda ria dengan si kecil.
Seperti biasa, Fani selalu bernyanyi jika sedang di mandikan. Fani anak yang lucu dan periang. Suka sekali dengan musik dan lagu.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Fani kembali bermain dengan Hendy.
"Fani, sepedaan yuk sama ayah."
Hendy menuntun Fani melangkah ke pelataran rumah dan meraih sepeda kecil milik Fani.
Seperginya Fani dan Hendy, Ana pun merapikan kamar dan lekas mandi. Karena jika tidak, akan mendapatkan teguran dari Fani.
Selalu saja mengatakan jika Ana bau bumbu dan Fani pasti akan meminta Ana untuk berganti pakaian.
"Wah, segar juga setelah mandi pagi. Badan terasa lebih fresh, dan ini kesempatanku untuk sejenak menulis karya. Mumpung Fani sedang bersama Mas Hendy."
Ana membuka ponselnya dan ia pun langsung menulis beberapa kata untuk salah satu karyanya. Karena kebetulan Ana tidak hanya membuat srui karya, tetaoi beberapa karya dan ia publish di berbagai aplikasi novel berbayar.
Tiga puluh menit kemudian..
Fani pulang bersama dengan Hendy. Sam seperti biasa, Hendy langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan sekejap saja ia sudah pulas dengan dengkurannya.
"Bun, lihat itu. Ayah mendengkul kaya semalam, bikin Fani nggak bisa bobok ( Ayah mendengkur kaya semalam, bikin Fani nggak bisa bobok.)
"Biar saja, Ayah kan cape," ucap Ana seraya memangku anak gadisnya.
Sejenak Ana bermain-main dengan Fani. Masak-masakan, hingga satu jam berlalu baru Fani meminta tidur. Ana pun ikut tidur sejenak karena rasa kantuk yang tidak bisa di hindarkan sama sekali. Mereka tidur hingga dua jam lamanya., baru bangun. Kecuali Hendy yang masih saja tidur nyenyak.
Rutinitas yang mungkin bagi orang lain membosankan tanpa ada satu hal yang berbeda dan indah. Tetapi ini sudah menjadi rutinitas dan kegiatan bagi Ana, dia sama sekali tidak pernah merasa bosan.
Ana lebih suka berdiam diri di rumah daripada bepergian kesana kemari hanya menghabiskan uang saja. Ia juga tidak suka bergosip ria dengan para tetangga yang hanya pada akhirnya menceritakan keburukan orang saja.
Siang menjelang, Fani tidur siang. Hendy sejak tidur setelah sarapan juga masih tidur. Ia paling betah kalau tidur, bisa dari pagi hingga menjelang Maghrib.
Berbeda dengan Ana, selagi anak tidur siang. Ia gunakan untuk kembali menulis. Karena ia sengaja menulis tidak hanya di dua aplikasi tetapi beberapa aplikasi dengan tema dan judul serta alir cerita yang berbeda.
Dia sengaja melakukan hal itu karena ingin tahu, dimana ada peruntungan untuk dirinya. Ana rajin sekali menulis walaupun di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dengan baby umur tiga tahun.
Dia pintar membagi waktunya, hingga tidak kerepotan. Semua pekerjaan terjangkau. Jika sakitpun ia tidak pernah berkeluh kesah. Ia selalu jalani aktifitas, tidak lantas rebahan terus di kasur.
"Semoga di aplikasi A dan B, ada rezeki juga buat anakku. Supaya aku bisa menabung untuk masa depan anakku. Karena tidak ada yang bisa aku harapkan sama sekali dari suamiku."
"Aku harus selalu tekun dan semangat menulis. Semoga yang Maha Kuasa selalu memberikan banyak ide di otakku, supaya aku bisa berkarya selamanya."
Terus saja Ana bergumam di dalam hatinya, ia kini tak mengandalkan suaminya karena percuma saja. Ia hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Ia selalu berusaha dan berusaha tanpa lelah dan tanpa putus asa.
Selagi asik melamun, Hendy terbangun," bun, aku di sini kan rasa lama satu Minggu. Kita sesekali main yuk sama Fani?"
"Main, memangnya kamu punya uang?" tanya Ana memicingkan alisnya.
"Pake uangmu lah, Bun. Kamu menulis pasti kan gajinya setiap bulan banyak. Kamu kan sudah menjadi bos," ucap Hendy.
"Amin, semoga saja secepatnya aku menjadi bos. Kamu kenapa jadi seperti ini ya? kamu pikir selamanya hasil menulis itu setiap bulannya banyak? hanya waktu itu saja. Pantas saja kamu andelin aku ya?" Ana kesal dengan perkataan Hendy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments